
Seharusnya di pagi buta Iyan masih tidur, meringkuk di balik selimut. Namun, jika menginap di kediaman Jenggala tidak ada namanya ketenangan jangka lama.
"Dasar sinting, sialan!" Silver berseru murka sekali dorongan kuat, Grace duduk di atas tubuhnya langsung terjatuh ke lantai. "Gimana bisa lo masuk ke kamar gue, hah?!"
Raut wajah Silver sekilas menegang, kalau pintu telah tertutup secara otomatis terkunci, hanya si punya kamar yang mampu membukanya. Semenjak Silver menyadari tanda-tanda penyimpangan Grace, saat itu pula Silver membangun perisai kuat.
Silver tidak menduga pintu kamarnya yang canggih berhasil di bobol.
"Rahasia. Kayaknya rusak dan aku janji bakal bertanggung jawab," sahut Grace santai dengan kaki pincang Grace kembali bangkit, mendekati
ranjang besar Silver.
Perlawanan Silver sebelumnya sama sekali tak
membuat Grace jera.
"Pergi atau gue patahin leher lo." Silver bergumam serak, kedua tangannya terkepal kencang. Tekanan yang Silver tunjukkan membuat Iyan berbaring terpejam di samping Silver tadinya tidak ingin ikut campur sontak terbangun.
Kalau Silver di kuasai amarah maka perkataan Silver adalah keseriusan mutlak.
"Usir dia, Gue jijik!" Silver melirik Iyan lalu menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Grace mendelik. "Kamu kira aku takut, aku telah bersumpah sebelum aku mati... aku wajib bercinta sama kamu, Silver. Jadi, kamu harus paham, sayang." Di akhir ucapan Grace
berkedip genit.
Iyan melihatnya berdecak kesal, memahami gerakan Grace hendak merangkak menaikikasur buru-buru Iyan melompat. Berdiri disisi Grace, Iyan menyeret Grace secara paksa kemudian.
Tindakan Iyan masih terbilang manusiawi jika Luka kemungkinan Grace sudah tewas ditempat.
"Lepas, brengsek!"
"Saran gue lebih lo ke gigolo dan gue yakin lo pasti puas di sana."
"Tapi aku maunya melakukan itu bersama sepupu tersayang, Silver!"
Tiba di depan kamar paling sudut, langkah kaki Iyan baru berhenti secara bersamaan punggung Grace menubruk pintu kamarnya yang dipenuhi stiker barbie.
Telunjuk Iyan mengetuk lembut jidat Grace mata Iyan tanpa kacamata kali ini juga menyipit.
"Lo tahu, kan, Silver udah cukup bersabar untuk segala kesintingan lo yang bertahun-tahun makin parah." Iyan berbisik lempeng.
"Gue dan yang lain pun begitu, mengingat lo yatim piatu kami semua menerimanya secara nama belakang lo tersemat Jenggala."
Hening.
Keduanya kompak bungkam menyisakan saling tatap. Tangan Grace terangkat dan Iyan membiarkan jemari lentik Grace mencengkeram kerah piyamanya, kepala tertunduk dan posisi berubah sejajar.
"Makanya aku butuh bantuan kamu, Riyan, menghapus nama belakangku lalu setelah itu aku akan menikah dengan Silver," sahut Grace, cemberut.
Tatapan Iyan seketika dingin. "Ingat baik-baik. Gue mau titip pesan. Pas lo ketemu bokap gue nanti di alam baka, lo bilang gue sama Mama bahagia banget. Saking bahagianya bingung cara habisin duit peninggalan beliau...." Usai berkata Iyan berlalu pergi meninggalkan Grace
*******
"Eh, Ayah kok ikut turun?" Acasha bertanya bingung memandangi Luka yang bersandar di depan mobil, posisi kendaraan beroda empat tersebut nyaris menutupi gerbang sekolahnya.
"Lo belum pamit," ujar Luka memberitahu.
Acasha mengerjap selama hampir lima menit ada kalanya Acasha masih kebingungan mengerti ucapan Luka berbeda dengan empat Ayahnya, lewat isyarat Luka satu kali saja, mereka langsung paham.
"Pelukan," lanjut Luka datar sambil membuka tangan, spontan Acasha tersenyum lebar dibuatnya.
"Ayah, jangan pelit ngomong." Tinggi Acasha sebatas perut Luka, wajahnya terbenam di sana apalagi Luka yang semakin mengeratkan rengkuhan tidak menyakitkan malah Acasha diam-diam menghirup aroma wangi berasal dari parfum Luka. "Semangat kuliah paginya Ayah. Sekalian cari calon Bunda buat Aca."
Luka menunduk. "Calon Bunda?" Kening Luka berkerut dalam, memandangi Acasha yang tertawa kemudian.
"Iya, maksud Aca pacar Ayah siapa tahu kan tahap serius terus jadi Bunda, Mama Aca." Acasha menunjuk dirinya bangga.
"Enggak tertarik." Luka mengusap hidung Acasha. "Kehadiran Kalana gue rasa udah melengkapi kami," tutur Luka pelan.
*******
Di mana ada kallen, di situ pasti ada Kalana. Kallen selalu ke rumah Luka atau paling tidak restoran hades di jadikan markas hingga sekarang. Di samping Kallen tidak kosong, terdapat Kalana berdiri seraya memegangi lengan Kallen.
Luka, Cleo, Iyan, selama ini memberlakukan Kalana dengan baik setahu Acasha, dan pengecualian bagi Silver karena Acasha pernah mendapati Silver membentak Kalana hanya karena Kalana tanpa sengaja menginjak kaki Silver.
Kallen? Apa perlu di jelaskan dari panggilan Kallen saja pada Kalana, seharusnya sudah dapat memahami.
"Hati-hati, Aca ...."
Acasha mendongak terkejut.
Beruntung Acasha tidak sempat menabrak anak laki-laki di hadapannya setelah Acasha berbelok ke kanan dan sebentar lagi akan sampai ke kelas.
Acasha tersenyum tipis. "Selamat pagi, Yasa." Acasha bersedekap. "Hei, apa ini? Masih satu jam bel masuk berbunyi, kamu udah di sekolah." Mata Acasha memicing curiga.
"Aku ada piket, Aca. Sama kaya kamu." Yasa menjawab lugas.
Acasha mengamati Yasa lekat. "Yang sering aku liat kamu tiap hari piket, selalu datang lebih awal. Si murid jenius." Acasha berjalan melewati Yasa.
Yasa cepat-cepat menyusul tiba di sebelah Acasha anak laki-laki itu menggandeng tangan Acasha. Sempat melirik, tetapi Acasha tidak mengatakan apapun dia telah terbiasa.
"Biar aku yang lepasin tas kamu." Ucapan Yasa menghentikan gerakan Acasha. "Tugas kamu cuma duduk, soal membersihkan kelas aku aja."
Acasha refleks mundur. "Mana bisa, minggu sebelum-belumnya kamu juga bersih-bersih sendiri. Berapa kali aku tegas, kan, Yasa. Jangan di ulangi!" Nada suara Acasha terdengar agak tegas.
Yasa mengerjap linglung. "Jadi, aku salah, Acasha?" tanyanya polos.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕