
Ini, lukisan terjelek seabad. Pandangan lurus memandangi kanvas di depan.
Benar-benar tidak ada bakat, mengembuskan napas berat satu buket bunga mawar berukuran sedang sebagai objek terjatuh di lantai.
Kedua kaki mengenakan sepatu hitam tersebut menginjak bunganya hingga hancur.
"Udah, lah. Nyerah." Bisikan di samping telinga secara bersamaan tawa memecah kesenyapan. Menyadari beberapa orang menoleh terganggu berulah bibir itu bungkam.
"Lo enggak bakat menggambar, Ca. Menurut gue lebih pantas di sebut kursi terbalik hasil karya lo ini daripada bunga," lanjutnya.
Gadis yang dua bulan lalu merayakan ulang tahun besar-besaran ketujuh belas tahun itu, mengangguk setuju. Tidak tersinggung sama sekali.
Pada dasarnya memang benar. Siapapun melihat hasil lukisannya, Acasha yakin mereka akan sakit mata.
Acasha menunduk, mengamati tangan kanannya memegangi kuas. Jari-jari Acasha tidak lagi kecil sekaligus tampak rapuh seperti dulu, setidaknya masa sekarang... dapat di banggakan.
"Kita keluar. Di sini panas." Acasha menyahut lempeng meninggalkan begitu saja kegiatan isengnya.
Pihak lain mendengar tersenyum semringah agak terburu-buru menyamakan langkah kaki Acasha, merangkul pundak Acasha erat kemudian.
Acasha pasrah karena terbiasa. Dia memang pernah berucap akan punya teman perempuan asalkan mampu mengimbang kecerewetannya yang menjadi masalah Sashi Gemintang terlalu overdosis.
Sashi hiferaktif. Belum lagi mulutnya ceplas-ceplos.
"Tujuan kita lapangan." Sashi memeluk lengan Acasha.
"Ogah, ngapain?!" Acasha setengah menjerit, isi kepala Acasha mulai membayangkan Sashi bertindak di luar dugaan.
"Semangatin mereka lah. Tanding basket, meskipun cuma antar kelas gue yakin di lapangan utama rame banget."
Justru alasan itu, Acasha tak sudi berada di sana. Ramai dan berdempitan bagi Acasha neraka dunia.
"Class meeting buang-buang tenaga hanya
manusia yang punya energi lebih ikutan begituan. Gue mau pulang aja." Acasha bersiap memutar arah dari tempat keduanya berjalan, indra pendengar Acasha telah menangkap pekikan suporter di tribun lapangan Jingga High School.
Lokasi lapangan berada di tengah-tengah gedung.
"Enggak bisa!" Sashi mendadak memeluk Acasha. "Lo gak kasihan sama gue? Hidup gue menderita, Ca. Cuma di sekolah gue kegirangan itu pun kalau sama lo gue jadi lupa beban hidup," ujarnya melankolis.
Acasha memutar bola matanya. Alasan yang bahkan Acasha hafal intonasi suara Sashi yang hobi mendramatisasi.
"Lo harus semangatin dia." Sashi berkata penuh maksud dengan sengaja menekan kata terakhir.
Acasha sontak memicing. "Dia siapa yang lo maksud?" Acasha pura-pura tidak mengerti seraya mendorong pelan tubuh mungil Sashi menjauhinya.
Acasha kembali melanjutkan langkah, kali ini dia mengikuti kemauan Sashi. Lagi pula Acasha baru ingat, sudah berjanji pada cowok itu.
*******
Sesuai dugaan, tribun lumayan ramai tapi soal duduk berdempetan tidak terjadi.
Bangku barisan bagian Acasha hanya segilintir orang menduduki. Entah apa penyebabnya, bisa jadi karena Acasha atau Sashi semenjak tiba terus berteriak-teriak menyemangati.
Telinga orang-orang di sekeliling Sashi akan dibuat pengang.
"KATA SESEORANG DI SEBELAH GUE SEMANGAT, ASA. KALAU BOLANYA MASUK RING SATU KECUPAN CINTA DI PIPI!"
Acasha melotot, terlebih nama yang dipanggil Sashi di tengah lapangan langsung terjatuh dengan bola di pantulnya menggelinding.
Acasha berdiri, cepat-cepat membekap mulut Sashi. Menyeret Sashi keluar tribun demi keselamatan Acasha agar tidak malu habis-habisan.
Sashi pantang diam dalam jangka lama. Acasha menoleh sebentar ke lapangan, sebelah tangan yang lain melambai pada sosok laki-laki mengenakan kaos basket kebetulan ikut melihat
ke arahnya.
Dia... Yasa.
Mereka sungguhan tumbuh bersama. Acasha menelan ludah, sesuatu menamparnya bahwa Yasa semakin tampan dan bersinar tentunya
*******
"Lo kejam banget!"
"Makasih."
"Gue mau ke sana lagi. Gak papa sendirian."
Sashi menghentakkan kaki, membuntuti Acasha sepanjang koridor JHS.
"Hm, gue ikut lo pulang boleh, kan?" Sashi memasang raut wajah memelas. Tidak ada jawaban, namun Acasha berhenti tiba-tiba di hadapannya membuat Sashi nyaris menubruk punggung Acasha.
Acasha spontan menutup mukanya di antara sela jari mengintip, memastikan sosok berdiri bersandar di pilar sana bukan sosok yang sangat Acasha kenali. Mentang-mentang tempat ini pemiliknya orang itu, bisa keluar masuk seenaknya.
Ekspresi berubah cemberut, Acasha berlari mendekati. "Ngapain Ayah ke sini? Dasar, polusi udara!" ucapnya kejam.
Sashi meringis. Kalau orang lain kemungkinan sudah di tendang
"Ha... halo Bang Silver." Sashi menyapa gagap mengetahui iris coklat itu tertuju ke arahnya.
"Gue nggak pernah nikah sama Kakak lo."
Sashi menciut. "Maaf, Om." Sashi mundur menjaga jarak. Menyadari sepasang mata pria bertubuh kekar tersebut melotot. Sepertinya dia salah lagi.
Acasha terbahak.
"Jangan panggil Ayah gue Om, lebih baik panggil aki-aki. Cih, jomblo karatan." Acasha mengatai kembali Silver.
Silver bungkam.
Sashi menatap bergantian, tidak tahu harus bagaimana. Biasanya yang sering Sashi lihat mereka saling beradu mulut.
"Pulang." Silver berkata datar lalu berbalik badan. Sesaat Acasha menahan napas, mengigit sudut bibirnya Acasha menoleh sepenuhnya terhadap Sashi yang sontak menegak.
"Shi." Acasha berbisik.
"Iya?" Sashi menyahut penasaran. Air mukanya siap mendengarkan perkataan Acasha yang tampak serius.
"Muka gue nggak kenapa kenapa, kan? Ayah gue bentukannya kaya beruang itu banyak diam malah bikin gue merinding."
Sashi mendelik. "Yang lo sebut beruang... Ayah lo sendiri. Gue sebagai calon istri Kak Silver bakal sumpahin lo jadi batu lama-lama kayaknya."
Satu jitakan seketika mendarat di kening Sashi.
"Amit-amit gue punya nyokap sejenis lo.
Acasha mengibaskan rambut legamnya tepat mengenal wajah Sashi kemudian. "Besok kita ketemu lagi di tempat ini. Lo pulang sendirian, punya mobil kok cuma pajangan."
Acasha segera menyusul Silver mengabaikan sumpah serapah gadis berbadan mungil itu.
Mereka masih di area JHS. Belum ada tanda-tanda mesin mobil dinyalakan lalu keluar parkiran, justru keheningan yang melanda membawa Acasha bergerak gelisah.
Menduga Silver tersinggung karenanya juga tidak mungkin. Acasha termenung sambil mengusap dagunya, berpikir lekat-lekat.
"Jangan masang tampang bego di dekat gue."
"Jahatnya!"
Acasha menabok pelan bahu Silver.
"Aku kira Ayah marah sama aku."
Silver tersenyum lurus. Tangan terulur mengetuk puncak kepala Acasha.
"Melly bilang tadi pagi lo sempat nangis." Silver menyipit. "Jadi, kenapa dugong pendek ini nangis? Sok kecantikan banget."
Acasha menepisnya. "Gak ada hubungannya ya!" Nada suara Acasha sedikit kesal. "Aca kangen kita kumpul lagi, terakhir kali ketemu setengah bulan lalu."
"Maksud lo terakhir kali ketemu Kallen setengah bulan lalu?"
Acasha mengangguk lesu.
"Gue pastikan Kallen datang." Silver mengeluarkan ponsel dari saku kemeja kremnya. "Bilang aja lo lagi dalam kondisi sekarat, bukan Kallen aja yang datang yang lain pun langsung ninggalin pekerjaan mereka.
"Senyum Acasha pundar. Pukulannya pada Silver berubah kencang yang disambut gelak tawa. Sial, seharusnya Acasha tak mengharapkan apapun.
*******
Ada yang nunggu cerita ini update?
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕