The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 36 ~ Nyawa Bergantung Di Ujung Kuku



Dari sekali lihat semua orang tahu kalau anak tunggal Natapraja itu datang tergesa-gesa. Rambut hitamnya masih berantakan dengan piyama polos yang kusut, sepasang mata kelabu tersebut tampak sayu.


Perempuan muda di tengah ruangan terikat rantai sempat menatap kagum. Penampilan Luka yang jauh dari biasanya justru membawa kesan menggiurkan. Luka tampan sekaligus semakin seksi.


Tapi setelah di pikir-pikir sang sepupu tetap nomor satu.


"Jujur, aku senang kamu menjadikanku seorang prioritas. Ini pertama kalinya dari kalian berlima!" Grace mengungkapkan dengan binaran ceria.


Orang-orang di berikan perintah membawa Grace ke hadapan Luka yang berjaga di ambang pintu ruang bawah tanah kompak memasang raut wajah masam.


"Gara-gara perbuatan lo agenda berobat gue harus dipangkas." Luka berkata dingin sambil berjongkok.


"Oh, fobia terus panik attack kamu itu." Grace memiringkan kepalanya dengan susah payah merangkak kemudian, menghapus jarak yang tercipta. "Udah rahasia umum di sepuluh klan dan itu menjadi alasan kamu terlihat lemah." Grace melanjutkan tenang.


Grace tersenyum lebar. Tangannya mencoba bergerak, namun selalu berakhir kegagalan. Ikatan rantai melilit tubuh ramping Grace teramat kencang.


"Kamu mau bunuh aku, kan?”


Luka membisu.


Grace mulai mengoceh.


"Lukara, kamu mana bisa bunuh aku karena aku sepupu Silver. Kalau di masa depan nanti Silver mati ya, amit-amit sebenarnya. Aku pasti yang menjadi penerus Jenggala."


"Padahal gue sedikit berharap lojera, tapi kayaknya mustahil," sahut Luka berbisik datar, mengamati Grace dari atas hingga bawah.


"Emang aku salah? Aku cuma melaksanakan tugas kalian seperti biasa yaitu mengenyahkan sesuatu yang nggak layak di pandang, semacam anak kecil kalian panggil Acasha itu." Grace memandangi polos Luka.


Luka menunduk, tangannya memainkan jari-jari lentik Grace yang tanpa kuteks. Berbeda sekali dengan sang Mama hampir selalu mewarnai kuku. Luka suka melihatnya, apalagi ketika telapak tangan sang Mama mengusap rambutnya.


Luka merasa nyaman sekaligus tenang.


"Silver itu punya sembilan nyawa persis kaya kucing liar. Ketembak di punggung, Silver masih bisa lawan musuh-musuhnya cuma lewat kaki." Sebelah tangan Luka meraih sesuatu dari belakang tubuhnya. "Kepala itu hancur Silver injak-injak, yang lain lebih suka cepat sementara gue sukanya secara perlahan."


Luka mendongak, membalas tatapan Grace yang membuat Grace merinding setelahnya.


Grace menelan ludah hendak beringsut mundur, namun kaki Luka setengah berada di pahanya. Menekan kuat.


"Gue dengar, lo beberapa kali mencoba menerebos kamar Silver." Mata Luka berkilat aneh. "Katanya lo punya keinginan besar untuk memperkosa Silver."


Grace spontan mengangguk cepat. "Kenapa Kamu mau bantuin aku? Kamu cukup culik Silver, sisanya biar tugas aku." Dengan bantuan Luka, segalanya akan sangat mudah. Selama ini semua cara Grace lakukan sekedar mendapatkan kegagalan.


Jika Luka bersedia mengulurkan tangan maka Grace yakin seratus persen berhasil.


"Oke." Luka tersenyum miring. "Hasrat seksual lo, Grace. Gue pastikan berakhir ke orang yang tepat."


Grace mengerjap bingung, telinganya malah menangkap lain ucapan Luka.


"Maksud kamu?"


Bibir Luka bungkam hanya perbuatan yang menjawab semuanya, termasuk Luka diam-diam sudah memotong tiga jari Grace hingga terputus, teronggok di lantai kemudian.


Grace terbelalak, mengikuti arah yang sedang Luka lihat.


"Ternyata pengaruh Silver terlalu kuat sampai-sampai lo nggak sadar itu. Apa sekarang udah sakit?" tanyanya lirih.


Grace menahan napas, tiga jemari kanan menghilang menyisakan dua dan darah mengalir membasahi lantai.


Grace menatap sengit Luka. "Dasar bajingan.... Grace mengerang kesakitan. "Ka... kalau aku tahu balasannya seperti ini, lebih baik aku tusuk jantung si gembel itu daripada membuat dia tenggelam!"


Grace nyaris menyeruduk dada Luka, seandainya Nares menjaga jarak dua langkah dibalik punggung Luka gagal mencegah.


Nares tertegun sesaat mendapati Luka berakhir jatuh terduduk dengan posisi Nares berada di tengah-tengah keduanya.


"Gue pengen potong jari kaki lo, Grace." Luka mencengkeram erat gunting rumput di pegangnya. "Tapi nanti aja, soalnya pasangan seksual lo udah kelamaan nunggu."


Grace terkejut.


Luka menoleh ke pintu, melalui isyarat tangan... seorang pria berperawakan tinggi besar datang menghampiri.


"Malvior Anarta, umur tiga puluh tahun, terdiagnosis human immunodeficiency virus." Nares buru-buru menjelaskan menyadari lirikan mata Luka mengarah kepadanya.


"Bangsat. Kamu nggak akan bisa bersikap seenaknya sama aku! Najis, aku maunya Silver bukan sampah busuk ini. Keparat kamu!" Grace meraung marah.


Kali ini giliran Luka yang bergeser mendekati Grace, sebelah tangan Luka menggunakan sarung tangan meremas dagu Grace.


"Semuanya udah gue siapin, tugas lo sebatas mengangkang di hadapan dia." Luka berbisik licik. "Akhir pekan kita ketemu lagi, sekalian gue ajak Silver."


*******


Lilin aromaterapi lavender di tempatnya sekarang, sudah tidak asing bagi Kalana. Biasanya jika Kallen ke rumah Luka, mau tak mau Kalana wajib ikut. Kondisi badan yang lemas pun, Kallen tetap menyeretnya.


"Kalana."


Si punya nama sontak menegang. Kelabakan menolehkan kepala terlalu banyak melamun dia tidak tahu di mana posisi Luka.


"Gue bukan kanibal jadi jangan panik." Luka mengerutkan kening merasa terganggu oleh reaksi berlebihan Kalana. "Lo kenal Narasea?" tanyanya langsung.


"S-siapa?" Kalana berusaha tenang, perasaan tak nyaman seketika meliputinya. Tidak pernah terbayangkan sedikit pun akan ada dia dan Luka berduaan dalam satu ruangan.


"Lo kenal Narasea?"


"Narasea?"


"Iya."


Kalana menggeleng.


"Aku nggak kenal."


"Kallen bilang lo sering baca novel. Hafalin ini, gue kasih waktu sepuluh menit." Luka meletakkan buku tipis di depan Kalana.


Kalana menurut, meraba huruf braille di buku. Untungnya pendek.


"Aku udah hafal." Kalana memecah keheningan yang tercipta. Dia ingin pergi, mendatangi Kallen secepatnya pilihan tepat kali ini.


"Ulangi bacaan yang dibuku." Luka memerintah dingin, memandang lurus Kalana.


"Narasea, jika aku bisa kembali ke masa lalu lebih baik aku terlahir buta daripada melihat kehancuran yang sekarang kita alami," ujarnya.


Luka menunduk sambil memijit kening. Sangat persis dengan suara terdengar di telinganya sebelum pingsan.


"Coba lo ingat baik-baik nama Narasea itu. Lo kenal, kan?"


"Aku nggak kenal."


"Satu panti asuhan?"


Kalana menggeleng lemah dengan jemari saling bertautan. "Seingatku nggak ada namanya Narasea di panti." Kalana mendongak. "Tapi Ibu panti pernah bilang, tiap aku demam aku bakal mengigau menyebut nama Narasea..." lanjutnya.


*******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕