The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 33 ~ Terikat Kaki Tangan



Gelap, gelap, dan gelap.


Semuanya benar-benar gelap, bahkan saat kelopak mata sudah terbuka lama tetap saja tidak ada cahaya. Kadang Kalana berpikir, keajaiban datang padanya secara mendadak. Namun, lagi-lagi itu sebatas khayalan. Dia terlahir sebagai sosok manusia yang buta.


Kalana mengigit pipi dalam menahan isak. Hembusan napas seseorang berbaring di samping menjadi hal biasa selama lima tahun


ini.


"Kenapa hewan peliharaan gue nangis? Ada yang sakit, kah?" Kallen bertanya lembut dengan jemari membelai pipi tirus Kalana.


Sesaat Kalana menegang, tidak menduga Kallentelah terbangun dalam tidurnya. Sejak kapan? Semoga saja belum lama.


Kalana menggeleng patah.


Tatapan pemuda bermarga Tamara tersebut berubah datar, sebelah tangan di balik selimut mencengeram pundak kiri Kalana.


"Berapa kali gue bilang. Jangan menangis di depan gue, Kala!" bisik Kallen, kali ini terdengar tegas.


"Maaf." Kalana membalas parau, ekspresinya tampak memelas benar-benar meminta ampun.


"Aku lupa, Maaf. Kallen."


Kallen bergumam mengiyakan. "Gue senang hati mengingatkan. Diawal kita bertemu dulu, saat itu pula lo terikat kaki tangan.... berhenti mengharapkan kebebasan." Kallen mulai menarik selimut yang menutupi tubuh polos Kalana.


"Aku tau."


"Hewan peliharaan yang pintar."


Tangan Kalana tiba-tiba menahan gerakanKallen. "Aku bisa sendiri, aku pengen mandi," ucapnya.


Sang lawan bicara tertawa geli seolah-olah perkataan Kalana memang pantas untuk dianggap sebagai lelucon.


"Silahkan, hati-hati." Kallen beringsut.


Tepat Kalana menurunkan kaki dari ranjang lalu berdiri, pendingin ruangan langsung menyapa seluruh kulitnya tanpa tertutupi sehelai benang pun. Kalana terpejam dalam beberapa detik, berusaha menenangkan diri.


"Bisa jalan sendiri, kan? Kita lagi liburan, jelas ini bukan kamar gue yang udah lo hafal seluk-beluknya," ucap Kallen.


Kalana meraba dinding dibuat terkesiap, raut wajah Kalana berubah panik lalu berbalik badan secara asal.


"Aku nggak bisa, tolong Kallen."


"Hei, tenang,"


"Kamu di mana?"


"Sebentar."


Kallen tersenyum samar. Hewan peliharaan tersayangnya, mengapa sangat lucu? Memakai celana selutut sebelumnya berada sembarangan di lantai, Kallen beralih mengambil kimono di lemari. Sudut mata Kallen tidak lepas pada Kalana yang berdiri tegap di tengah ruangan.


"Gue udah di depan lo, Kala,"


Kalana sontak memegangi lengan Kallen erat yang termasuk menjadi kebiasaaan. Mengekor, selayaknya hewan peliharaan.


Tiba di kamar mandi, shower box barulah Kallen berhenti. Tidak ada yang mengeluarkan suara dalam jangka lama dan Kalana sadar bahwa Kallen masih di hadapannya. Kalana bungkam walaupun mengetahui alasan kenapa Kallen tidak pergi.


"Gimana kalau kita lanjutin, gue masih belum puas." Kallen berkata pelan sembari mengusap bibir basah Kalana yang sedikit membengkak. "Di sini ...." Mata Kallen berbinar aneh. Jika Kalana mampu melihat, kemungkinan dia akan lebih syok mengartikan pandangan Kallen kepadanya.


Kalana menunduk. "Aku lapar," jawabnya jujur. Kalana mengusap perut ratanya yang sedari tadi keroncongan. Dia sungguhan lapar, menurut patuh sama saja tidak akan ada kata sebentar.


Kallen bersama kegilaannya itu hanya membuat Kalana mati kelaparan, lagi pula Kallen pasti paham dia tidak bertenaga melakukannya kembali.


"Selain lapar?" Kallen berjalan agak mundur menempatkan diri di belakang Kalana.


"Aku masih mengantuk." Kepala Kalana makin tertunduk.


"Gue juga lapar. Kita melewatkan sarapan dan sekarang udah hampir jam setengah sebelas. ujarnya.


Perempuan berumur dua puluh dua tahun itu langsung tertegun. Seharusnya telah terbiasa, mereka bahkan pernah tidak keluar kamar selama seharian penuh sekedar tertidur pulas diranjang.


"Gue enggak ke mana-mana, masih di sini. Jangan takut, oke?" Usai mencium tengkuk Kalana, Kallen keluar shower box dari jarak tidak cukup jauh Kallen mendudukkan diri diatas kloset.


Dia memainkan ponsel, menghubungi seseorang tepat ketika tersambung Kallen menyapa antusias. "Di mana kepompong?!"


"Si bangsat punya topeng banyak ini, pantasnya bisu. Mulut lo sama sekali nggak berguna!" Silver


membalas sinis.


Air muka berseri-seri Kallen sekejap menghilang. Rasanya Kallen ingin menimpuk wajah angkuh Silver yang memenuhi layar ponselnya.


"Acasha dugong sekolah. Gue tutup, lo mengusik leha-leha gue! Cepatan pulang, sialan."


"Rindu ya?"


Reaksi Silver di seberang sana menirukan orang mual. "Lusa nanti lo harus pulang, bangsat!" Bentakan Silver disusul sambungan video call terputus secara sepihak.


Kallen menggeleng heran. Bagaimana bisa dia tahan berteman dengan anak tunggal Jenggala tersebut, padahal Silver tidak klop dilingkungannya.


Terkadang Kallen berpikir, mungkin karena mereka sama-sama kurang waras.


*******


Bertepuk tangan, Acasha memandangi kagum piala besar mencolok di barisan bangku tengah kelas yang sebelumnya sudah di kerubungi beberapa orang.


"Kayaknya ini piala paling besar yang pernah kamu raih, Yasa." Acasha tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol. "Yasa Kalandra sangat jenius."


Yasa mengangguk. "Uang saku beasiswaku bertambah," ucapnya memberitahu.


Acasha tidak tahu lagi harus berbicara apa,


pujiannya sudah habis.


"Bagus." Mata Acasha menyipit menyadari ada yang janggal dari blazer Yasa. "Mana pin kelas kamu, Yasa?" tanyanya.


"Tadi jatuh." Anak laki-laki itu mengulurkan pin cokelat dengan angka romawi tiga.


Acasha yang mengerti segera mengambilnya. Memakaikan di dada kiri Yasa, demi apapun Acasha merasa telah memiliki seorang anak lagi pun kenapa Yasa punya kebiasaan menjatuhkan pin kelas bahkan paling parah hilang kemudian berakhir membeli di koperasi sekolah.


"Yasa."


"Iya?"


"Baru dua hari nggak ketemu Ayah aku udah kangen berat."


"Mereka ke mana?"


Selesai memasangkannya, Acasha menempelkan pipi di meja. "Gak tau, waktu itu aku juga ketemu orang aneh." Acasha cemberut. "Kalau aku cerita pun kamu nggak akan paham," lanjutnya.


Tubuh Yasa mendadak menegak dan Acasha melihat reaksi Yasa tersenyum samar, bertanya-tanya apalagi yang dipikiran Yasa hingga tampak panik begitu.


"Bukannya aku jenius pasti aku paham, kan? Kamu boleh cerita, Aca."


Acasha tergelak pelan. "Nanti, aku mau tidur. Bangunin aku pas bel masuk berbunyi." Acasha melipat tangan menjadikannya sebagai bantalan. Kelas yang berisik sama sekali tidak mengganggu.


Namun, berbeda dengan Yasa yang mendongak menatap dalam ketiga orang teman sekelasnya terkenal nakal itu berlarian ke sana sini.


*******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕