
Mereka yang menghadapi meja kayu penuh hidangan makanan siap saji tersebut, langsung dibuat terkejut mendengar pengakuan Kallen. Tidak, sisakan satu orang pengecualian. Luka. Paling tenang seolah-olah telah mengetahui dari awal.
"Kok... bisa?" Iyan berkata gagap, menatap kaget Kallen kali ini fokus meredakan Kalana tengah terbatuk-batuk. Kallen mengusap punggung Kalana dengan raut wajah tegang.
"Itu pertanyaan paling bodoh yang pernah gue dengar." Silver berdecak lalu menatap hina Kallen.
"Ya, selamat. Lo bakal jadi sejarah karena udah
menikahi hewan peliharaan sendiri. Nanti gue bakal buat buku dengan judul Maji--"
"Ayah!" Acasha meninggikan suaranya, kedua tangan mengebrak meja hingga bergetar. Dia
berdiri menghadap Silver yang mematung.
Dalam keheningan, telunjuk Acasha tertuju pada Kalana yang tertunduk.
"Dia. Manusia. Bukan. Hewan. Peliharaan. Namanya. Kalana. Paham?" Acasha melotot berang, tidak tahu entah sampai kapan berhenti memperingatkan ini.
Bibir Silver terkantup rapat walaupun begitu kepalanya bergerak mengangguk dan Cleo menyaksikan di seberang tertawa pelan.
"Dia emang manusia, tapi gue rasa pantas untuk dibenci." celetuk Iyan tiba-tiba sambil membuang muka, menyadari semua orang di sekelilingnya menoleh ke arahnya kemudian.
Iyan bersedekap, jelas sekali matanya di balik kacamata menghindari menatap yang lain.
"Gue juga bingung, kenapa gue punya kebencian sama seseorang tanpa ada alasan di baliknya. Kadang, gue mikir karena gue nggak suka orang yang lemah. Sama sekali nggak berguna, bahkan melindungi diri sendiri perlu bantuan uluran tangan."
"Iyan." Kallen memanggil dingin. "Jaga bicara lo. Kalana lemah karena dia buta, terus lo mau dia kayak gimana? Kayak Acasha. Enggak mungkin, kan. Lo ikut buta." Kallen mengepalkan tangan.
Iyan tersenyum sinis. "Intinya gue nggak suka orang lemah di sekitar gue, selalu gagal total jaga diri. Jadi, daripada dia beban lebih baik mati," tutur Iyan. "Akhirnya kata-kata gue tahan keluar juga. Jujur, lega!"
Acasha tercekat. Baginya ini terlalu mengejutkan sekaligus tak pernah Acasha bayangan, mendengar ucapan kejam dari Iyan. Acasha menelan ludah, melirik Kalana yang semakin menunduk dengan bahu bergetar.
Kalana sudah pasti sakit hati. Acasha tersentak usai merasakan lengannya ditepuk beberapa kali.
"Api lilinnya padam," ujar Silver lirih.
Acasha bergumam mengiyakan. Kembali mendekatkan pemantik ke lilin merah yang membentuk angka tiga puluh.
Bukan ini yang Acasha mau, makan malam bersama atmosfernya seketika berubah
canggung dan muram. Niat Acasha menggertak Silver justru meluber ke mana-mana.
"Silahkan Ayah tiup." Acasha menyunggingkan senyuman samar. Namun, selama hampir lima menit berlalu Silver tidak melakukannya.
"Kenapa?" Acasha menatap heran Silver.
"Aca, Silver pengen tiup lilinnya sama-sama." Seakan mengerti mengapa Silver sedari tadi diam, Cleo menjelaskan tenang tanpa peduli delikan tajam dia dapatkan.
"Cepetan sebelum gue lempar kue itu." Luka berbisik dingin, satu tangan Luka berada di bahu Silver meremasnya. "Lo harus jaga bicara lo, kalau Acasha sama Kalana satu ruangan. Jangan sampai mulut lo menghina Kala.
Silver mengangguk patuh. Pada dasarnya kali ini dia bodoh, tidak menyadari cepat bahwa Acasha selalu marah jika ada yang berkata kasar terhadap Kalana.
"Ayo, kita tiup barengan. Semoga Ayah cepat nikah!" Kelopak mata Acasha terpejam sebentar, kelakuannya itu tidak lepas dari tatapan Silver dan empat orang lainnya.
*******
Menjelang tengah malam belum ada tanda-tanda mengantuk, kamar hotel jendela kaca tirainya di biarkan terbuka, hingga dari ranjang besar tersebut salah satu yang berbaring miring dapat memandangi lampu-lampu gedung di luar sana menerangi tengah kota.
"Kak Kala..." Acasha memecah keheningan, mengubah posisinya menjadi serupa dengan perempuan menemaninya tidur malam ini. Duduk bersandar di headboard ranjang.
"Iya, Nona." Kalana menyahut serak. Kegiatan Kalana meraba buku sebelumnya Kallen berikan terhenti.
Acasha meneliti lekat wajah Kalana, jemari Acasha lalu terulur menyentuh pipi tirus Kalana secara perlahan menuju bawah mata Kalana yang membengkak.
"Maafin semua sikap Ayah." Tebakan Acasha tidak meleset, Kalana pasti kebanyakan menangis. Kallen sempat membawa Kalana entah ke mana.
Di saat Acasha sedang sibuk memastikan keamanan kamar hotel yang akan mereka tinggali selama semalam, tahu-tahu Kallen bersama Kalana sudah di belakangnya. Kallen tidak mengatakan apapun cuma melambai ringan sebelum berbalik pergi.
"Saya udah biasa." Kalana menahan napas sesaat. Sepasang mata Kalana memandangi lurus dinding hotel. Gelap. Tapi dia merasakan pendingin kamar yang menusuk kulit. "Lagi pula saya memang pantas di benci."
"Jangan anggap serius kata-kata Ayah Iyan. Kak Kala paham betul gimana beracunnya lidah mereka." Acasha mengusap punggung tangan perempuan berbadan dua tersebut. "Bentar lagi aku bakal punya adik. Jujur, aku agak kaget." Acasha melanjutkan hati-hati.
"Saya juga kaget mendengarnya. Dua minggu lalu Kallen mengatakan itu di tengah kami sarapan." Kalana menggigit sudut bibir. "Saya takut, Nona." Air mata Kalana kembali mengalir.
Acasha terperangah.
"Saya nggak pernah mengharapkan apapun. Dulu, saya bahkan menyebut Kallen itu monster tanpa sepengatahuan Kallen tentunya." Kalana tergelak hambar. Jika jeli mendengarkan, mampu mengartikan ada kesedihan di sana. "Itu dulu. Mungkin, sekarang udah beda."
"Sekarang udah beda?" Acasha bergumam mengulangi. Penjelasan Kalana membuat Acasha bingung.
"Saya jatuh cinta sama Kallen." Kalana mengungkapkan teramat lirih sambil meraih tangan Acasha, menggengam erat kemudian. "Tapi lubuk hati saya seakan berbisik itu enggak pantas."
Acasha bungkam. Telinganya mendengarkan baik-baik, Kalana mengeluarkan semua yang selama ini di tahan bertahun-tahun.
"Maaf ..." Pembicaraan panjang tersebut di akhiri dengan satu kata Kalana yang membawa Acasha akhirnya berkedip terkejut.
"Apa?" Acasha memandangi rumit Kalana.
"Saya hanya ingin minta maaf. Nona Acasha selalu membela saya, padahal seharusnya Nona nggak melakukan itu." Punya firasat pihak lain akan menyangkal, Kalana kembali meneruskan. "Bahkan saya bersedia di tiap kita bertemu, saya meminta maaf."
Acasha tersenyum. Namun, tidak sampai mata.
m engan sengaja Acasha berkata. "Kenapa Kak Kala harus memilih kata maaf, sepantasnya terima kasih, kan?" tanyanya, nada suara Acasha sedikit main-main.
"Entah, saya merasa cuma maaf yang baik bukan terima kasih." Kalana menyahut cepat. Kepalanya bersandar di pundak Acasha. Acasha tidak menolak, karena mereka memang sudah sangat akrab satu sama lain. "Saya benar-benar minta maaf, Nona."
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕