The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 30 ~ Menjadi Jinak



Pada akhirnya Acasha membagi tugas piket, mengabaikan pertanyaan Yasa dan Acasha langsung menemukan ekspresi kecewa Yasa.


Di sekolah Acasha dekat dengan Yasa sangat dekat malah, begitu pun sebaliknya. Tapi ada kalanya Acasha terkejut oleh ucapan Yasa yang secara tiba-tiba.


Acasha sedang menghapus papan tulis usai menyapu tiga barisan meja mengembuskan napas pelan, agak ragu-ragu kepala Acasha menoleh ke belakang kelas kemudian.


Di sana, Yasa ikut memandangi. Acasha sontak tersenyum lalu menunggu balasan Yasa.


Yasa justru berjalan menghampiri setelah meletakkan alat pel di pojok ruangan.


"Udah selesai, kan?" tanyanya tiba di dekat Acasha.


Acasha mengangguk. "Udah, aku bisa turun sendiri." Acasha terkekeh geli menyadari gerakan Yasa hendak membantunya turun dari kursi. "Jadi, Yasa yang nggak pernah bisa marah lama sama Acasha cantik ini, menu bekalnya apa? Aku lapar." Acasha mengusap perut.


"Nasi goreng buatan Mama."


"Dua kotak makan lagi?"


"Iya."


"Mama kamu baik."


Jika dulu pertama kali bertemu terkesan buruk maka pertemuan berikutnya di luar dugaan. Acasha datang ke rumah Yasa, selalu saja Mamanya Yasa menyambut semringah. Acasha mengerti ada maksud di baliknya tentu saja selalu datang membawa buah tangan.


Namun, satu tahun belakangan Acasha jarang berkunjung ke rumah Yasa semenjak tiap sore hari, Iyan mengiring Acasha belajar bela diri.


"Kenapa kamu hobi sekali melamun?" ucap Yasa sembari menundukkan Acasha ke bangku.


Acasha terperangah tahu-tahu sudah di barisan tengah.


"Jangan khawatir. Aku gak mungkin jatuh kalau mata jeli kamu lebih dulu sadar, kamu pasti bakal mencegahnya, kan?" Dengan tersenyum main-main Acasha mencolek dagu Yasa.


Yasa bergumam mengiyakan, mulai mengeluarkan kotak makan dari dalam tas, membuka penutup setelah meletakkan di meja hingga dua botol minum. Acasha mengamati diam, seharusnya Yasa butuh tas kecil untuk benda itu bukan memasukkan menjadi satu berkumpul bersama buku.


Acasha tidak berdaya dibuatnya, protes pun


sia-sia yang hanya Yasa tanggapi "ini sama sekali nggak berat."


"Yasa."


Si punya nama menengok cepat, mengambil sendok plastik di pegangi Yasa raut wajah Acasha berubah serius.


"Kamu bisa berhenti membawa bekal untukku mulai besok aku bawa sendiri," ujar Acasha lembut.


Yasa terdiam.


Acasha menunggu sabar. Saling tatap Acasha sungguhan tidak mampu menebak apa isi di pikiran Yasa padahal di masa lalu gampang, entah mengapa kini segalanya rumit.


"Itu berarti aku udah nggak berguna." Yasa membalas lirih.


Acasha berkedip linglung sesaat, mengembuskan napas perlahan Acasha meraih tangan kecil Yasa. Pas sekali dengan tangannya yang berbeda cuma tinggi badan Acasha sedikit lebih pendek.


"Jangan salah paham, oke? Tiap aku menolak kamu selalu overthinking kamu harus menghentikannya."


"Kamu juga harus menghentikan hobi kamu yang melamun itu."


Acasha terbatuk.


"Iya." Acasha menyerah, memutuskan melahap nasi gorengnya sementara tangan yang lain tetap di genggam Yasa bahkan kini lebih erat.


"Kamu bosan." Yasa kembali bersuara belum sempat sepuluh menit keheningan menyapa keduanya. "Aku bisa suruh Mama masakin ayam kecap besok kesukaan kamu atau tulis catatan makanan kamu mau nantinya," lanjut Yasa.


"Aku mana pernah bosan, Yasa, Masakan kalian buat selalu enak." Acasha mendelik tak terima. "Oke, aku nggak jadi bawa bekal. Aku kalah!"


*****


Siapa menyangka pulang sekolah, semua pelajaran selesai hari ini. Acasha justru di sambut hal tidak biasa tepat setelah sampai di depan gerbang SD Jingga.


"Ayah!" Acasha berlari mendatangi Silver, disusul Yasa membuntuti.


Pemuda berumur dua puluh dua tahun tersebut berdehem singkat, tatapan tajamnya tertuju lurus pada sosok berdiri menjaga jarak dua langkah di balik punggung Acasha.


"Ternyata tikus kecil ini pemberani." melotot mengancam. "Berapa kali gue bilang lo cari teman sesama perempuan, dugong." Silver mengacak gemas rambut Acasha.


Acasha memprotes tidak terima, hendak Silver menghindari Silver berakhir gagal Silver beralih memeluk lehernya dengan sebelah tangan.


"Pulang, ngapain lo masih di sini?!" Silver berkata agak membentak.


"Kakak menyakiti Aca," jawab Yasa tenang.


Silver memaki tanpa suara.


"Ayah, mana yang lain? Kenapa Ayah sendirian?" Acasha bertanya heran, diam-diam memberikan isyarat lewat jemari terhadap Yasa.


Silver menunduk. "Lo enggak suka ya gue yang jemput?" Silver menyimpulkan sekenanya.


"Aca cuma kaget Ayah sendirian." Acash menyodok pelan perut Silver. "Kurangin


galaknya dong, Ayah. Banyak yang lihat kita."


"Gue punya alasan karena lo lagi sama si tikus kec--mana dia?" Silver terbelalak dengan kepalan tangan mengarah ke seberang jalan kemudian. Di sana, Yasa telah mendorong sepedanya.


"Aca lebih-lebih gak suka Ayah bersikap kaya gini ke Yasa. Yasa itu temen baik aku...." Berhasil melepaskan diri Acasha bersedekap, air muka Acasha cemberut.


Silver mengetuk jidat Acasha. "Jangan banyak bacot, kita pulang. Tutup mulut. Kita naik motor," ucapnya penuh penekanan.


Acasha menggeleng. "Aku mana mau mati


muda... Ayah bawa motornya persis kaya orang kerasukan!"


Silver tidak peduli keengganan Acasha. Silver memakaikan helm ke puncak kepala Acasha secara paksa.


"Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing dan cuma gue yang leha-leha untuk berhari-hari ke depan," ungkap Silver sembari menyeringai tipis.


Acasha menyipit curiga. "Maksud Ayah? Coba jelasin rinci. Otak kecil aku ini masih belum cukup memahami kalian, para bujangan panas ini," sahut Acasha terdengar asal.


"Moncong lo makin meresahkan, stop


berbicara menggelikan!" tukasnya kesal.


."Lo tinggal di rumah gue, mereka udah setuju. Nggak ada namanya pengasuh karena Luka sengaja memperpanjang liburan Melly."


Acasha terkejut.


Seharusnya Melly sudah pulang Acasha berharap telinganya mengalami gangguan detik ini. Tinggal di rumah Silver. Satu atap? Acasha sama sekali tidak keberatan, tapi bagaimana dengan penyihir aliasnya Grace.


"Ayah, aku nggak mau."


"Emang gue peduli?"


Acasha memanyunkan bibir mendapati Silver berniat membantunya menaiki motor besar itu Acasha melangkah mundur.


"Aku mau tinggal sama Ayah asalkan Ayah bungkuk dulu di depan Aca. Aca pengen bisikin


sesuatu," ucapnya.


Silver berdecak walaupun ogah-ogahan Silver menurut, kali ini tak membungkuk sesuai Acasha inginkan, Silver memilih berjongkok agar Acasha puas.


"Acasha mohon Ayah harus menjadi jinak, bersikap manis. Jangan dikit-dikit meledak." Acasha tersenyum lebar seraya mengusap rambut gondrong Silver.


*******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕