
"Lo harus minta maaf sama Kalana." Kallen berujar ketus lalu mendudukkan diri di samping Iyan. Di pinggir taman hotel, pagi cerah itu memandangi lurus dua orang sedang merebutkan skateboard tak jauh dari tempat Kallen beristirahat usai berolahraga ringan. "Kelakuannya bikin gue sakit mata."
Kallen gemas sendiri dengan Silver. Menurutnya, Silver terlihat kekanak-kanakkan jika bersama Acasha. Ada saja yang Silver debatkan dan membuat cewek remaja tersebut mengumpat kejam.
Iyan tertawa. Entah apa yang lucu yang pasti Kallen menunjukkan ekspresi tersinggung kemudian.
"Ingat, lo harus minta maaf sama Kalana." Kallen kembali menuntut, menepuk-nepuk pundak lyan agak kencang.
"Kenapa enggak lo aja yang lebih dulu minta maaf, lo sering panggil Kalana hewan peliharaan... gue yakin lo belum pernah mengucapkan dua kata itu." Iyan menebak tepat sasaran apalagi mendapati Kallen bungkam.
Cleo berdiri, sebelumnya berbaring di belakang mereka bersama Luka bersandar di pohon dengan kelopak mata terpejam. Telinga Luka tersumpal earphone, tiga orang di dekatnya paham Luka tidak ingin di ganggu siapapun.
"Sikap lo sekarang udah kelihatan bucinnya. Bagus, ternyata lo makin manusiawi." Cleo memecah keheningan, berniat mengusap puncak kepala sang selebriti tetapi penolakan mentah-mentah Cleo dapatkan.
Kallen mendelik kesal. "Jangan sentuh gue!" serunya. "Lagi pun gue nikah sama Kalana karena gue terpaksa. Dia hamil." Kallen bersedekap sambil membuang muka.
Mata Iyan di balik kacamata menatap jijik terang-terangan Kallen. "Kayaknya lo emang sengaja biar kebobolan. Cih, cara lo terlalu murahan."
Muka Kallen sontak memerah. Dia berdiri lalumencengkeram kasar kaos yang melekat di bagian atas tubuh Iyan.
"Lo cemburu?"
"Apa?!"
"Lo cemburu, kan?"
"Gila, lo, Len!"
Cleo memisahkan dengan cara mendorong hingga keduanya kompak termundur menjauh. Cleo lalu memperlihatkan ponsel tepat di wajah Kallen.
"Gimana kalau Kalana dengar rekaman suara ini. Jujur, gue penasaran reaksinya." Bibir Cleo menyunggingkan senyuman manis.
"Mungkin, Kalana bisa nangis darah." Iyan berceletuk menyebalkan. "Kalana di kamar hotel, kan? Leo, kita ke sana sekarang." Iyan bersiap-siap melangkah.
"Kalian mau apa?" Kallen spontan menahan, matanya memicing. Sepertinya dia memang sengaja di jebak.
"Pengakuan." Cleo menjawab, mengerti pihak lain kebingungan Cleo meneruskan. "Lo dan Silver nggak beda jauh, sama-sama gengsi. Lo nikahin Kalana bukan cuma karena dia hamil, kan?"
"Lo udah bisa nebak." Kallen mengulurkann tangan. "Sini hapenya, gue nggak percaya sama lo jadi gue yang bakal hapus."
Cleo justru memasukkan benda pipih tersebut ke saku celana trainingnya. "Gue dan Iyan nggak bisa nebak. Intinya mau dengar langsung dari mulut lo, Kallen Tamara!" ujar Cleo tegas.
Kallen mengepalkan tangan. Rasanya ingin sekali dia memaki, bertanya-tanya mengapa dia selama ini tahan menjalin persahabatan baik dengan mereka.
"Dulu gue menganggap Kalana sebagai peliharaan, tapi entah di mulai dari kapan itu semua berubah. Di mata gue Kalana seorang wanita yang wajib gue jaga, pokoknya ya... itu." Pipi Kallen bersemu merah samar. "Gue sumpahin kalian merasakan hal sama." Kallen berbalik cepat, memutuskan menghampiri Silver dan Acasha.
*******
Menyadari dia sendirian di pinggiran taman hotel, Luka akhirnya membuka kelopak mata seraya melepaskan earphone. Dia memasukkan sepasang benda berwarna putih itu ke kantong
hoodie.
Luka hendak menyusul langsung menunda. Peka terhadap sekitar, Luka menoleh. Iris kelabu Luka tertuju pada sosok wanita paruh baya yang juga memandangi ke arah tempatnya berada.
Wanita paruh baya itu berjalan mendekat, melalui mudah palang rantai kebetulan rendah memisahkan taman dengan parkiran samping hotel.
Luka mendongak. Keningnya berkerut dalam... siapa? Cuma itu muncul di benak Luka.
"Padahal ini baru permulaan, masih ada dua belas reinkarnasi lagi yang harus kalian lewati ...." Dia tersenyum penuh arti, berjongkok di hadapan sang lawan bicara. Tanpa peduli ujung pisau lipat mengacung mukanya kemudian.
"Pergi." Nada suara Luka teramat dingin. Dia paling tidak suka di ajak bicara apalagi orang asing yang sama sekali tak dikenali.
"Hanya si pemberi kutukan yang mengetahui alasan mengikuti kalian. Jika di kehidupan ini, dia memaafkanmu. Besar kemungkinandi kehidupan selanjutnya kamu tidak perlu menanggung penderitaan." Kepala wanita itu sedikit maju, hingga benda tajam Luka pegang erat berhasil menggores dagunya.
Luka terperangah sesaat. Namun, tidak bergerak menjauhkan justru dengan sengaja Luka menggeser, memanjang lurus ke bawah mencapai tenggorokan.
"Anda mau mati." Luka berbisik, melirik sejenak celana polosnya berubah warna merah pekat. Awalnya jatuh bertitik-titik, kini bagaikan air hujan yang deras.
"Ti... tidak. Aku tidak mau mati sebelum memberikannya sesuatu, Lukara." Bibir pucat tersebut menarik senyuman misterius. "Aku harus memberikan sesuatu terhadap Narasea, menepati janjiku padanya."
Pisau secara keseluruhan berwarna perak di tangan Luka mendadak terjatuh ke tanah.
"Kutukan, tiga belas kehidupan." Wanita paruh baya itu menengok ke belakang, ada erangan yang keluar dari mulut saat menyentuh lukanya. "Bisa jadi Narasea ingin melihat kalian menanggung penyesalan di tiap kehidupan terutama kamu."
Anehnya, Luka kehilangan fungsi tubuh sekedar matanya yang mampu mengikuti ke mana arah pandang wanita paruh baya itu.
"Jika di masa lalu sosok itu sebagai kekasih, maka di zaman ini tidak akan terulang hanya saja pria itu satu-satunya jalan menemukan jiwanya."
Luka tidak tahu benda apa yang Silver pertahankan dalam genggaman tangan, sampai-sampai Acasha berusaha mengambilnya di tengah taman itu. Lama-kelamaan salah satu di antara keduanya menoleh.
"DIZELIA!" Secara bersamaan teriakan Acasha. Wanita asing di depan Luka tahu-tahu beranjak, berlari pergi menjauh. Luka menduga Acasha mengenali, bagaimana kini gadis itu berlari mendekat dengan ekspresi yang tidak dapat Luka pahami. "Aku mau kejar dia!"
Luka gagal mencegah karena Acasha sudah tergesa-gesa melewatinya.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕