
"Aku tidak akan mengatakan secara langsung." Hazel menolak halus sambil meraih tangan kanan Acasha, sebelum itu Hazel lebih dulu merogoh sesuatu di saku mantelnya. "Tapi, saat kamu terbangun kamu bisa membacanya."
Kertas kecil lusuh yang Hazel berikan dan Acasha mencoba menekan rasa penasaran untuk tidak membuka lipatan kertas tersebut.
Acasha memalingkan muka menyadari sepasang mata biru itu kali ini memandangi tampak kembali berkaca-kaca.
Apa Hazel bisa berhenti tidak menunjukkan kesedihan secara terang-terangan. Acasha tak nyaman, karena dadanya ikut sesak.
"Narasea." Hazel tersenyum samar. "Aku yakin kita akan bertemu lagi di masa depan nanti dalam keadaan aku masih sama, atma tanpa daksa."
Acasha melirik singkat. "Maksud kamu jiwa tanpa tubuh? Bisa di bilang kamu hantu jadi-jadian."
Hazel tertawa.
"Kamu sungguhan berbeda dengan Narasea di
masa lalu."
"Dia seperti apa?"
"Menawan, selalu serius, pantas dihormati. Narasea tidak sadar, maksudku bisa jadi kita semua tidak sadar ... bahwa ada salah satu yang kita anggap terlihat sangat baik, tapi ternyata diam-diam merencanakan hal busuk."
Acasha menelan ludah. Kali ini menyambut ragu tatapan Hazel.
"Siapa?"
"Kamu sudah mengetahuinya, Sea."
Acasha menggeleng cepat.
Hazel berdiri menghadap Acasha, tanpa Acasha
duga gerakan Hazel yang memeluknya tiba-tiba.
"Lukara...." Hazel berbisik pahit. "Lukara penyebab bintang keberuntungan retak dan mau tidak mau Luka harus menanggung akibatnya di tiap reinkarnasi"
Tubuh Acasha menegang. "Ayah?" Kening
Acasha berkerut dalam.
"Jangan menyebutnya Ayah, saat wujud kamu di hadapanku sebagai Narasea." Hazel mengembuskan napas lelah, seolah-olah jika Acasha tetap kembali berbicara serupa Hazel akan meremas gemas kepalanya.
Acasha membalas pelukan Hazel, dengan cara ini Acasha ingin mengurangi kesakitan Hazel.
"Aku memang tidak mengingat apapun." Acasha mengungkapkan lembut. "Bertemu mereka berarti bukan suatu kebetulan, tapi memang seharusnya, kan?"
"Iya."
"Aku maafin kamu."
Jika Hazel mengharapkan kata maaf maka Acasha tentu menerimanya tulus. Tak perlu merasa bersalah, tak perlu lagi menanggung penyesalan.
"Jangan memaafkanku." Hazel melangkah mundur. "Aku mau kita bertemu lagi."
Acasha berkedip linglung. "Apa?! Dasar plinplan." Acasha dibuat sedikit kesal. "Kamu di masa lalu, pasti orang yang menyebalkan." Telunjuk Acasha mengarah tepat ke wajah Hazel.
Hazel bergumam mengiyakan. "Bersama mereka aku akan bertingkah menyebalkan dengan kamu, Sea. Pengecualian," sahutnya memberitahu.
Acasha terperangah lama. Lidahnya kelu sekedar mengeluarkan kata, menerima saja Hazel yang kedua kali menarik tubuhnya dalam dekapan.
"Narasea, aku tidak marah tentang kamu yang mengutukku bahkan yang lainnya pun pasti memikirkan hal sama," ucap Hazel.
Air mata Acasha mengalir. Hatinya sakit sekaligus kecewa secara bersamaan tanpa mengetahui alasannya.
"Bagaimana seseorang yang kamu sebut Lukara tadi? Mendengar nada suara kamu, Hazel. Sepertinya kamu membenci dia." Acasha menjawab parau.
"Aku mana mungkin membenci Lukara kalau di masa itu kembaranku sendiri memihak padanya."
"Kamu punya kembaran?"
Hazel mengangguk.
"Pantas, kamu mirip Cleo."
Acasha hampir ambruk, seandainya Hazel gagal menahan kemudian. Hazel memandangi cemas Acasha sontak membantu Acasha mendudukkan diri.
"Kenapa?" Hazel mengangkat perlahan dagu Acasha lalu mengusap pipinya.
Acasha terbatuk dengan mata semakin berair. "Ak... aku sesak napas." Meremas ujung lengan mantel Hazel, tatapan Acasha tertuju lurus pada pria di sebelahnya kini. "Siapa tunanganku sebagai wujud Narasea di masa lalu?" tanya Acasha serius.
"Biarkan itu menjadi rahasia lagipula aku tidak mau kamu jantungan saat mendengarnya," sahut Hazel polos.
Acasha melotot. "Aku ... mohon. Cukup, ucapkan namanya." Mendapati Hazel yang bungkam lama Acasha menyerah, satu tangan lain menggengam jemari Hazel menggendur hingga semuanya berubah gelap gulita.
*******
Acasha merasa dejavu. Bedanya dulu sosok mungil yang gampang di tindas meskipun sekarang masih ada hanya saja segilintir orang. contohnya Grace.
"Aca!"
Seseorang mendekati brankar. Acasha menoleh susah payah, demi apapun badannya lemas.
"Jangan bikin gue khawatir." Iyan merapikan rambut Acasha yang menutupi kening.
Acasha mengerjap. Butuh waktu Acasha mengenali Iyan karena lyan tanpa mengenakan kacamata seperti biasanya.
"Ayah, sendirian?" Acasha berkata sedikit ragu, entah mengapa dia belum siap kalau mereka berkumpul apalagi informasi baru di dapatkannya.
Menganggap mimpi atau dongeng dari cerita Hazel, lubuk hati Acasha justru meminta mempercayai.
"Sebentar lagi orang-orang sinting itu datang." Iyan tersenyum.
Acasha mendelik.
"Aku lapar." Acasha menepuk perut. "Pengen makan buah nanas, jangan terlalu manis. Harus ada asamnya juga." Kelopak mata Acasha terpejam membayangan potongan nanas memenuhi piring.
Tahu-tahu satu jitakan pelan mendarat di kening Acasha di susul lyan yang terdorong ke belakang.
"Mana ada orang yang bangun di antara hidup dan mati langsung minta buah nanas. Gila, nih. Bocah!" Silver berkacak pinggang menggantikan tempat Iyan berdiri sebelumnya.
Melepaskan masker oksigen, Acasha cemberut. "Aku nggak mau bicara sama siapapun, aku masih syok." Acasha mengeluh lemah, bisa tidak Silver berhenti uring-uringan.
Hening.
Acasha menatap kosong pada langit-langit kamar perawatan. Hazel? Acasha baru memahami detik ini Hazel tampak sangat menderita sebab Hazel juga harus dipisahkan dari Cleo.
Acasha berniat membuang muka agar tidak tertangkap basah menangis sambil menutup wajah justru menemukan sepasang mata kelabu tertuju ke arahnya.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕