The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 41 ~ Aku Memaafkannya



Seandainya Luka tidak menghentikan Silver sudah pasti pisau tengah Silver pegang menusuk perut Grace.


Cukup melayang sekali, maka Silver yakin akan tepat sasaran, tetapi Luka diam-diam melempar kode di balik punggungnya pada Cleo hingga tahu-tahu Cleo menyeretnya paksa keluar ruangan.


"Ayah, mukanya jangan kaya mau makan orang gitu. Aku takut." Acasha menyikut perut Silver yang sedang melamun.


Malam harinya, formasi mereka benar-benar lengkap bahkan Kalana juga hadir. Alhasil, Acasha di buat tegang.


Bagaimana bisa... kertas Hazel berikan, tertulis orang-orang yang disebut delapan bintang keberuntungan adalah sekeliling Acasha dan detik ini satu ruangan dengannya. Pengecualian Hazel.


"Tangan lo dingin." Mata Silver memicing sambil menarik tangan kecil Acasha. "Basah lagi, katanya sehat ternyata masih sakit. Bagus ya lo makin hari pandai nipu," lanjutnya kesal.


Tidak. Acasha telah mendingan, alasannya berkeringat dingin karena masih tak percaya bahwa yang terjadi dalam hidupnya bukan lah suatu kebetulan.


Perasaan Acasha kembali campur aduk. Acasha melirik Kallen dan Kalana duduk berdampingan di sofa, hal yang biasa beberapa tahun terakhir.


Orang lain sekali lihat selalu menyimpulkan mereka seperti sepasang kekasih, tapi tidak tahu saja fakta sebenarnya.


Ada kalanya Acasha ingin membebaskan Kalana dari jeratan kesintingan Kallen.


"Aku..." Acasha memelas. "Aku mau tidur, Ayah. Boleh, kan? Ngantuk banget."


"Dasar bocah dugong enggak tau terima kasih. Jangan tidur dulu." Silver mengetuk gemas kening Acasha dengan kurang ajarnya.


Acasha menepis tangan Silver. "Oke, tapi aku minta Ayah jangan berisik." Acasha menarik selimut yang sebelumnya membungkus tubuh Acasha, Silver jadikan persis sarung tinju.


"Si penyihir itu udah nggak ada di rumah lo. Aman sekarang. Silahkan pergi." Iyan di samping ranjang kiri Acasha bertopang dagu mengusir terang-terangan.


Silver berdecak kesal, tatapan tajamnya lurus


pada Iyan.


"Lagian orang tua lo baru datang setelah perjalanan bisnis, ada kesempatan besar mereka berubah pikiran tentang Grace." Iyan kali ini bersedekap tampak bangga yang terucap di bibirnya.


Acasha diam-diam mendengarkan. Sejujurnya penasaran keadaan Grace, saat Acasha menanyakan mereka kompak diam.


"Grace bisa batal jadi abu loh, Ver. Intinya sih lo harus nempel dulu sama nyokap lo, Tante Jingga. Mengingat Tante Jingga punya belas kasihan berlebihan sama Grace," tutur Iyan serius.


Acasha beringsut kaget mendapati Silver mengacak rambutnya sambil menghentakkan kaki ke lantai kemudian.


"Ayah, kenapa?" Acasha melotot horor.


"Mana upah gue? Hari-hari indah gue terbuang sia-sia karena lo." Silver menyahut yang sama sekali tidak Acasha harapkan.


Acasha menahan diri tidak menyemburkan umpatan. Cara satu-satunya agar Silver bungkam cepat, Acasha perlu bertindak di luar dugaan.


Acasha menarik paksa kaos Silver kenakan. Meminta Silver menunduk hanya akan dicurigai, tiga detik selanjutnya Acasha mengecup pipi Silver.


Acasha tersenyum manis.


"Jarang-jarang aku kasih ciuman sayang sama Ayah. Itu spesial." Tawa Acasha pecah, suasana hati Acasha seketika berubah cerah menemukan wajah Silver yang memerah.


Iyan tadinya terbelalak terkejut, kini bergidik ngeri. Baru pertama kali Iyan melihat langsung Silver salah tingkah.


"Gue ... pulang!" Silver berseru gagap sambil berbalik badan, melangkah tergesa-gesa menuju pintu.


"Pengen muntah." Iyan bergumam mengusap belakang lehernya yang meremang.


Acasha membaringkan tubuh dengan tawa tersisa. Sungguh, reaksi Silver sangat lucu di matanya. Acasha cukup terhibur.


*******


Acasha tertidur sekitar empat jam, melirik jam bundar menempel dinding menunjukkan waktu telah lewat tengah malam.


"Melly." Acasha memanggil parau. Memastikan wanita mengelap nakas dengan tisu ialah pengasuh setianya.


"Nona." Melly mendekat lalu memeriksa saluran infus Acasha. "Bagian mana yang sakit?" ujarnya agak cemas.


Acasha terkekeh geli. "Aku cuma mau bilang, kalau Aca kangen sama Melly. Bagaimana dengan liburannya? Udah dapat belum calon suami." Acasha berkedip penuh arti.


Melly menggeleng cepat.


"Berapa kali saya menjawab hal sama, Nona. Saya tidak mungkin menikah... bukannya Nona tahu, sebagian pekerja Natapraja tidak di perkenankan memiliki keluarga, hampir semuanya hidup sebatang kara." Melly menjelaskan lembut, kedua tangan memperbaiki letak selimut si anak perempuan.


Acasha terdiam.


"Nona butuh sesuatu?" Mengerti tatapan tersebut Melly meneruskan. "Mas Luka berada di balkon, saya akan memanggilnya."


Acasha membiarkan. Pada dasarnya Acasha memang ingin membicarakan sesuatu.


Kedatangan Luka tanpa Acasha menunggu lama, seiring melangkah kaki panjang itu hidung Acasha menghirup jejak tembakau.


"Ayah."


"Iya?"


Acasha menelan ludah. Tidak menolak saat Luka membantunya duduk.


"Ayah menghilang beberapa hari lalu karena berobat, kan? Apa ada sangkut pautnya Ayah yang sering bermimpi buruk?" Acasha bertanya dengan nada polos sekaligus sedikit penasaran.


Lagi pula Luka selalu gelisah dalam tidur hal amat biasa. Para asisten mansion mengetahui tersebut, begitu pula empat orang lainnya.


Siapapun menemukan pertama kali berkewajiban membangunkan Luka hingga detik ini menjadi peraturan yang tak tertulis.


Luka bergumam mengiyakan. "Gagal. Justru semakin parah," jawab Luka datar.


Acasha terperangah. Mencoba menemukan kebohongan di netra kelabu Luka malah Acasha tidak sanggup berlama-lama memandanginya.


"Pasti berhubungan dengan Narasea-Narasea itu, kan. Ayah?" Acasha menunduk, sebelah tangan Acasha terulur memegangi lengan Luka.


"Mungkin. Semua orang mengiranya begitu." Luka tak menyangkal.


Acasha menggigit sudut bibir. Jika di masa lalu Luka penyebab kekacauan dan berbuat kesalahan fatal hingga membuat orang-orang yang selalu bersamanya ikut menanggung sakit,


jelas tak dapat dimaafkan di masa itu.


Namun, sekarang segalanya berbeda. Mereka bereinkarnasi tanpa membawa ingatan apapun meskipun di sisi lain kutukan tetap menyertai.


Acasha sebagai pemberi kutukan dalam wujud dari sosok Narasea di masa lampau saja, tidak mengingat apapun.


Kadang Acasha berpikir mengapa dia harus mengutuk mereka? Se-sakit itu kah dirinya, sampai mereka... memang pantas mendapatkannya.


Acasha mendongak. Mempertemukan kembali sepasang mata kelabu Luka yang tetap menatapnya, kali ini raut wajah Luka terang-terangan memperlihatkan kebingungan.


"Aku memaafkannya ...." Acasha berbisik yakin. Aku berbicara sebagai sosok Narasea. "Jadi, berhenti terjerat perasaan bersalah. Aku memaafkannya, Lukara."


Luka tertegun lama. Air mata mengalir membasahi pipi, sekali pun dia mengetahui anehnya Luka tidak menyekanya.


Luka merasa, kata-kata itu lah selama ini dia nantikan.


*******


Ada yang nunggu cerita ini update?


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕