
Acasha menabok pelan punggung Silver, penglihatan Acasha tidak keliru reaksi Silver yang salah tingkah kemudian dengan telinga samar-samar memerah.
Di atas motor berhenti di persimpangan karena lampu merah Acasha mengusik Silver.
"Meskipun ke tutup helm aku tau Ayah sekarang lagi senyam-senyum." Acasha berkata mengejek, memandangi Silver melalui kaca spion.
Benar saja, sudut bibir Silver diam-diam melengkung lebar perlahan memudar menangkap ucapan anak perempuan dibelakangnya.
"Diam!"
Bukan Acasha menjadi penurut bersama Silver. Tangan Acasha beralih mencengkeram jaket Silver, sengaja menggoyang-goyangkannya.
"Ayah, aku haus. Panas. Tenggorokan Aca rasanya kering." Acasha mengeluh.
"Gue nggak peduli. Bisakan beberapa hari ke
depan lo kalem."
"Seandainya Ayah yang lain ada mustahil aku dibiarin kehausan gini."
Acasha terus mengoceh, sibuk membeda-bedakan Silver dengan empat orang lainnya bahkan ketika motor Silver benar-benar berhenti di pinggir jalan Acasha masih belum bisa bungkam.
"Biasanya kalau pulang pasti bakal beli piza jumbo dan jilatin es krim sampai-sampai ke wadahnya...."
Selesai melepaskan helm di kepala Acasha, meletakkan di stang motor. Telunjuk Silver dengan kurang ajar mendorong kening Acasha.
"Telinga gue pengap, dugong."
"Aku haus, Ayah."
"Makanya turun."
Sekali melompat Acasha telah berdiri disamping Silver yang sontak terkejut dibuatnya.
"Jangan asal loncat, lo bukan manusia jadi-jadian yang bisa berubah jadi kodok." Silver melotot mengancam. "Jatuh, mampus lo. Gue ketawa paling keras," lanjut Silver sambil meraih tangan kanan Acasha.
Acasha mengikuti langkah Silver walaupun agak kewalahan.
"Kita mana boleh parkir sembarangan, Ayah."
"Biarin."
"Sebenarnya kita ke mana?"
"Mengusir manusia-manusia sialan, penyebab jalanan macet."
Acasha menoleh ke arah telunjuk Silver yang tertuju ke seberang jalan. Acasha tertegun, tatapannya lalu berbinar cerah.
"Itu termasuk alun-alun kota, kan, Ayah? Ternyata ada pasar malam. Sebentar, ini masih siang." Acasha tertawa geli hendak menyentak gandengan Silver di punggung tangannya selalu berakhir gagal. "Aku pengen ke sana!" Acasha mencoba melepaskan diri.
Mata Silver menyipit menyaksikan kebruntalan Acasha yang mengentak-entakkan kaki.
"Kayaknya lo enggak pernah kaya gini sama Luka," ucap Silver.
"Iya, Aca harus berubah jadi kalem total kalau satu ruangan sama Ayah Luka. Cape sih. Bersandiwara," jawab Acasha spontan.
Silver berdecak sementara Acasha sadar perkataan keluar di mulutnya barusan seketika cengar-cengir.
"Ayah, jangan ganggu kesenangan mereka. Kita masih bisa lewat jalan lain ... aku gak jadi ke sana, mau pulang aja." Acasha berbisik.
Silver menunduk. "Tadi lo bilang haus terus pengen ke sana. Jangan plinplan." Silver merangkul bahu Acasha. "Ada kemungkinan musuh mencari kesempatan di tengah kerumunan jadi lo di larang jauh-jauh dari gue, dugong."
Acasha mengangguk. Jujur, Acasha telah terbiasa mendengar tidak sekali atau dua kali melainkan teramat sering.
"Makasih, Ayah." Acasha memberikan senyuman tulus, kali ini berjalan bersisian dan seperti biasa Silver langsung membuang muka.
*******
Acasha mengetahui ke manapun Silver pergi, maka pasti akan ada orang-orang yang mengikuti dari jarak cukup jauh. Sebenarnya tidak hanya Silver, empat orang lainnya pun begitu. Acasha pernah menangkap basah Kallen mengomel karena tak suka dibuntuti.
"Ayah...."
Acasha menatap Silver di sampingnya yang tengah menggigit kentang tornado, tiap membeli jajanan Silver akan bertanya pada para penjualnya soal kehigienisan cara pembuatan dan bahannya.
Ekspresi tersinggung Acasha lihat kemudian, tapi pada akhirnya penjual tersebut tidak mampu berbuat apa-apa tetap menjelaskan secara lugas.
Silver berdehem sama sekali tak menengok sedikit pun ke Acasha apalagi meliriknya.
"Boleh Aca jalan-jalan?"
"Lo boleh pergi sendirian tanpa ada yang melindungi, kalau udah berhasil bunuh orang yang memang pantas dibunuh, tapi dua hari lalu lo pegang revolver gemetaran.”
"Jangan di ungkit lagi, Ayah. Itu pertama kali jadi ya maklumin aja." Raut wajah Acasha berubah memelas. "Enggak jauh, masih bisa di pantau. Aku cuma ke sana."
Dari bangku panjang sedang di duduki, Silver mengamati stan hendak Acasha datangi.
"Sekalian borong aksesorisnya biar lo puas." Silver mengibaskan tangan. Acasha hampir memekik kesenangan, mendengar persetujuan Silver.
Belum sempat memberikan pelukan hangatnya, pergerakan Acasha lebih dahulu di tolak Silver dengan cara telapak tangan pemuda itu menahan kepala Acasha.
"Buruan pergi, gue kasih waktu sepuluh menit!" ujarnya tegas.
*******
Acasha sibuk memilah hiasan cangkang kerang laut baginya cocok untuk dinding kamar.
"Ini berapa, Bu?" Acasha mengangkat sesaat tanaman hias berada di tengah aksesoris lain.
"Keabadian." Wanita paruh baya di depan Acasha justru menyahut yang tak nyambung.
Acasha mendongak terkejut semakin linglung wanita itu memelotinya lekat-lekat.
"Ada yang salah ya?" Nada suara Acasha penuh hati-hati, mungkin kah karena Acasha banyak tanya sebelumnya membuat orang ini sebal.
"Kamu tau, kalau arti nama kamu itu sebenarnya keabadian." Wanita tersebut bergumam sambil tersenyum di bibirnya yang pucat.
Acasha refleks menggeleng. "Saya baru tau." Mengigit pipi dalam Acasha membalas lirih, firasatnya mengatakan dia harus secepatnya pergi namun di sisi lain Acasha juga penasaran.
Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari laci kotak plastik di sisinya, sedikit membungkuk sekedar menyusun rapi di dekat Acasha.
"Coba kamu pilih," perintahnya.
Acasha menurut, mengambil satu secara acak. "Orang-orang biasanya menyebut kartu ini, kartu tarot." Acasha menunjukkan kartu pilihannya.
"Ya, sesuai kehidupanmu di masa lalu." Dia mengangguk tanpa memedulikan sang lawan bicara yang terbelalak, kembali meneruskan. "Jadi, apa kamu sudah memaafkan kesalahan mereka?"
Jantung Acasha mendadak berdebar kencang, bergerak maju Acasha berujar penuh harap.
"Anda tau kalau saya bukan berasal di dimensi ini. Nama saya sebelumnya Acasha Siavani ... saat membuka mata lima tahun lalu, tahu-tahu saya di dunia ini."
Acasha telah memastikan pembicaraannya tidak akan di dengar oleh siapapun, bahkan arloji di pergelangan tangan Acasha benturkan ke sudut meja hingga hancur.
"Sebelum itu."
"Apa?!"
Acasha menelan ludah dengan perasaan campur aduk terlebih mendapati wanita itu malah diam kemudian.
"Sebelum itu, maksud Ibu apa? Tolong jelasin!" Badan Acasha sudah setengah membungkuk, tangan menumpu di meja. Posisi Acasha yang mencolok membuat orang-orang melewati stan tersebut menengok.
"Ratusan tahun lalu, sepertinya kamu belum memaafkan kesalahan mereka atau bisa jadi mustahil." Wanita itu tersenyum miring memandangi tepat bola mata Acasha.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕