The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 40 ~ Caci Maki



"Kenapa nama gue di kertasnya Ariyan, Aca? Nama Ayahmu paling imut ini enggak pakai 'A' cuma lyan. Ingat baik-baik, oke?" tutur pria di samping kanan ranjang pada si anak perempuan.


Gelas Acasha pegang nyaris tergelincir mendengarnya, padahal ini sudah satu jam berlalu semenjak Acasha membuka kertas itu yang lain kompak mengintip, kecuali Luka. Tampak sibuk dengan ponsel lalu tahu-tahu pamit pergi bersama Silver di susul Cleo kemudian.


Menyisakan di ruangan Iyan dan Yasa.


Sebenarnya ada satu lagi yaitu Kallen baru datang sekitar lima menit lalu, menyapa Acasha lengkap ekspresi lega yang terpampang nyata di wajah.


Tiba di sofa Kallen tumbang sukses membuat Acasha melongo tanpa menunggu lama kamar perawatan Acasha tadinya hening di penuhi suara dengkuran halus.


"Lagi mikirin apaan, sih? Berat banget kayaknya." Tangan Iyan terulur menepuk puncak kepala Acasha.


Ahli bersandiwara, Acasha mengukir senyuman lebar.


"Pertama, nama kalian aku tulis itu iseng termasuk tambahin satu huruf di nama Ayah. Kedua, aku mikir gimana caranya Ayah berhenti usilin Yasa." Acasha melotot galak.


Bisa tidak Iyan berhenti memainkan rambut Yasa bahkan Iyan sesekali menariknya dan reaksi Yasa sama sekali tidak keberatan berdampak pada Acasha yang justru jengkel.


lyan menyengir. "Ini anak kepala batu gue suruh pulang nggak mau, ngapain masih di sini? Jam jenguk udah habis!" Iyan mengibaskan tangan sambil menatap datar Yasa duduk di sebelahnya.


"Baru jam empat sore, Kak." Yasa menyahut


kalem.


Acasha terkekeh geli, seandainya bersama Yasa adalah Silver pasti Silver sudah memaki kasar.


"Aku mau makan buah nanas lagi." Acasha melirik piring di nakas, buah kuning cerah tersebut tersisa setengah piring.


"Lo itu gak boleh makan sembarangan." Sekali pun mengomel tetap saja Iyan menuruti keinginan Acasha.


"Iya." Acasha mengambil sumringah piring Iyan berikan. "Hape Ayah nyala terus dari tadi." Acasha menunjuk ke saku kemeja lyan agaknya lyan memang sengaja mengabaikan, tapi Acasha terganggu karenanya.


Bagaimana kalau si penelpon penting walaupun sejujurnya Acasha juga diam-diam mengusir


halus Iyan.


"Palingan orang sinting."


"Nanti aku aduin sama Nenek."


Iyan buru-buru beranjak seraya mengacungkan ponsel yang sengaja di silent mode sebelumnya. Langkah kaki lyan berakhir ke balkon kamar, pintu penghubung dia buka lebar-lebar.


"Yasa...." Acasha memanggil berbisik, menghentikan aksi saling tatap antara Yasa dan Tyan, sempat-sempatnya Iyan melempar isyarat


mengancam.


Yasa beralih menempati bangku Iyan hingga jarak tercipta menghilang, semakin merapatkan posisinya kemudian.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa, Maaf, baru datang sekarang." Yasa berkata pelan sambil menunduk, telapak tangan mengatup rapat.


"Aku nggak papa." Acasha tersenyum menenangkan. "Lusa nanti aku bakal balik ke sekolah." Acasha agak menunduk meneliti pergelangan tangan Yasa.


Yasa bungkam.


Acasha mengembuskan napas lega tidak menemukan hasil dugaanya.


"Aku lebih takut kamu dirundung tiga setan kecil itu." Acasha memberitahu setelah memastikan tak ada satu pun lebam di kulit Yasa karena benda tumpul.


"Karva dan Izza sakit."


Acasha terkejut. "Pantas, Jelica pasti sendirian." Acaha mengangguk. Ingat, orang yang pernah membully Yasa saat TK dulu, sampai kini mereka satu sekolah bahkan sekelas. Bukannya bertambah umur jadi sedikit berbudi luhur ketiga orang itu malah bertambah liar.


Namun, selama Acasha berdiri di sisi Yasa mereka tidak akan berbuat macam-macam.


"Emang sakit apa? Tumben, biasanya demam pun Izza tetap sekolah mengingat kamu ini saingan berat Izza." Acasha bertanya penasaran


"Patah kaki," sahut Yasa.


"kok bisa?" Acasha tertegun.


"Kaki mereka berdua patah, katanya jatuh dari tangga." Giliran Yasa mencomot nanas di piring lalu menyuapkan ke mulut Acasha tengah terbuka.


Acasha mengangguk. "Tuh, kan. Pernah kerasukan... tabrak sana sini akhirnya beneran celaka."


"Seharusnya mereka nurut sama kamu." Yasa meraih jemari pucat Acasha, menggenggamnya


erat.


"Jangan sakit. Aku sungguh-sungguh takut, Aca." Yasa melanjutkan lirih dengan bola mata berkaca-kaca.


Acasha beringsut. "Aku udah nggak sakit, sekarang aku sangat sehat." Acasha meletakkan sebelah tangan ke belakang leher Yasa, menarik badan Yasa dalam pelukan hangat.


"Makasih. Aku bahagia punya teman sebaik kamu, Yasa Kalandra," ucapnya kembali dengan tulus.


"Ngapain kalian saling tempel-tempelan kaya gitu?!" Kallen berseru serak.


Sesaat Kallen sempoyongan berdiri, berniat memisahkan seseorang lebih dahulu melesat cepat melewatinya.


"Baru di tinggal sebentar langsung sosor nih, bocah!" Iyan menyeret mundur Yasa.


*******


Jika Luka dan Silver berdiri bersandar di tembok, maka lain halnya Cleo. Satu kaki Cleo terangkat menumpu di kasur besar, tubuh jangkungnya setengah membungkuk mengamati wajah perempuan yang sedang berbaring dengan kelopak mata terpejam rapat.


"Jangan terlalu dekat!" Silver memperingati tegas. "Dia sejenis ular senawan."


Cleo menoleh. "Lo cemburu?" tanyanya tersenyum menyebalkan.


Silver mendelik. "Lama-lama leher lo ... gue piting, Leo. Serius!" Silver menjawab dongkol.


Silver bergerak maju, mengenali benda di mainkan Cleo detik ini.


"Gue maunya Acasha liat si ular senawan dulu. Baru boleh mati!" tutur Silver penuh penekanan.


Cleo meniup-niup jarum suntiknya mendadak di rampas kasar, bukan Silver yang melakukan melainkan Grace telah melompat bangun lalu menendang perut Cleo kemudian.


"DASAR ORANG-ORANG SAMPAH, KARENA KALIAN KEPERAWANAN AKU DIAMBIL PRIA TUA BUSUK PENYAKITAN ITU!" Grace berteriak melengking.


Cleo tercengang, memalingkan muka menyadari perempuan sinting di hadapannya sekedar memakai bra compang-camping dan celana di atas lutut, begitu pula Silver yang seketika mengumpat.


Pantas saja Luka menggunakan kacamata hitam, padahal bagi siapapun yang melihat sama sekali tidak membantu sepenuhnya.


"Diam." Luka menghampiri, rubik di tangan dia lempar menuju kening Grace. "Silakan mati perlahan-lahan."


Grace semakin kesetanan setiap melompat atau merangkak mendekati Luka selalu gagal. Leher perempuan tersebut terkalung rantai berkarat dengan gerakan sangat di batasi yang hanya mampu di atas ranjang.


Cuma mulutnya terus mencaci maki Luka bahkan Silver selama ini Grace agung-agungkan, persis seperti kotoran di tumpukan sampah sekarang.


"Lepasin aku! Gila, bajingan. Silver brengsek! Aku menyesal! Seharusnya aku bunuh kamu!" Grace meludah tajam. "Kalau aku bisa lepas, orang brengsek yang pertama aku cekik kamu, Silver tahi ayam!"


Tangan Silver yang menutup wajah terkepal kencang. Seumur hidup, baru kali ini dirinya. di hina habis-habisan. Silver mendongak, iris coklatnya teramat dingin.


*******


Ada yang nunggu cerita ini update?


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕