The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 14 ~ Gadis Paling Sinting



Iyan menginap di rumah Silver meskipun harus mendengar segala umpatan meluncur di mulut Silver, telinganya lama-kelamaan telah terbiasa.


Silver sibuk mencaci Grace, entah di mana keberadaan Grace sekarang. Saat Iyan menerobos masuk setengah jam lalu yang berhasil membuat para pekerja Jenggala jantungan, Grace tidak ada di manapun. Iyan memeriksa dari ruangan CCTV hingga ke kamar gadis hiperaktif itu


"Dasar otak udang, sialan! Dia selalu salah tangkap maksud gue. Si monyet itu emang sengaja biar gue sama Luka musuhan!" Silver meremas rambut gondrongnya, banyak rencana buruk tersusun di benak Silver membalas Grace.


Iyan sibuk mengotak-atik seperangkat alat gim Silver di pojok kamar, langsung melirik lalu meringis menemukan sabetan panjang di punggung Silver.


Dua puluh kali cambukan. Sepatutnya Silver merasa beruntung Luka mengurangi hukumannya. Berkat Cleo, Silver tidak mendapatkan lima puluh kali cambukan.


"Gu... gue lebih pilih lima puluh kali tapi anak buah Luka bukan Lukanya yang cambuk punggung gue." Silver bergumam, mengeluh. lyan sontak tercengang pantas saja Silver amat kesakitan.


Tenaga Luka kadang di luar nalar satu kali pukulan mampu membuat musuh ketakutan, berpikir ribuan kali tetap maju.


Iyan pernah sparing dengan Luka begitu pun yang lain berakhir kalah dalam waktu kurang dari sepuluh menit.


"Udah gue peringatin sebelumnya jangan keterlaluan." Iyan mendelik jengkel, mengingat sosok balita mungil yang mengisi hari-harinya, keadaan bercucuran air mata dan pipi memerah cap lima jari.


"Bukan salah gue, bodoh. Salah Grace!" Silver berseru memaki, rahangnya mengeras benar-benar tak terima disalahkan.


"Bodo amat," sahut lyan ketus sambil memijit pelipis, kepalanya dibuat pusing. Dia menutup bibir rapat dan fokus pada dunia virtual.


Niat Iyan begitu tadinya.


Namun, hancur berantakan sebab tahu-tahu pintu kamar Silver terbuka lebar.


"Malam, Diarta!" Grace menyapa riang ke lyan disusul kaki jenjang Grace melangkah cepat menuju kasur besar Silver, tidak membiarkan sepupunya tersebut beringsut menjauh.


Raut wajah Silver bertambah muram sementara Iyan melongo mendapati Grace duduk bersila di sisi tubuh Silver yang berbaring tiarap.


Masalahnya Silver bertelanjang dada menyisakan bawahan celana di atas lutut. "Keluar atau gue cekik lo di sini." Silver mengancam serius.


Jika ada yang mengatakan bahwa mereka berlima agak sinting maka Iyan setuju, tapi jika ditanya siapa paling sinting jawabannya cuma satu yaitu Grace Jenggala.


Grace justru tersipu. Mengamati bentuk tubuh Silver yang tak pernah bosan di pandangi.


"Aku mau obatin kamu." Grace menyelipkan rambutnya. Iyan sadar situasi jauh dari kata baik buru-buru menghampiri keduanya.


"Grace, demi keselamatan bersama lebih baik lo pergi. Silver sakit butuh istirahat," ujarnya lembut.


Grace menyentak tangan Iyan yang memegangi pundaknya. "Kamu ngapain di sini, sialan? Sebagai teman pertama yang mengenal Silver lebih dulu harusnya kamu nggak biarin dia disiksa Luka!" Grace membentak.


Iyan berbalik, kembali duduk ke tempat semula meraih kasar gaming headset lalu memasangkan ke telinga. Kekacauan apapun nantinya, Iyan akan bertindak tuli sekaligus buta.


Silver tergelak sinis tanpa memandangi Grace, Silver berkata ketus. "Karena lo keras kepala bagus lah. Luka lagi cari lo."


Grace kebingungan sejenak, menoleh kemudian setelah mendengar benda jatuh, di ambang pintu kamar mandi sosok jangkung berhoodie hitam mengambil rubik di lantai.


Luka mendongak, tatapan saling bertemu Luka tersenyum miring. "Lo nggak sibuk, kan? Gue mau lo mampir ke rumah," ucapnya.


Grace menelan ludah bersiap melompat dan berlari, tetapi lengan kirinya sudah di cengkeram Silver.


*******


Acasha tidak kaget menemukan seragam lengkap peralatan sekolah memenuhi meja ruang tengah, ternyata Luka benar-benar serius. Untuk ke depan Acasha harus sedikit berjaga tutur kata.


"Kepompong lo persis kaya bunga matahari mekar." Kallen merapatkan seragam TK berwarna kuning di tangan ke tubuh mungil Acasha.


"Makasih, Ayah, bentukan Aca memang mirip bunga." Acasha berusaha tersenyum.


Kallen tertawa. Acasha memalingkan muka dan menemukan Cleo yang duduk di sofa tunggal seraya terpejam.


Acasha sontak berlari mendekati. "Ayaaahh!" Tiba di hadapan Cleo, jari-jari Acasha menoel sebelah kaki Cleo.


Dia membutuhkan asupan senyuman manis Cleo sekarang plus nada suara Cleo yang selalu terkesan candu.


Keinginan Acasha terwujud. Cleo mendudukkan Acasha ke pangkuannya. "Kenapa belum tidur?" Usai mengecup punggung tangan kecil Acasha, Cleo bertanya pelan.


Sebentar.


Apa Acasha mengganggu tidur Cleo? Setelah di teliti bawah mata Cleo tampak menghitam, bibirnya juga pucat.


Acasha menyentuh kening Cleo beralih ke leher, dingin. Acasha menghela napas lega mengira Cleo demam.


"Ayah, tidur." Acasha memijit lembut tangan Cleo hingga bahu.


Cleo terkekeh geli merasa terhibur dengan raut wajah serius sang balita. "Pengennya dipeluk dulu baru tidur." Tanpa menunggu lama, syarat Cleo terpenuhi tentu saja senang hati Acasha melaksanakannya.


Mereka berpelukan cukup lama, protesan Kallen pun Cleo dan Acasha abaikan.


Acasha hampir ikut terlelap, seandainya bunyi berdebuk tiba-tiba tidak mengagetkan.