
Acasha tidak suka situasi di mana dirinya hanya duduk berduaan dengan Silver, sengaja dipisahkan dari anggota Hades lain yang baru casha ketahui berjumlah lima belas orang termasuk inti.
Bahkan sekarang Luka memilih memainkan rubik dengan earphone di telinga, benar-benar menjengkelkan.
Cleo? Menghilang, seolah ketidak hadiran mereka itu bergiliran, sedangkan Kallen dan Iyan sibuk bersama kertas berukuran besar terbentang di meja bundar, kompak menunjukkan raut wajah serius.
Tak.
Acasha meringis. Barusan Silver menjitak keningnya disusul pandangan Acasha mengamati ketiga orang tersebut dihalangi oleh tubuh besar Silver.
"Gimana?"
"Ayah...."
Silver berdecak, menangkup cepat pipi Acasha menyadari si balita hendak menghindar.
"Gimana markas barunya?" tanya Silver ketus. Acasha tertegun tak menduga Silver ingin mengetahui pendapat dia tentang markas baru Hades yang kini tempat bernaung mereka, tidak ada lagi bangunan terbengkalai apalagi debu semen berceceran.
Tempat ini sudah amat manusiawi bahkan terbilang mewah. Di pinggir jalan raya berkedok restoran dan bar di lantai dua, padahal tidak tahu saja pemilik dan beberapa para pekerjanya bukan orang sembarangan.
"Maksudnya, Ayah?" Acasha pura-pura gagal paham membalas polos tatapan Silver.
"Rumahnya bagus, kan?" Silver mendelik sambil menekan pipi Acasha.
Dasar setan satu sialan!
Acasha berusaha menyentak tangan Silver. "Bagus, Ayah ... sakit." Dalam hati Acasha terus mengutuk kelakuan Silver.
"Abisnya muka lo cocok di tindas," ujar Silver santai.
Acasha mengigit bibir dalam, menahan diri tetap tenang. Jujur saja ingin menyeruduk kepala Silver. "Gue punya panggilan kesayangan."
Seakan berdiam diri dapat menyiksa, Silver kembali berulah bedanya sekarang memainkan rambut Acasha yang terkepang hasil buatan Melly.
Tidak usah.
Acasha sudah menebak panggilan itu cuma membawanya emosi.
"Entah kenapa kalau liat lo, gue selalu ingat hewan laut yang namanya dugong jadi mulai detik ini panggilan kesayangan gue buat lo adalah dugong." Acasha memandangi datar Silver yang tertawa puas.
"Suka, kan?" Silver menunduk, keningnya berkerut menyadari sorot mata si balita yang tampak kesal.
"Suka nggak suka. Lo harus terima, dasar gembel!"
krak.
"Gak suka, Lebih suka kepompong." Keduanya tidak ada yang baik, nanti jika diberikan kesempatan Acasha akan mengigit lengan Kallen juga. Kenapa mereka selalu memanggil dia seenaknya.
"Bangsat!"
"Lo yang bangsat. Dasar curut!" Cuma gigitan kecil dari balita yang giginya mungil harus kah Silver selebay itu padahal Acasha pernah mendapati kaki Silver dibebat perban karena terkena timah panas yang diperbuat musuh Hades. Acasha beranjak lebih baik bersama Luka, baru berlari setengah ruangan tahu-tahu bagian belakang kausnya tertarik. Kaki Acasha terseret mengikuti sang pelaku.
"Lepas!"
Silver berkacak pinggang sebelah. "Khusus seharian ini lo sama gue," ujarnya.
Mentang-mentang hari libur Silver mengambil
keuntungan menindas Acasha tentu Acasha tak akan membiarkan, satu-satunya cara membebaskan diri dia perlu menempeli Luka.
"AYAH!" Acasha menjerit sambil menunjuk-nunjuk Silver.
"Tolong ada monster jelek!" Kepala Acasha menoleh pada Luka yang juga ikut menatap ke pojok ruangan. Teriakan Acasha sukses menarik perhatian.
Pada akhirnya Luka berjalan menghampiri. "Aca sama gue," ucap Luka tepat di hadapan Silver lalu melirik ke bawah kakinya yang tengah di peluk Acasha.
Acasha tersenyum karena Luka mengendongnya walaupun dalam hati Acasha agak takut terlalu dekat dengan Luka, aura cowok bernetra kelabu ini berbeda.
Lewat saling bertatapan saja sudah mampu mengintimidasi. Silver tidak bisa membantah seperti biasa kalau lawan bicara adalah Luka Natapraja, Acasha melihat itu diam-diam penasaran seharusnya Silver lebih tunduk pada Cleo, tapi yang terjadi bukan Acasha bayangkan. Acasha pernah menemukan Silver berani melempar pulpen ke wajah Cleo.
Intinya temperamen Silver sungguhan buruk. Kasian sekali untuk istri dan anak Silver di masa depan.
"Apa?" Silver melotot galak menyadari sepasang mata bulat itu tertuju lurus padanya apalagi Luka belum ada tanda-tanda pergi justru kali ini ikut mengamati ekspresi Acasha yang berubah-ubah.
"Ayah, jelek." Acasha berkata lugu lengkap lidahnya terjulur mengejek.
Silver mengusap rambut gondrongnya ke belakang. "Gue emang ganteng. Makasih dugong."
Iyan tiba-tiba muncul di antara mereka bertiga, berdiri di samping Luka seraya merentangan
m tangan.
"Giliran gue sama Aca paling cantik sedunia ini. Ayo, jatuh ke pelukan Ayah." Acasha bergidik ngeri semakin memeluk leher Luka erat.
"Ajak dia jalan-jalan." Ucapan Luka kemudian membuat bayangan Acasha seharian mengintil Luka hancur, tanpa perasaan menyerahkannya ke Iyan.
"Oke, gue janji hari ini bakal menjadi hari terindah." Iyan berbisik di telinga Acasha.
"Kita jalan-jalan keliling kota sebelum itu kita harus menyamar dulu."