The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 65 ~ Long Time No See



Menggelar tikar sederhana tiga remaja duduk bersila, satu laptop berada di depan meja, menayangkan film romansa komedi. Sementara sang pemilik rumah berdiri tak jauh, sedang mencuci piring dengan posisi membelakangi.


Biasanya, Sashi bakal tersipu gemas mendapati dua tokoh utama di landa mabuk kepayang. tetapi segalanya berbeda jika pikiran Sashi berada di mana-mana. Tatapan Sashi kosong. sesekali ekspresinya gelisah.


"Kita nggak bisa diam kaya gini!" Gadis bertubuh mungil itu mendadak mengebrak meja yang bikin dua orang cowok di belakang sibuk mengigiti jagung rebus terkejut.


Sashi menengok. "Pokoknya kita harus cari Acasha!" Sashi berujar penuh tekad. "Ini udah dua puluh enam hari."


"Sia-sia." Janu menyahut lelah. Kesekian kali mendebatkan hal sama. "Lima keluarga ningrat di sekeliling Acasha aja nggak ketemu bahkan gue yakin mereka udah cari ke sarang semut pun tetap hasilnya zonk."


Sashi berdecak, membalikkan badan menghadap Janu sambil bersedekap. Tentu, Sashi paham siapa yang dimaksud keluarga ningrat.


"Sampai kapan kita terus pangku tangan?" Nada suara Sashi berubah sengit.


"Kalau kita bantuin mereka yang ada mereka risih."


"Kenapa mereka harus risih?!"


"Karena liat orang-orang enggak berguna, bisanya jadi beban."


"Sial!"


Janu menyengir tengil. Sashi menahan diri tidak mengeplak wajah Janu.


"Gue lebih penasaran siapa yang berani culik Acasha. Selama hampir sebulan ini belum ketemu, jelas banget pelakunya bukan identitas sembarangan. Sakti sedari tadi diam akhirnya menceletuk. "Menurut kalian siapa pelakunya?"


"Ya, mana gue tau!"


"Astaga, Sashi. Air liur lo muncrat ke muka gue."


Mengetahui gerakan Sashi hendak menerjang Sakti, Janu buru-buru merentangkan tangan melindungi. "Gue tau penculik Acasha," ujar Janu menarik atensi Sashi di susul Sakti yang bernapas lega kemudian.


"Siapa?" Sashi memicing.


"Seperti yang Sakti bilang sebelumnya, sang penculik bukan identitas sembarangan..." Jeda sejenak, Janu sengaja menggantung ucapan agar keduanya bereaksi tegang. "Penculik Acasha itu pasti alien. Alien!" Janu lalu terbahak-bahak menunjuk wajah Sashi dan Sakti yang seketika berubah masam.


Tawa melengking Janu tidak berlangsung lama sebab tahu-tahu dari balik punggung telinga Janu di sentil kuat.


Mamanya Yasa berdiri di sana seraya berkacak pinggang. "Jangan bicara aneh-aneh soal calon mantu saya," tutur Zahira.


Janu menegang lain halnya Sashi terbatuk kering. Pura-pura tak acuh, begitu pula Sakti yang membuang muka, tetapi keduanyadiam-diam memasang indra pendengar baik-baik menangkap omelan Zahira.


Sementara Yasa di depan wastafel dengan tumpukan piring sekaligus gelas baru saja di cuci tersentak. Kegiatannya berhenti, menoleh ke arah sang Mama beralih memuji seseorang yang sekarang kehadirannya tidak ada.


Tangan Yasa mencengkeram tepian piring, raut wajahnya agak muram. Jika berkelanjutan seperti ini, pengendalian dalam dirinya akan terkikis.


Hilangnya Acasha, Yasa merasa kosong. Pertemuan pertama kalinya dulu Acasha dengan Zahira terkesan dingin bahkan Zahira mengusir terang-terangan.


Namun, di pertemuan berikutnya sikap Mamanya mulai berubah. Tiap Acasha datang maka di sambut heboh oleh Zahira. Yasa sadar, bahwa kedatangan Acasha yang menenteng buah tangan termasuk alasan Mamanya bersikap ramah.


"Dasar keras kepala." Yasa bergumam, tersenyum samar. Dia pernah memperingati Acasha tidak membawa apapun kala berkunjung ke rumahnya hanya Acasha abaikan.


Yasa selalu mengingat baik. Momen bersama gadis itu, menjadikan peraturan tak tertulis yang patut di kenang.


"Asa!" Panggilan Zahira menyadarkan Yasa dari lamunan. "Mama sama Aba mau ke pasar. Kamu jagain rumah, jangan terlalu diberantakin." Zahira berjalan mendekati anak tunggalnya tersebut.


Yasa mengangguk. Melirik sekilas Sashi dan Sakti cekikikan bahagia, menunjuk-nunjuk telinga Janu. Pasti sebelum Zahira ke tempatnya Zahira lebih dulu menjewer telinga Janu.


"Temen kamu pakai tindik itu bilang Mama galak." Zahira cemberut.


Yasa meraih kain kering menggantung di rak piring, mengusapnya bergantian di telapak tangan yang basah. Garis wajah memperlihatkan ketenangan, siapapun memandangi bakal menyimpulkan sosok Yasa berhati lembut.


"Namanya Janu." Yasa mengikuti Zahira menuju pintu belakang, ada dua akses keluar rumah melewati gang atau bagian depan yang menyatu dengan kantin sekolah.


Jarang sekali Yasa menemukan sang Mama melalui depan, padahal lebih nyaman. Tanpa perlu mencium bau sampah busuk termakan masa.


"Ke pasarnya kenapa sore, biasanya kan pagi?" Yasa bertanya penasaran, tangannya terulur mengambil tas belanja di kursi bambu menyerahkannya pada Zahira yang mengenakan sandal.


"Mulai sekarang Aba kamu maunya sore. Kalau pagi buta ribet katanya, apalagi jalan perempatan dekat rumah susun itu lampunya hampir mati semua jadi bahaya. Zahira menjawab lembut, memeluk lengan Yasa. "Muka kamu ini antara berpaduan Mama dan Aba tau, Asa. Terus jangan sedih, Acasha aliasnya calon mantu Mama pasti bakal ketemu kok."


Yasa tertawa pelan. Kakinya memasuki rumah setelah punggung kedua orang tuanya tertelan oleh jarak di atas motor.


Tiba di ruang tengah Yasa disambut Janu bersama Sakti mengutak-atik tirai jendela.


"Kalian ngapain?" Yasa mengerutkan kening.


Yasa menatap aneh terlebih Sashi yang menutup mata.


"Gue cape punya temen sedeng." Sashi mengeluh, menarik lengan kaos Yasa menyeretnya menjauh.


Keduanya berakhir duduk berhadapan, Sashi bertopang dagu, sorot mata lurus tertuju ke Yasa di seberang, membuka lembaran buku pelajaran.


"Menurut lo Aca pergi ke mana?"


"Gue nggak bisa jawab."


"Tap....."


"Yasa!" "Teriakan melengking menyela ucapan Sashi, secara bersamaan seorang wanita muda muncul mendobrak pintu.


Yasa sontak bangkit terkejut seiring perasaannya terselimuti tidak nyaman mendapati wanita dia panggil Bibi itu tiba-tiba berlutut dengan air mata bercucuran.


*******


Harus kah Acasha menyalahkan Hazel detik ini. Mengapa dia berujung berbaring di tanah basah bukan kamarnya yang paling tentram.


Habis mencium keningnya, Hazel membisikkan kata-kata misterius yang panjang lalu pandangan Acasha berbarengan gelap.


"Hazel sialan!" Acasha mengumpat. Pakaian membungkus tubuh jelas-jelas piyama sebelum Hazel menjemputnya di malam itu. Apesnya, sekarang bayah kuyup dan kotor.


Acasha tanpa sadar menegang kemudian, ada kemungkinan buruk melintas di benak yang Acasha harapkan salah.


"Area sekitar sepi, rumput lembap, tanah becek. Sebenarnya gue di mana?" Kaki Acasha berdiri hati-hati, jeritan tertahan keluar di bibir saat sengatan perih Acasha rasakan bertubi-tubi.


Gila!


Ini sebenarnya di mana?!


Batin Acasha menjerit. Napasnya tersengal-setiap setiap mengambil langkah. Jujur saja, Acasha benci dalam kondisi lemah.


Langit gelap berhias awan tebal, angin dingin menusuk semua kulitnya. Penerangan berupa sinar bulan di atas sana, Acasha menggigil setengah mati. Tinggal menunggu waktu dia bakal tumbang.


"Ayah ...." Bibir sepucat kertas itu bergumam parau. Mata Acasha memanas.


Belum sempat Acasha membungkuk berniat menggulung celana, sekedar melihat bagian mana kakinya yang terluka, sorot cahaya tetiba menyilaukan mengarah lurus ke wajah, refleks Acasha memicing.


"Anjir, setan!" Seruan itu memenuhi rungu. Acasha cepat-cepat mendongak sambil menyibak rambutnya. "Ac... Aca." Sosok itu melanjutkan tergagap.


Acasha langsung kebingungan. Siapa? Jarak yang cukup jauh, membuat Acasha tidak mampu mengenali, cuma dari suara Acasha tau bahwa orang itu laki-laki.


"Acasha?" Dia berlari menghampiri. "Kenapa kamu di sini? Ini beneran kamu, kan?" tanyanya ragu.


Acasha mengangguk. Sebelah tangan Acasha spontan memegangi sosok laki-laki di depannya, menyadari tungkainya lagi-lagi goyah.


"Lo siapa?" Acasha ingin waspada, tetapi keadaannya detik ini tidak memungkinkan memberikan perlawanan.


"Kamu lupa?" Tatapan tersebut menyiratkan kecemasan lalu membantu Acasha berdiri. "Aku, Yoga."


Seingat Acasha tidak ada orang-orang di sekelilingnya yang bernama Yoga.


"Atau kamu kenali sebagai Yoyo." Yoga tersenyum tipis. "Kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa kamu di sini? Ini pinggiran kota tempat kita tinggal dulu."


Acasha terperangah.


"Itu nggak penting." Mustahil Acasha jujur. "Kaki gue sakit banget..." Acasha berkata lirih, kepalanya mau tak mau bersandar di pangkal lengan Yoga.


Kesadaran makin menipis. Acasha hendak terpejam, namun telinga Acasha menangkap keributan disusul posisi Yoga menopang badannya hilang begitu saja.


"Dugong!" Panggilan yang teramat Acasha kenali dan seakan ingin menulikan telinga.


Silver menangkup pipi Acasha, tatapan mengartikan ketidakpercayaan. Sama sekali tidak bersalah telah mendorong Yoga hingga terjerembab ke tanah.


Kallen dan Iyan baru menyusul kompak menahan napas.


*******


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕