The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 55 ~ Cerita Di Masa lalu (a)



Delapan bintang keberuntungan, keberadaan mereka itu selalu di anggap sekedar dongeng anak. Tidak banyak tahu itu nyata atau justru khayalan semata, tetapi ada yang juga yang sebagian percaya bahwa mereka teramat nyata.


Kebanyakan yang pernah melihat secara langsung. Mereka, di berkahi mempunyai kekuatan supranatural, berumur panjang dengan mata khas berwarna biru dan regenerasi cepat.


Visual para manusia yang di berikan berkah tersebut layaknya baru keluar dari lukisan, indah sekaligus menakjubkan. Selama apapun kamu memandangi mustahil bosan.


Narasea termenung usai membaca buku di pangkuan, padahal belum setengah lembar Narasea baca. Rasanya aneh saja.


Selama ini Narasea jarang berinteraksi dengan orang-orang di luar sana. Lingkungannya hanya berada di kastil, hutan rimbun, dan laut dengan pinggiran beberapa bebatuan karang.


Dari jendela kamar Narasea memandangi nan jauh di sana, walaupun begitu dia masih mampu menatap jelas air laut yang jernih nampak berkilau di bawah sinar matahari menggantung di lantai cerah.


Buku tipis itu belum sampai ke rak dekat perapian, tanpa perlu Narasea repot-repot berjalan, karena tahu-tahu sudah di tangkap oleh seseorang berdampak terhadap benang samar di ujung bukunya seketika terputus.


"Kamu tau, Sea, Kekuatan kita lebih daripada yang tertulis di sini." Cleoandra menghampiri. "Atau tepatnya kamu." Dia tersenyum sambil membolak-balikkan lembaran kertas tengah di pegang.


"Jujur, aku ingin sendirian."


"Tujuanku menemuimu mengabari sesuatu."


Narasea melirik Cleoandra di sampingnya. Seingat Narasea, telah memperingatkan ke semua penghuni kastil jika dirinya tidak mau menerima tamu seorangpun ke kamar, namun mendapati Cleoandra yang menunjukkan tampang biasa saja, Narasea mulai penasaran.


"Silver."


Narasea menoleh terkejut, mendengar satu nama itu terucap di bibir Cleoandra membuat Narasea tak bisa menutupi raut wajah senang kemudian.


"Silver mengatakan bahwa esok hari, sebelum matahari terbenam dia tiba di perbatasan hutan. Sebenarnya ini rahasia, tapi aku terganggu terus-terusan sepanjang musim dingin menemukan ekspresi murammu, Sea." ujarnya menjelaskan.


"Benar kah?" Narasea tersenyum lebar di sisi lain sedikit kesal pada Silver yang justru menyampaikan itu ke sahabatnya yang lain. Kemungkinan Narasea paling terakhir mengetahui dengan dalih kejutan.


Cleoandra mengiyakan.


"Terima kasih." Narasea membalas tulus lalu memeluk Cleoandra. "Aku merindukan Silver. Malam ini aku pastikan aku akan tidur nyenyak," lanjutnya berbisik.


Menerima pelukan hangat Narasea, kelopak mata Cleondra terpejam sementara satu tangan di balik punggung Narasea terkepal kuat, dan buku masih Cleoandra pegang berubah menjadi remasan kusut.


Maaf! Batinnya selalu merapal satu kata itu.


Tepat dekapan saling terlepas, Cleoandra bergerak lebih maju mendekati jendela hingga jarak tercipta. Narasea sendiri memutuskan melangkahkan kaki ke lemari, berniat memilah pakaian yang cocok untuknya besok.


Tidak keberatan kehadiran Cleoandra lagi pula Narasea sudah melakukan telepati dengan Kalana agar menuju ke kamarnya sesegera mungkin.


*******


Sepasang kaki Narasea basah oleh air danau, menikmati dinginnya air yang berhasil merilekskan jari-jarinya. Rambut hasil kepangan tangan sendiri, ternyata tidak terlalu buruk meskipun Narasea harus mengerjakan berulang-ulang. Menolak halus tawaran Kalana.


"Sea!" Seruan tersebut memenuhi rungu mengantarkan Narasea menoleh cepat, melompat berdiri mengira Kalana dalam keadaan berbahaya. Baru Narasea sadari Kalana tertinggal jauh.


Perempuan bersurai perak berlari ke arahnya sontak Narasea waspada.


"Tenang saja, tidak ada hal buruk." Seolah-olah mengerti pemikiran Narasea, Kalana. mengungkapkan geli merasa terhibur. "Aku sempat bertemu Lukara dan dia berpesan kita pergi ke tengah hutan lebih dulu sebelum menyambut Silver..."


Narasea terdiam sejenak. "Buat apa?" tanyanya heran. Narasea melirik langit yang mulai menjingga.


"Aku tidak tau, tapi sepertinya penting," jawab Kalana jujur.


Narasea sedikit bimbang.


"Aku akan membantumu jika nantinya Silver marah, kamu datang terlambat."


"Dia bukan pemarah."


"Lukara jarang sekali meminta aku menemuinya. Biasanya dia yang lebih dulu datang, aku selalu menghargai kalian." Narasea menyahut tenang. Jemarinya menjentik membentuk gerbang bundar yang berukuran cukup muat dimasuki orang dewasa.


Kalana bersiul takjub, seharusnya mereka melakukan ini lebih awal bukan berjalan kaki menyusuri hutan.


*******


Dia sungguhan menunggu momen ini. Menjilat bibir terasa kering, pria memiliki netra biru tua itu menyunggingkan senyuman tipis.


Pandangan lurus mengarah ke satu titik. Cepat atau lambat targetnya pasti menyadari letak dia bersembunyi, untuk itu Lukara anti membuang waktu yang tersisa.


Memegangi kuat busurnya lalu anak panah siap membidik tepat sasaran. Tanpa air muka berarti, Lukara ... langsung melepaskan anak panahnya.


Sementara Narasea yang baru tiba di bawah sana, tak sempat menghindar. Sejenak, dia kaget. Mengerjap-ngerjap linglung, tangan Narasea menyentuh anak panah menembus perutnya.


"Sea!" Kalana berseru cemas.


Narasea jatuh berlutut, mengabaikan kepanikan Kalana. Perempuan bersurai coklat terang itu mendongak, seakan tertangkap basah sosok yang tengah duduk di atas pohon tersebut melompat ke bawah.


Lukara berjalan mendekat. "Terima kasih, Kalana." Lukara kembali tersenyum, memandangi Kalana sepenuhnya. Lukara berjongkok di depan keduanya. "Membawa Narasea untukku, aku akan memberikan balasan sesuai kehendakmu..." lanjutnya.


Kalana memucat. Tidak mengerti apapun kini.


*******


"Narasea, aku sangat mencintaimu. Sangat. Di awal kita bertemu puluhan tahun silam, kamu membungkuk sebagai salam perkenalan, menyentuh telapak tanganku, lalu menyebut namamu ... saat itu pula aku benar-benar punya alasan tetap hidup."


"....... "


"Sebelum kamu datang ke kastil ini, berumur panjang menurutku kejam. Kita harus melihat orang-orang yang kita kasih menua setelahnya mati."


Sekalipun mengetahui berbicara sendiri karena pihak lain terus bungkam, Lukara tidak memedulikannya.


Cuma satu cara supaya wanitanya itu mau membuka mulut.


"Silver berada di hutan seberang, aku sengaja membuat Silver tersesat. Sebenarnya bukan hanya Silver melainkan Ariyan dan Hazel bernasib sama." Dia menyeringai samar menangkap gerakan Narasea di ranjang. "Aku bermurah hati hewan buas di sana tidak membunuh mereka."


"Aku yang akan membunuhmu, sebelum kamu sempat menyentuh mereka!" Narasea berujar sinis.


Lukara tertawa pelan. Tangan menumpu di ranjang, setengah badan Lukara condong menghapus jarak.


"Kamu tidak bisa, Sea. Kita bersahabat, mungkin."


Narasea membuang muka. Matanya memerah menahan amarah bergejolak di dada.


"Nyawa Kalana di tanganku, Cleoandra dan Kallen juga pihakku. Jadi, apa yang kamu bisa?"


Bibir Narasea terkantup rapat.


"Selama jantung sekaligus kepala tidak terluka fatal, mereka akan terus bernapas. Tak perlu khawatir berlebihan, mereka mampu menyembuhkan diri masing-masing walaupun tidak secepat kamu, Sea."


Lukara meraih tangan kiri Narasea, mengamati jari manis yang melingkar cincin. Tatapannya semakin dingin. "Sebentar lagi kita menikah. Aku ingin cincinnya terlepas," bisik Luka serius.


Giliran Narasea mengukir senyum, namun mengartikan provokasi. "Sayangnya mustahil."


"Kalau begitu aku yang melepaskan..." Lukara menunduk, mendekatkan paksa jari manis Narasea ke mulutnya. "Satu jari remuk tidak apa-apa, kan?"


*******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕