The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 34 ~ Iri Hati



Luka memandangi aneh buku tebal dipangkuan, tidak tahu harus menanggapinya. Berbeda dengan sang Papa yang berdiri menjulang di depan Luka sedang tersenyum lebar.


"Nama Narasea ternyata cukup banyak di ibukota... Papa harap kamu menemukan orang yang selama ini kamu cari," ujar Ravindra.


Dari yang berumur muda hingga paling tua dengan nama tersemat Narasea, entah itu nama panjang berada di awal atau di tengah-tengah asalkan ada Narasea-nya, orang-orang Ravindra suruh berhasil mengambil foto dan identitas pribadi.


Padahal Luka sendiri tidak pernah meminta


apapun.


"Makasih, Pa." Luka menghargainya tulus. Tidak banyak yang tahu, Luka akan banyak bicara jika bersama orang tuanya.


Gemala di sisi brankar mengulurkan garpu yang di gulung pasta sekaligus potongan udang goreng ke dekat mulut Luka.


"Suapan terakhir. Satu jam lagi Dokter Nerios datang," ucap Gemala memberitahu.


Luka menurut lalu bergumam mengiyakan, pandangan kosongnya sesaat mengarah ke dinding putih kamar perawatannya di klinik psikiater terkenal kota. Alasan ini, membuat Luka memutuskan Acasha tinggal di kediaman Silver


Awalnya, Iyan menolak terang-terangan keputusan Luka, mengingat anggota penghuni rumah itu ada yang lebih sinting daripada Silver. Kemungkinan besar berkeinginan mencelakai Acasha, namun tanpa di ketahui Iyan, ide Luka itu berasal dari Silver sendiri yang menawarkan mansion Jenggala sebagai tempat tinggal Acasha sementara.


"Kalian belum makan siang, kan?" tanya Luka memandangi pergantian Ravindra dan Gemala.


"Nanti aja." Ravindra menepuk perutnya. "Lagi pula Papa masih kenyang. Mama kamu nih yang keras kepala udah tau punya riwayat maag." Telunjuk pria tersebut menunjuk sang istri yang seketika cemberut.


"Aku mau kalian keluar, mengisi perut setelah kenyang baru kembali ke sini," ujar Luka, nada suaranya kali ini terdengar sedikit memohon.


Gemala beranjak. "Oke, jangan khawatir. Para penjaga bayangan akan bersiaga di luar, kamu enggak sendirian, Lukara." Usai mengecup kening anak laki-lakinya, Gemala lebih dahulu keluar ruangan di susul Ravindra sebelum itu menepuk lembut puncak kepala Luka.


Hening.


Luka di tinggalkan sendirian terdiam lama dengan posisi duduk bersila setidaknya hampir sepuluh menit barulah Luka bergerak, kembali membuka halaman bukunya.


Lagi-lagi, tidak menemukan yang di cari. Se-berusaha apapun hasilnya tetap sama.


Tangan pucat Luka meremas kuat kertasnya, nyaris setengah halaman buku tersebut remuk kemudian.


Luka menunduk, kepalanya mendadak sakit dengan telinga berdengung setiap mengingat nama itu hanya berakhir membuat dia tersiksa


setengah mati.


"Mahkota ini aku buat dari tanganku sendiri dan akan selalu berada di puncak kepalamu."


"Untukku, Sea?


"Tentu saja, kamu tau jika mahkotanya jatuh berarti itu menandakan aku telah tiada."


"Aku tidak suka kamu berbicara hal menakutkan."


"Narasea, jika aku bisa kembali ke masa lalu lebih baik aku terlahir buta daripada melihat kehancuran yang sekarang kita alami...."


Napas Luka tersengal, piyama biru dongker melekat di tubuh Luka sudah basah oleh


keringat dingin.


Suara itu... Luka mengenali, tapi tidak dengan seseorang yang bersamanya.


Kalana. Suara Kalana.


Luka mengerang semakin mencoba mendengarkan pembicaraan asing itu, telinganya semakin berdenging.


Piring kosong sekaligus gelas di nakas jatuh berhamburan ke lantai. Luka sengaja melakukan, untuk berteriak saja apalagi menekan tombol darurat dia tidak mampu.


Luka sangat membenci ke-tidak berdayaannya ini. Mengigit kencang sudut bibir, Luka meringkuk situasi sekitar yang berubah berisik perlahan menghilang segalanya menjadi gelap gulita.


*******


Belum tengah malam Acasha malah menemukan rupa menyeramkan, anggap saja begitu karena seseorang yang mencegat langkahnya kini tertutupi masker wajah, teramat dempul.


"Kamu ngapain berada di danau? Danau ini punyaku, semua di mansion Jenggala punya Grace Jenggala!" ucapnya sinis.


Acasha menatap datar. "Aku jalan-jalan lalu berakhir di danau buatan milik Ayah, tempatnya indah. Sekarang aku mau balik ke kamar." Acasha menyahut kalem.


Grace mendelik.


Acasha tersenyum tipis. "Permisi, Kak Grace. Selamat malam. Semoga mimpi indah." Kali ini Acasha memanggil Grace dengan benar yang bahwasanya sangat jarang Acasha lakukan.


"Sebentar." Grace mencengkeram lengan kiri Acasha dengan mata menyipit mengarah ke satu titik. "Kalung berbandul mutiara melo melingkar di leher kamu itu dari siapa?" tanyanya dingin.


Acasha sontak menyentuh yang Grace maksud. "Hadiah ini tiga bulan yang lalu dari Ayah Silver. Memangnya kenapa?" Acasha dapati ekspresi muram Grace kemudian, sungguhan mengganggu Acasha seolah-olah Acasha telah bertindak fatal.


"Kamu ini...." Grace mengusap dagu lancipnya, bibir merah muda tersebut menyeringai samar. "Persis seperti ****** kecil yang pernah aku temui, sayangnya aku tidak bisa membuat kalian bertemu karena dia sudah mati. Mati aku cekik!" sambung Grace.


Acasha terperangah.


Mulut itu benar-benar kurang ajar. Acasha menepis tangan Grace, mengusap kulitnya yang bekas dicengkeram melalui ujung kaosnya.


"Aku sama sekali nggak peduli, silahkan berkomentar apapun. Kalau Kak Grace iri hati padaku, lebih baik minta sendiri ke Ayah asalkan dengan baik. Jangan sampai Ayah jijik duluan sebelum Kakak berucap," tutur Acasha.


Siapa yang menyangka firasat Iyan akan menjadi kenyataan.


Acasha tidak mengira pergerakan Grace, tak sempat menghindar. Badan kecil Acasha tiba-tiba di dorong kuat ke danau secara bersamaan Grace ikut menerjunkan diri.


Perempuan muda itu diam-diam tersenyum bahagia. Seorang pun tidak akan ada yang menolong, rencananya tersusun amat rapi.


"Penyihir sialan!" Acasha berseru murka sambil mengibaskan rambut basahnya yang menutupi muka.


Bugh


Kepalan jari Acasha menonjok tepat sebelah mata Grace.


Grace terkejut, meringis pelan.


"Kamu yang bocah sialan!" Grace membalas. Menjambak rambut Acasha, menyeret paksa Acasha ke tengah-tengah danau.


Jika sebelumnya Acasha terkesima karena danau buatan di belakang rumah besar Silver sangat indah apalagi air jernihnya memantulkan bulan purnama di atas sana, namun sekarang dipandangan Acasha beralih mengerikan.


Acasha sekuat tenaga melawan, kedua kaki Acasha menendang paha Grace.


"His, gembel ini terlalu brutal." Pada akhirnya Grace melepaskan Acasha, tapi tidak mengizinkan Acasha menjauh.


Grace bersedekap seraya berjalan maju, sepasang mata Grace berkilat bengis. "Ayo, kita bertarung! Rasanya aku ingin membuat kamu sekarat."


*******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕