
Silver tentu kawalahan. Lukara dengan segala wadah energinya itu Silver akui luar biasa. Belum lagi sisi bertarungnya yang beberapa kali gagal Silver prediksi.
Namun, selama dia masih mampu berdiri Silver terus melawan. Sepertinya perkataan Silver sebelumnya sukses membuat Lukara tersinggung setengah mati.
"Aku cuma mengingatkan bahwa di luar sana kita tidak punya kerabat. Kita di paksa hidup sebatang kara, kisah itu di masa lalu sebelum kita semua saling mengenal." Silver menangkap tangan Lukara lalu membanting badannya ke lantai.
"Keluargaku mati mengenaskan, benar-benar tidak wajar." Silver memberitahu, detik ketiga mulut Silver menyemburkan darah karena Lukara tadinya terbaring kini sudah berdiri di belakangnya.
Kamar luas tersebut sungguhan berantakan, ranjang hangus terbakar begitu pula lemari yang ambruk.
Silver mengerang, mencoba mengabaikan perutnya yang langsung koyak Silver berbalik secara bersamaan mengangkat kaki, menendang dada Lukara.
"Aku ingin membunuhmu hari ini juga." Lukara termundur, menatap datar Silver yang mulai goyah.
Telapak tangan Lukara membentuk energi biru tua menyerupai anak panah. Anehnya, ujungnya berwarna merah menyala.
Silver melotot terkejut.
"Aku yang lebih dulu membunuhmu." Tepat ucapan itu mengisi rungu, busur panah yang memelesat ke arah Silver berubah menukik.
Seharusnya energi itu meledak habis-habisan, tetapi Narasea yang datang tepat waktu berhasil menjinakkan, sebagai gantinya menciptakan lubang besar yang mengerikan di tengah kamar.
"Sea." Silver memanggil tanpa suara sekedar bibirnya yang bergerak.
Silver ingin mendekat, memeluk erat-erat tubuh ramping itu lalu mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tidak, Narasea mana suka tuturan menenangkan seperti itu, Narasea lebih suka dia mengatakan perasaan cinta sebanyak-banyaknya.
Silver terus terbatuk darah, seiring detik kakinya goyah tak mampu lagi menopang. Silver jatuh dengan mata terpejam rapat kemudian.
"Apa yang kamu lakukan, hah?" Lukara menghampiri murka Narasea yang muncul di dekat jendela.
Narasea menoleh.
"Kamu sudah keterlaluan. Aku memaafkan kamu melukai Kalana, tapi sekarang kamu menyakiti Silver, aku tidak bisa lagi menahannya!" Narasea balas membentak. Mengetahui sang lawan bicara hendak membuka mulut, Narasea kembali melanjutkan sarkas. "Kamu melanggar peraturan yang kita semua buat!"
Perkataan Narasea bagaikan provokasi. Lukara menyadari, cepat atau lambat Narasea pasti akan mencapai batasannya.
Narasea selalu menolak jika dia dan yang lainnya menawarkan diri bertarung, sekedar menyaksikan seberapa banyak energi yang di simpan dalam tubuh masing-masing.
Selama puluhan tahun Lukara mengamati, sesuai dugaan wadah energi mereka sekedar pas-pasan pengecualian untuk perempuan bersurai cokelat terang berdiri satu langkah di depannya sekarang yang terkesan misterius.
Jadi, detik berikutnya tangan Lukara mengepal kuat berniat menghantam ke bawah dagu Narasea, mengambil kesempatan perempuan itu yang sempat hilang fokus.
Giliran Lukara yang terbelalak terkejut. Tinjuannya tertahan di udara, menyisakan jarak sejengkal.
Lukara mematung, belum sempat mencerna apa yang terjadi... hantaman di ulu hati lebih dulu mengenainya telak.
"Karena persahabatan kita semua tidak mampu di selamatkan, seberusaha apapun memperbaiki aku memiliki firasat berakhir sia-sia." Narasea berujar dingin.
"Kamu tidak ingin mengucapkan maaf, Lukara? Si awal kehancuran." Tidak membiarkan pria itu memperbaiki posisinya berdiri, Narasea menyambar tangan Lukara. Kali ini punggung itu kembali menghantam lantai dengan bunyi berdebum keras.
"Kurang ajar!" Lukara memaki kesal, sebelum kaki tanpa alas Narasea mendarat di perutnya, Lukara bergerak gesit mencengkeram pergelangan kaki perempuan itu.
Narasea terperangah.
Lukara tersenyum miring. Sekali sentakan, tubuh Narasea seketika berada di atasnya.
"Aku tidak akan pernah sudi meminta maaf." Lukara menyahut sinis. "Seharusnya kamu yang meminta maaf, berani-beraninya kamu melempar pukulan ke suamimu sendiri!" Lukara meremas pinggang Narasea, menahan diri tidak mematahkan tulang belakangnya.
Narasea mendongak. Netra yang hampir serupa tersebut saling tatap, kalau salah satunya mengartikan amarah maka pihak lain menunjukkan pendar kerumitan.
"Aku membencimu. Sangat membencimu. Lukara." Narasea berbisik serius.
*******
Tak memedulikan kehadiran sosok perempuan gaun berenda yang duduk di sebelahnya, Hazel membuang muka terang-terangan.
"Boleh aku meminta bantuan?" Narasea memecah kesenyapan sembari memperlihatkan tangan kirinya pada Hazel.
"Silver terus mengurung diri di kamar, aku ingin mendengar penjelasan ... mengapa cincinnya menghilang. Aku sungguhan kaget saat terbangun tadi pagi." Bibir Narasea bergetar mengungkapkan.
Hazel melirik singkat. "Itu berarti Silver tidak mencintaimu lagi, anggap saja begitu, Sea."
Narasea menegang.
Hazel beranjak.
"Aku berada di pihak Silver karena kembaranku memilih berpihak kepada pengkhianat, aku tak keberatan memutuskan persaudaraan." Hazel mencemooh. "Kamu dan Lukara tidak berbeda jauh, sama-sama pengkhianat menurutku."
Narasea terduduk kaku. Pertama kalinya mendengar ucapan kejam Hazel. Narasea memandangi kosong Hazel yang berjalan pergi.
*******
Belum sepenuhnya memasuki kastil, lengan kanan Narasea lebih dulu di pegangi erat hingga langkah kakinya berhenti mendadak.
Ariyan yang sengaja melakukan, buru-buru meletakkan telunjuk ke bibirnya sendiri. Narasea yang paham, spontan menutup kembali mulutnya.
Narasea mengerutkan kening ikut menyapu pandangan ke sekitar halaman belakang kastil, tidak ada seorang pun hanya mereka berdua yang masih di luar.
"Kamu butuh tempat menenangkan diri, Sea. Aku bersedia membawamu ke sana." Ariyan berkata lembut.
Jika semua orang bersikap dingin sewaktu-waktu yang bagi Narasea terasa asing di matanya, maka Ariyan berbanding terbalik.
Mereka yang menjadi dua kubu seakan-akan bukan lah apa-apa.
"Tentu." Narasea tersenyum tipis. "Karena aku yang paling kuat di antara kita berdelapan, tidak usah berjalan kaki ke tempat yang kamu maksud. Tugas kamu cukup bayangan." Narasea menyentuh pundak Ariyan.
Ariyan mendelik. "Jangan berbicara sombong jika kamu saja anti melawan Lukara, setidaknya buat lah Lukara sekarat lalu sadar yang dia lakukan adalah kesalahan." Ariyan mengamati wajah cantik Narasea dari samping. "Aku di pihak kamu dan Silver, selamanya akan seperti itu."
Narasea tertawa pelan, matanya yang terkatup sedikit terbuka. "Terima kasih, aku menghargai keputusan kamu, Ariyan..."
*******
"Ini mungkin karma, sebab aku terlalu membayangkan kebahagiaan kita di kemudian hari." Narasea berkata lirih, sebagian kakinya masuk ke air danau yang dingin.
Ariyan menggeleng. "Bukan, menurutku Lukara yang licik. Ambisinya itu benar-benar memuakkan, padahal dia tau fakta kamu bersama Silver tidak bisa di pisahkan."
"Sepertinya kami akan berpisah." Narasea menunduk, matanya memanas mengingat ucapan Silver tentang cincin di jari manisnya dan pagi ini cincin itu telah menghilang, cuma meninggalkan bekas layaknya luka.
"Apa?" Ariyan menjawab terkejut.
Mengabaikan ekspresi Ariyan yang meminta penjelasan, telapak tangan kanan Narasea terulur.
"Perasaan Lukara adalah malapetaka, persahabatan kita semua tidak tertolong lagi. Aku sudah memutuskan tanpa menyisakan penyesalan untuk diriku sendiri."
Narasea memandangi tepat bola mata Ariyan dengan penuh keyakinan. "Berjanji lah kamu selalu di dekat Silver, baik suka maupun duka. Kamu tetap menjadi sahabat setianya."
Ariyan menelan ludah, hawa tidak nyaman mengitari sekeliling. Tidak ada alasan untuk menolak, lagi pula mereka memang bersahabat semenjak lama, bahkan sebelum mengenal Narasea dan lima orang lainnya.
"Aku berjanji." Ariyan menyambut tangan Narasea yang di balas oleh senyuman tulus.
******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕