
Tepat, setelah Acasha membuka kotak itu sepenuhnya. Sesuatu mengejutkan terjadi.
Isi di dalam kotak terlempar ke lantai, secara
bersamaan jantung Acasha berdebar kencang.
.Demi apapun isi kotak itu sungguh mengerikan.
Untuk pertama kalinya melihat langsung di depan mata... kepala tanpa tubuh. Sekali lagi, kepala tanpa tubuh! Sebatas leher saja.
Acasha syok apalagi tindakan Melly selanjutnya membuat Acasha tidak mampu lagi berkata-kata, saat Melly mengambil cepat potongan tubuh tersebut lalu memasukkan
kembali ke kotak.
"Non---"
Sambil membekap mulut, Acasha berlari ke pojok ruangan tiba di tempat sampah Acasha muntah.
"Bang Utan," gumamnya bergidik. Acasha mengetahui dari ingatan dan mustahil salah. Rupa itu jelas kepala preman yang sering menyiksa Acasha kecil.
Siapa yang telah membunuh Bang Utan dengan keadaan mengenaskan seperti itu? Acasha mengerjap, bukan kah tertulis nama Riyan Diarta berarti Iyan.
Acasha mendadak lemas, pada dasarnya Acasha belum siap oleh kejutan Iyan. Sebelum tubuh mungil Acasha limbung kehadiran seseorang di belakang Acasha lebih dulu menahan.
"Ayah!" Acasha mengenali aroma parfum
memenuhi hidungnya kini.
Panggilan Acasha dibalas gumaman. Luka menyandarkan kepala Acasha ke dadanya dan melipat kaki memangku Acasha.
"Lo harus terbiasa." Luka berbisik, sebelah
tangan Luka sudah memegang gelas berisi air putih mendekatkan ke mulut sang balita. "Minum. Lo harus terbiasa, Aca. Kalau lo takut gue bakal buang lo..." lanjutnya dingin.
Acasha menurut. Akhirnya mereka saling bicara, setelah kejadian tadi siang kelima orang itu kompak bungkam. Tidak menempeli Acasha atau sebaliknya karena Acasha juga ikut kesal.
Pandangan Acasha sesaat kosong. Dibuang? Acasha mana mau. "Jangan buang aku, Ayah. Aca pengen terus bersama kalian."
Luka tersenyum samar tanpa di ketahui siapapun, detik ketiga Luka mengusap rambut tipis Acasha.
"Tapi gue butuh bukti." Luka menoleh sekilas pada Melly yang berdiri mendengarkan, sadar
ata kelabu keturunan tunggal Natapraja tertuju terhadap kotak di pelukannya. Melly menghampiri.
"Letakin hadapan kami, buka. Ambil garpu,"
titah Luka datar.
Melly melaksanakan patuh.
Acasha menelan ludah tentu Acasha paham yang Luka katakan. Detik ini, kepala itu tepat di
antara dua kaki Acasha.
"Jangan gemetaran," katanya lalu menyerahkan garpu ke telapak tangan kecil Acasha. "Gue sebagai Ayah lo bakal ajarin gimana caranya
Acasha tertegun sedikit pun tidak pernah menduga akan ada di mana Luka menyebut dirinya sendiri Ayah. Bola mata Acasha berkaca-kaca karena terharu walaupun disituasi tegang.
"Dia yang selalu siksa lo, kan?" "I-ya, Ayah."
"Pantasnya diapain?"
"Ma... mata Bang Utan tertutup berarti udah mati."
Luka menempelkan dagu ke bahu Acasha, tanpa tahu jika Acasha menahan diri tidak mendorong wajah Luka ujung-ujungnya Acasha hanya mampu meratapi beban di bahu kanannya.
"Sekarang tusuk bagian ini!" Luka mengarahkan garpu lancip di genggaman Acasha ke bola mata Bang Utan, di sekitaran terdapat darah sudah mengering.
"Aca mau tidur, Ayah." Acasha menyahut parau sembari mencoba menahan tangan tetap diam, tapi gagal justru semakin gemetaran.
Tidak ada jawaban. Acasha tidak berani bergerak, kalau Acasha benar-benar mencongkel mata potongan mayat di hadapannya Acasha yakin tak akan bisa tidur berhari-hari.
Sejujurnya Acasha masih belum siap kelima lelaki yang selalu Acasha panggil Ayah mempunyai sikap menyimpang, mereka sungguhan definisi agak sinting sekaligus mengerikan.
"Lihat baik-baik, jadi nunduk." Luka buka suara setelah keheningan menyapa, belum sempat sepuluh detik tahu-tahu garpunya telah berpindah ke tangan Luka.
Bagaimanapun air bah bedanya berwarna merah bercampur bau anyir serta busuk. Luka menusuk teramat dalam pipi potongan badan pimpinan preman itu, darah menyembur deras hingga mengenai wajah keduanya.
*******
Cleo berjalan tenang mengikuti asisten pribadinya memasuki gang setapak, di setiap langkah ada beberapa tumpukan sampah. Tidak ada ekspresi terganggu di wajah lembut itu, namun berbeda dengan pria paruh baya di depan Cleo ketar-ketir karenanya.
Tiba di tujuan, Cleo memasuki rumah sederhana seraya menyapu pandangan. Mengamati lantai yang berserakan alat-alat masak belum di cuci dan tabung gas.
Langkah kaki Cleo baru berhenti di samping anak laki-laki tengah sibuk menggambar.
"Yasa ...."
Sang punya nama mendongak, terkejut.
Cleo mengerutkan kening bukan kah kedatangannya sudah di beritahu, jadi mengapa raut wajah anak ini sampai tercengang begitu, mengabaikan reaksi Yasa. Cleo berlutut.
"Sendirian?" tanyanya halus.
Yasa tampak ketakutan.
Cleo menunggu dengan sabar.
"Aba ... sama Mama ... ke pasar." Yasa menyahut tergagap, matanya memerah hendak menangis.
"Kakak ke sini mau minta maaf." Tangan Cleo terulur membelai puncak kepala Yasa. "Maafin temen gue udah mukul lo, dia kelepasan. Belum di ikat tali soalnya." Cleo melanjutkan tanpa beban, tertawa pelan membayangkan Silver sungguhan terikat bedanya bukan tali melainkan rantai.
Yasa terdiam.
"Seragam baru dan buku dongeng, anggap ini sebagai hadiah pertemanan kalian." Cleo menyerahkan paper bag berukuran sedang yang disambut Yasa ragu. "Lo boleh temenan sama Acasha."
"Acasha?" Yasa berujar lirih. "Boleh temenan?" Jari-jari Yasa saling meremas.
Cleo tersenyum. "Apapun kemauan Aca bakal gue turutin." Mengamati Yasa lekat, senyuman Cleo bertambah lebar. "Meskipun lo miskin itu bukan masalah besar."