
Postur badan tinggi besar tersebut amat mencolok di koridor panjang Jingga High School, kakinya melangkah cepat meninggalkan empat orang lainnya yang tertinggal di belakang.
"Cilukbaaa, kamu enggak bisa lari dari aku, Ver!" Suara halus sekaligus penuh penekanan itu bersamaan muncul seorang gadis ramping yang melompat di belokan koridor hendak di lewati.
Silver termundur kaget. Grace. Dia tersenyum manis sambil mengapit lengan Silver menulikan telinga oleh makian menghunjam kemudian.
"Kangen." Belum sempat Grace memanyunkan bibir, dorongan kuat lebih dulu didapat nyaris saja terbaring di lantai, seandainya kehadiran Cleo terlambat menahan tubuh Grace.
Silver menatap dingin Grace, sepupunya paling sinting yang menjadi alasan Silver jarang pulang ke rumah.
"Aku dengar kalian memungut balita berasal dari jalanan, tapi bikin aku tercengang adalah Silver Jenggala yang pertama kali menemukan." Cara bertutur kata amat fasih, nada suara terkesan lembut untuk mereka yang menyimpulkan sekedar berbicara sebentar, tanpa tahu bisa jadi sebatas topeng.
"Ya, begitu lah, sayangku." Iyan menggantikan posisi Cleo, merangkul pundak Grace.
"Ngomong-ngomong Acasha bukan anak jalanan," lanjutnya.
"Namanya Acasha. Kenapa aku mencium para lelaki posesif ya?" Grace tergelak sambil berkedip genit. Luka berdehem, tiba terakhir berdiri di antara mereka yang membentuk lingkaran. Mata kelabunya tampak dingin tertuju lurus pada Grace.
Grace menciut.
Silver mengulum bibir dalam hati puas sedangkan Iyan buru-buru menjauh.
"Minggir, lo halangin jalan." Luka berbicara datar. Grace patuh langsung menepi walaupun begitu masih di dekat kelimanya. Raut muka Silver tambah muram. Cleo melakukan hal sama seperti Grace, baru menyadari mereka semua menghalangi para murid menuju kafeteria.
Cleo membuka mulut berniat menegur Kallen dan Silver yang masih di tempat berubahnurung, saat melihat Kallen mengacungkan ponsel seraya melompat kecil. Cleo dibuat malu jadinya.
"Halo, kepompong!" Kallen berseru tanpa peduli di mana keberadaannya kini, layar benda pipih tersebut dipenuhi wajah seorang balita yang tengah memicingkan mata.
Tahu-tahu Cleo sudah di samping Kallen karena diseret Iyan dengan kurang ajar.
"Ayah galak mana, Ayah?" Dari seberang sana sahutan imut terdengar ditiap telinga.
Kallen terbatuk.
"Mati." Kallen membalas kalem. "Kepompong habis mandi... rambutnya basah?" Lalu, hening cukup lama. Kallen tertegun tidak mungkin kan salah bicara.
Iyan mendapati Kallen mematung sontak merebut ponsel Kallen, menghampiri Silver yang saling bertatapan sengit dengan Grace.
Hingga detik ini tetap menjadi misteri mengapa Silver sangat membenci Grace.
"Entah susuk apa lo pakai sampai-sampai lo kaya malaikat di mata Aca," ujar Iyan terkekeh
geli.
Kembali lagi mereka berlima tidak tahu yang sebenarnya, bahwa Acasha punya maksud selalu mencari Silver.
mendarat di pipi Silver.
Ekspresi menyebalkan Silver meminta untuk digampar.
"Ayah sehat, kan?" Acasha tersenyum lebar.
"Ayah Luka mana?" tanyanya lirih.
"Lo maunya gue masuk rumah sakit gitu setelah Luka sukacita bogem mentah gue, huh?" Silver berkacak pinggang sebelah.
Detik ketiga Silver menelan ludah menyadari tatapan tajam mengarah padanya. "Gue sehat. Dia cari Luka." Silver memalingkan muka, menyerahkan ponsel Kallen yang cepat Iyan sambut.
*******
Sesuai janji Acasha terhadap Luka, dirinya akan ke sekolah Luka tepat menjelang sore di jam pulang tentu ditemani Melly.
"Penampilanku gak buat Ayah sakit mata, kan. Melly?" tanya Acasha sungguh-sungguh.
Bercermin ketiga kalinya. Di puncak kepala terpasang topi bundar putih bergambar kuda poni, hadiah Luka. Untuk itu Acasha sengaja memakainya, menegaskan kalau barang apapun Luka berikan selama baik pasti berguna.
"Nona sangat cantik." Melly mengangguk semangat memasukkan cermin kecil dia pegang sedari tadi ke tas, segera membantu Acasha turun dari mobil kemudian.
Acasha menyelipkan rambutnya. "Makasih, ini berkat Melly." Hati Acasha seketika dipenuhi bunga.
Wanita muda itu ikut tersipu. "Sama-sama." Berdiri berdampingan di pinggir jalan sembali memegang tangan mungil Acasha erat, sepasang mata Melly mengitari sekitar waspada.
"AYAH!" Acasha sengaja berteriak sekeras yang dia bisa, jika tidak berpegangnan Acasha telah pasti menerobos serampangan lagi pula jalanan lenggang.
Mengenali jelas sosok di depan gerbang gedung sekolah elite itu, anehnya tidak ada yang menyertai hanya satu orang gadis berseragam serupa di sisi Silver sedang mengusap rambut Silver meskipun terlihat sebentar sebab Silver menepisnya.
Keduanya saling mengobrol dengan pandangan kompak ke seberang jalan, Acasha berdiri.
Acasha melambaikan tangan.
Gadis asing itu berlari mendekati seiring jarak terhapus senyum Acasha pudar.
PLAK!
"No... nona."
"GRACE!"
Acasha tersungkur ke tanah, pipi kiri perih bukan main. Seumur hidup baru kali ini Acasha merasakan namanya kekerasan fisik.