
Sudah hampir satu minggu Acasha di sini, markas kumpulan orang-orang yang berjenis kelamin laki-laki.
Bayangkan saja dia tinggal di bangunan terbengkalai, banyak debu semen yang berceceran dan tidur beralas kardus.
Pada akhirnya Acasha menerima takdir yang terjalin, mengeluh pun sia-sia. Biarkan waktu menjawab akan alasan jiwanya berada di tubuh anak perempuan, berumur empat tahun.
"Dia pendiam."
"Pendiam dari mananya, anjir?! Sepanjang jalan mangil gue Ayah ... itu balita nangisnya buat telinga gue pengap."
Acasha sedang mengintip di celah pintu terbuka mendelik. Ya, ingatan tubuh ini terus membuntuti pemuda berwajah galak tersebut. Namanya Silver, entah kenapa nama itu terasa familiar di lidah Acasha.
Apa jangan-jangan dia masuk ke dunia novel. Semakin memikirkan semakin membuat kepalanya pusing saja.
"Hai, adek manis."
Tiap bertemu pasti panggilan itu menyapa
telinga dan Acasha menahan diri tak muntah. Badan mungil Acasha di giring masuk ke ruangan.
"Lihat yang gue bawa, boneka dekil berjalan." Dia tertawa bagaikan orang sinting, Acasha bersumpah akan menendang Iyan nanti.
Di hari ke tiga Acasha sudah hafal nama mereka meskipun tidak semuanya, intinya yang sering menunjukkan muka.
"Nama aku Acasha bukan boneka dekil!" Berseru dongkol Acasha memecah keheningan mendadak terjadi, setelah dirinya bersama Iyan tiba.
Salah satu orang yang duduk di dekat Acasha berdiri merentangkan tangan, kalau tidak salah namanya Cleo si paling ramah dan murah senyum.
Acasha menghampiri. Duduk anteng dipangkuan Cleo kemudian, lupakan soal umur mereka mana tau umur jiwa asli tubuh mungil ini lagipula Acasha menyukai orang-orang tampan.
"Jadi, si kepompong ini bakal tinggal di mana? Nggak mungkin kan dia terus di sini lihat kulitnya merah-merah kebanyakan digigit nyamuk." Kallen membuka suara sambil tersenyum manis, pandangan lurus pada balita yang temannya temukan di bawah jembatan.
Namun, Kallen dapatkan hanya wajah datar si balita. Kallen tercengang, apa dia telah melakukan kesalahan.
"Hm, karena Acasha mirip banget sama Silver lebih bai--Arggg..." Iyan meringis, satu cakramkanannya melayang ke kaki kanannya.
Iyan berteriak kesakitan sedangkan sang pelaku nampak puas. Acasha memandangi Silver dan Kallen berdebat saling menyalahkan, belum lagi satu orang di belakangnya sibuk memperbaiki rambut kusut Acasha.
Penasaran Acasha menggebu-gebu oleh sosok pemuda itu maka untuk menuntaskan penasarannya hanya ada satu cara.
"Ayahhh!" Acasha melompat dari pangkuan Cleo, berlari menuju Luka lalu tangan Acasha menyentuh lengan Luka. "Aku mau ke rumah, Ayah!"
Hening kembali.
Tanpa sadar Acasha menelan ludah, sorot kelabu itu balas menatapnya. "Oke." Luka mengangguk, sebelum beranjak lebih dulu menepuk puncak kepala si balita.
*******
Pipi tirus Acasha merona demi apapun dia sangat malu sekarang, bagaimana bisa si mata empat maksudnya Iyan memakaikannya pakaian serba merah muda.
Hiasan berupa bando bahkan koper juga warna merah muda.
"Eh, kenapa nangis?" Iyan panik seraya berjongkok di hadapan Acasha. "Jangan nangis nanti mukanya makin buluk loh." Belum sempat jemari Iyan terulur hendak menghapus air mata Acasha tangan lain lebih dulu meremas lima jemari Iyan.
Silver muncul di balik punggung Acasha. "Lo mau dicincang Luka," ujarnya sinis mendorong tubuh Iyan menjauh.
Iyan mengumpat lirih, binaran matanya penuh dendam. Dalam sehari tubuhnya sudah dibuat menderita karena Silver.
Acasha terisak meratapi nasib, mengapa orang-orang ini sinting semua. "Eh, bocil. Berisik!" Silver membentak.
Kurang ajar! Ingatkan Acasha untuk menempeleng kepala Silver. "Ayah!!!" Bibir Acasha manyun, pergi bersama Iyan yang ada dia sesak napas, cowok berkacamata itu terus mengoceh tidak seperti Silver sekali bicara minta di cekik, tapi menurut Acasha itu lebih baik.
Mereka bisa saja sepanjang perjalanan saling menutup mulut, selama Acasha tak membuat Silver emosi.
"Sebenarnya ada berapa sih Ayah lo?"
"D--dua."
"Gue engak mau jadi Ayah lo."
Silver meraih kasar koper yang Acasha jadikan sandaran, untungnya dia tidak jatuh. "Lo sama gue, bocil." Silver berjalan memimpin tanpa peduli seorang balita mengejarnya susah payah sekaligus mengutuk Silver tujuh turunan.