The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 24 ~ Monster



Jatuh, lalu kembali bangkit. Dentuman lutut bertemu lantai sesekali memecah keheningan. Sudah dua kali juga tertelungkup.


Alasan tetap berdiri tegak dan berjalan terus gagal, karena sepasang kaki itu terlihat sangat


gemetaran hebat.


Kallen memandangi datar ambang pintu kabin pribadinya. "Ngapain lo masih di sini, Nares? Pergi!" Kallen mengibaskan tangan. "Tutup pintu, tinggalin kami berdua!" titahnya sedikit membentak.


Nares mengangguk patuh tanpa perlu menengok ke belakang, pergi begitu saja meskipun di lubuk hati Nares tebersit perasaan bersalah pada sosok perempuan yang kini bersama Kallen di dalam sana.


Seharusnya Nares tidak memberitahu bahwa dari lima belas orang perempuan yang menjadi korban pelelangan prostitusi terdapat satu yang cacat.


Sementara itu di kabin kapal, Kallen mengamati kehadiran orang lain di tempat pribadinya tengah meraba dinding.


"Jalan sekitar delapan langkah, agak serong setelahnya... kalau rambut lo beterbangan berarti itu udah di dekat gue." Kallen menjelaskan kalem. "Gue duduk di depan jendela, gadis buta!"


Dia menurut.


Kallen tersenyum tipis sembari menyingkirkan kursi yang menghalangi, menyadari gadis tersebut lagi-lagi mulai salah langkah kesekian kali, penuh kesabaran Kallen menuntunnya kemudian.


"Di balik punggung lo ada meja, gue mau lo duduk di sana. Bisa naik, kan? Atau mau gue bantu," gumam Kallen.


"Aku bisa sendiri...." Dia menyahut parau seiring detik berlalu air mata menetes ke pipinya.


Kallen melihat, sama sekali tidak terganggu justru mengamati lekat gadis buta dihadapannya sekarang yang hanya menyisakan jarak tak terlalu jauh.


"Jadi, siapa nama lo? Enggak mungkin, kan, gue terus manggil lo gadis buta," ucap Kallen.


"Kalana." Kedua tangannya saling meremas dengan kepala tertunduk.


"Gue Kallen Tamara, cuma orang dungu yang nggak kenal nama itu." Sebelah tangan Kallen terulur mengangkat lembut dagu Kalana. "Umur lo berapa, Kalana?" tanyanya.


"Tujuh belas tahun." Kalana terisak, siapapun mendengar akan mengetahui bahwa sosok gadis itu berusaha untuk tidak berbicara tergagap.


Kallen menyeringai tipis. "Kalau gitu kita seumuran." Kallen berbisik, mencodongkan badan menikmati mata Kalana nampak linglung dan basah.


Mainan ini, mengapa lucu sekali. Dia buta, tentu saja membuat adrenalin Kallen tambah terpacu. Nanti setelah dia pulang Kallen berjanji mengucapkan terima kasih pada Luka sebab mengizinkannya bersenang-senang.


Kalana? Sepertinya Kallen tidak pernah bosan terus menyebut nama itu berulang-ulang.


"Oke, gadis bu--maksud gue, Kalana." Kallen bertepuk tangan. "Lo bakal jadi hewan peliharaan gue mulai detik ini, untuk itu lo harus jinak, oke?" Kallen tertawa senang.


Merasa tidak puas Kallen menarik Kalana ke dada bidangnya, melingkarkan tangan di pinggang Kalana.


"Gue bahagia banget." Kallen mengungkapkan jujur. "Akhirnya gue punya hewan peliharaan~ gue janji buat lo bahagia, Kala." Kallen memeluk Kalana erat.


*******


Acasha merasa bersalah telah bertanya tentang Narasea. Luka saja tidak tahu apalagi Acasha, siapapun Narasea itu sangat tega membuat Luka se-rapuh ini.


"Gak papa, Ayah. Aca akan selalu bersama Ayah." Acasha meraih tangan besar Luka agak kesusahan mengangkatnya. "Ayah yang lain juga selalu bersama Ayah."


"Ya, kegilaan mereka cuma gue yang mampu menerima." Luka meletakkan telunjuk di kening Acasha, mengusap keringat yang bermunculan disana. "Orang-orang gila itu takut sama gue, Aca."


Dalam hati diam-diam Acasha mengejek bukan kah Luka juga tidak jauh berbeda dengan empat orang itu, bahkan kemungkinan Luka lebih parah. Tentu, para orang waras lebih baik mundur alon-alon.


"Aku pengen ketemu Melly."


"Sebentar."


Sekali melompat Luka sudah turun dari dinding beton pembatas atap meninggalkan Acasha sendirian. Acasha panik sekaligus waswas baru menyadari ada beberapa orang asing di belakang Luka.


"Aya--"


Mulut Acasha kembali terkatup, tahu-tahu Luka menangkap satu kaki yang nyaris menendang punggung Luka lalu membanting tubuh sang pelaku ke lantai.


"Tiga orang sampah ini kayaknya cari mati." Luka berkata hina sambil meraih Acasha, menempatkan Acasha di sebelahnya.


Acasha tercengang. Luka belum sembuh dari sakit bagaimana kalau kenapa-kenapa.


"Halo, iblis!" Landi, salah satu musuh bebuyutan hades itu menyapa Luka riang. "Gila, muka lo pucet banget. Gue malah lebih percaya lo yang mau mati." Landi lalu bangun di bantu dua temannya.


Acasha mengerjap, seharusnya Acasha tidak usah khawatir yang di harus di khawatirkan adalah ketiga orang bodoh ini sebentar lagi meregang nyawa, tapi Acasha tak peduli. Sungguh malang, padahal susah payah memanjat gedung entah di mulai dari lantai


mana.


Luka tersenyum licik. "Sebelum gue mati gue wajib liat darah kalian dulu mengalir di bawah kaki gue," balas Luka dingin.


"Banyak bacot lo, bangsat!" Landi menerjang Luka, sayangnya Luka punya refleks bagus untuk menghindar, di saat Landi sedikit lagi terhuyung menabrak dinding Luka gesit mencengkeram tengkuk Landi.


Landi seketika menjerit kesakitan. Luka bersikap tuli, kedua kali membanting Landi namun sangat keras hingga terdengar tulang-tulang yang patah.


"Nikol, Zo, Bobi. Nanti giliran kalian." Luka tertawa di telinga siapapun menyiratkan hal mengerikan.


Acasha tadinya berdiri kaku dibuat merinding, seolah-olah tidak cukup kedatangan Silver yang tiba-tiba berlari menghampiri sambil memegangi revolver.


"Jangan lupain gue. Gue butuh hiburan juga!" ujarnya galak.