
Kedua kaki Acasha basah oleh darah tepat berdiri di ambang pintu dapur. Acasha berharap firasatnya kali ini meleset, segalanya akan baik-baik saja.
Menelan ludah, Acasha melangkah pasti. Tata letak perlengkapan memasak tersusun rapi. hanya ada dua piring berisi menu makan malam ini belum habis, sekaligus gelas minum yang airnya tersisa setengah di meja dapur.
"Ayah!" Acasha berseru cemas seraya mengigit jempol.
Tidak butuh waktu lama bagi Acasha menemukan Luka.
Para pelayan itu sungguhan tidak berguna! Acasha membatin, meremas ujung piyamanya. Berjanji, jika mengetahui si ceroboh itu... Acasha akan memberinya sedikit hukuman.
"Jangan nangis." Luka mendongak. Menyandarkan punggung di pintu kulkas, sebelah tangan Luka terulur yang cepat Acasha sambut. Acasha lalu berjongkok di sisi Luka. "Lagian ini udah biasa," ujarnya.
Acasha mengangguk, menyakinkan diri bahwa Luka tidak apa-apa. Acasha hendak mengeluarkan ponsel di saku meminta bantuan, terpaksa berhenti karena Luka menyentuh lengannya.
"Berapa kali gue mencoba nyakitin dari sendiri?" Luka bertanya lirih dengan jemari menekan perut.
Acasha bungkam.
"Gue selalu menikmati rasa sakit dan itu sama sekali nggak bikin puas." Luka yang masih mampu bicara membuat Acasha kacau.
Acasha tidak ingin mendengar apapun. Kepala tertunduk, bola mata Acasha berkaca-kaca tiap mengingat ucapan Dizelia.
"*Sewaktu-waktu kematian akan mendatangi Lukara. Nyawanya tergantung di kamu ke*depannya, kalau kamu ingin dia hidup cara satu-satunya mengakui dan mempercayai kamu adalah Narasea."
Padahal baru dua hari berlalu. Acasha seharusnya menyadari bahwa itu peringatan.
"Cleo udah di perjalanan." Luka memberitahu, terbebani mendapati sepasang bahu Acasha yang bergetar. "Jadi, berhenti nangis," lanjutnya datar.
Acasha buru-buru mengusap pipi. Tatapan tertuju lurus di dekat lutut Luka kemudian, terdapat pisau daging di sana. Bentukannya tidak lagi sempurna.
"Kenapa pisaunya patah, Ayah?" Acasha beringsut merapat. Tanpa memedulikan iris kelabu Luka yang memperingatinya tetap diam.
"Nona!" Seruan itu di susul suara langkah kaki yang tergesa-gesa memasuki dapur meski Acasha tidak menengok, Acasha mengetahui lebih dari satu orang. Kemungkinan lama-kelamaan seluruh pekerja berkumpul.
Acasha kuat-kuat meredam amarah bergejolak di dada, belum saatnya. Kondisi Luka yang lebih penting.
"Mas Luka, and--"
"Pe.. pergi!" Luka menyela dingin "Mundur." Perintah bagi siapapun mendengar wajib patuh kecuali Acasha.
Pada dasarnya Acasha pura-pura menulikan telinga. Dia keras kepala, menyingkirkan tangan Luka yang menutupi perut.
"Ayah, di mana patahan pisaunya?" Tenggorokan Acasha mendadak kering usai menyimpulkan jawaban sendiri. Jantung Acasha ikut berdebar ketakutan, menunggu gelisah Luka berbicara.
Luka tampak mulai kesusahan mengambil napas, sementara Acasha tidak bisa bersikap terus tenang. Tusukan di bagian perut Luka yang jelas di lakukan sengaja semakin banyak mengeluarkan darah. Mengalir tak tentu arah dilantai.
"Mungkin, di sini." Luka melirik lubang mengerikan di kulit perutnya.
Dia memandangi lama Acasha. "Maaf, Narasea ..." Luka berkedip linglung setelahnya, tidak mengerti mengapa bibirnya spontan mengucapkan dua kata itu. Namun, ada perasaan lega menggelitik hati Luka kemudian.
Acasha termangu.
Luka mengangkat telapak tangan yang gemetaran untuk menyentuh wajah Acasha. Terpejam sesaat, bulu mata lentik Luka basah karena air mata.
Orang-orang menyaksikan tercengang.
Berusaha mempertahanan kesadarannya, Luka ingin memastikan sesuatu. Ilusi ini kembali muncul, kala dia benar-benar tidak mampu membendung sakit memilih tenggelam bersama kegelapan.
"Narasea." Luka kembali berbisik parau.
Di pandangan Luka, sosok yang kini memegangi tangannya erat, bukan lagi Acasha melainkan sosok perempuan bergaun biru begitu pula
Rambut coklat tergerai lurus, di bawah penerangan lampu ruangan seolah-olah bersinar samar.
Acasha mematung, keringat dingin mengalir di punggung Acasha bahkan saat Luka tiba-tiba terkulai jatuh di depannya pun, Acasha masih diam.
Acasha terlalu syok Luka menyebut nama itu.
*******
"Kalian beneran nggak mau pulang?" Silver berdecak, melirik bergantian keempat remaja di dekatnya. Cuma satu orang yang terlihat kalem, sisanya telah dibuat pucat.
Sashi mencengkeram pergelangan Janu di samping kirinya. Semenjak mengenal Acasha, Sashi tahu betul Acasha jarang sekali marah tetapi sekali marah benar-benar menakutkan.
Jadi, menonton Acasha tidak jauh di tempat Sashi berdiri detik ini sedang menekan kepala seorang wanita muda di pencucian piring mengantarkan Sashi agak ngeri.
"Mau pulang kok, Bang. Sebelum itu kami harus pamit dulu sama Acasha." Sakti yang memutuskan menjawab, tertunduk sopan berhadapan dengan Silver.
Teramat jauh sikapnya serampangan. Janu sempat berpikir konyol Sakti punya kepribadian ganda.
"Gue enggak pernah nikah sama Kakak lo!" Silver menggertak jengkel sontak membuat Sakti terperanjat setengah mati.
Silver melotot galak. Telinganya selalu sakit di panggil embel-embel Abang apalagi Om.
"Kalau Kak Silver lupa, umur Kakak udah kepala tiga." Yasa berkata tenang sambil tersenyum.
Silver menoleh sepenuhnya ke satu titik. Mata Silver menyipit mengamati Yasa dari atas sampai bawah.
"Pulang!" Silver mengibaskan tangan, mengusir terang-terangan. Dia tak punya banyak waktu membalas provokasi Yasa. "Enggak usah pamit, lupakan kejadian malam ini kayak biasanya. Gue yakin kalian udah kenal Acasha."
Mereka mengangguk setuju, berbalik badan, berlari kecil menuju ruang tengah.
Sandal rumahan yang di pakai masing-masing. meninggalkan jejak darah di lantai. Sashi bergidik, berharap tidurnya akan nyenyak jika tiba di huniannya nanti.
"Ck, ngapain lagi lo balik ke sini?" Silver berkacak pinggang. Kedatangan Yasa kedua kalinya mengurungkan niat Silver menghampiri Acasha.
Yasa tidak mengatakan apapun, berjalan melewati Silver.
Silver terkejut, memahami arah tujuan Yasa. Rencananya ingin secepat kilat menarik Yasa menjauh dari belakang Acasha langsung pudar.
Kedua remaja itu saling mengobrol sebentar, tahu-tahu berpelukan. Yasa lebih dahulu memulai, menarik Acasha ke dekapan hangatnya.
*******
Acasha menyibak tirai pintu balkon kamarnya, mengintip balkon sebelah yang masih sama selama sembilan hari ini, yaitu gelap gulita. Tak hanya balkon, tetapi kamar itu pun sama.
Perasaan sesak menjalar di dada Acasha. Di masa lalu kamar Acasha memang berada di lantai dasar, namun lima tahun belakangan atas ide Iyan, menyarankan letak kamar Acasha berdampingan dengan kamar Luka. Mengingat penyakit Luka menyakiti dirinya sendiri dalam sebulan pasti kambuh setidaknya paling sedikit dua kali.
"Kalau ruang ICU bisa bicara, dia bakal ngeluh udah bosan selalu di datangi Ayah di antara hidup dan mati." Acasha tersenyum pahit.
Acasha menutup tirai pintu balkonnya tergesa. Demi apapun, Acasha tidak kuat terus-terusan menatap ke sana. Jika mereka tahu Acasha kembali menangis dan besok menemukan bawah matanya bengkak luar biasa, keempat orang itu berubah rewel.
"Benar kah?"
"Iya."
Acasha menegang dalam beberapa detik. Berbalik cepat kemudian dengan raut wajah kaget. Bibir pucat Acasha sedikit terbuka, mengenali jelas sosok pria tampan duduk di bangku meja riasnya.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕