The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 06 ~ Undangan



Acasha berusaha melepaskan diri dari Silver yang memeluk erat. Sialan! Berani sekali Iyan menipunya, cowok setan semacam Silver tentu peka keadaan sekitar.


Bukan cuma Silver melainkan empat orang lainnya juga.


"Ini leher lo kalau gue patahin sakit nggak ya?" Silver bertanya tenang sambil meraba leher kecil Acasha, tatapan sayunya sehabis bangun tidur memandangi Acasha berada di atas tubuhnya. "Berani banget moncong lo ngatain gue, huh."


Acasha agak sesak napas, sepertinya Silver memang berniat membunuh. Dekapan Silver sungguhan terlalu kuat alih-alih katanya ingin mencekik. Demi nyawa teramat berharga, Acasha harus membela diri.


krak.


Acasha mengigit dagu Silver kencang, di tengah Silver langsung meringis saat itu pula Acasha meronta sekuat tenaga hingga berhasil terlepas, tubuh mungilnya bergulungan di karpet.


"Bangsat!"


"Alah, lebay lo." Tahu-tahu Iyan menghampiri, raut wajah Iyan terkesan puas langkah kaki berakhir di samping Acasha yang berbaring dengan muka memerah. "Lo udah kelewatan, Ver. Gue bakal aduin ini ke Luka," lanjutnya ketus.


"Gue cuma bercanda," balas Silver melotot.


Iyan dengan ancamannya terus mencerca Silver ujung-ujungnya mereka berdebat, Silver yang kadang bicara terselip umpatan dan Iyan tak mau kalah.


"Oy, berisik!" Dua bantal sofa mendarat mulus di kepala masing-masing.


Kallen bergeser mendekati Acasha lalu membantunya duduk, tangan kanan Kallen mengusap pipi Acasha. "Jangan nangis nanti kalau Luka lihat bahaya," ujarnya.


Acasha terkejut tidak menduga bahwa dirinya meneteskan air mata padahal Acasha yakin tak secengeng itu.


"Ayah."


"Ya?"


"Aku lapar."


Kallen terkekeh geli lalu merentangkan tangan. "Gimana kalau kita makan sama-sama. Lo sukanya apa? Nanti biar koki yang masakin." Kallen bangkit dengan Acasha sudah digendongan.


"Melly bilang ayam panggang kecap manis Aca udah jadi."


"Oke." Mereka berdua pergi dari ruang tengah dibuntuti Melly berdiri tegang sebelumnya bernapas lega.


*******


Sebenarnya Acasha ingin yang masih dia mampu, dilakukan sendiri. Tanpa perlu ada sosok pihak kedua, namun semuanya tak semudah dibayangkan.


Mau tidak mau Acasha harus menerima dibantu mandi oleh Melly, mulutnya kadang terbuka syok menatap pantulan tubuh polos sendiri melalui kaca wastafel.


"Nona."


"Aku kok makin kurus."


"Siapa bilang Nona kurus? Berat badan Nona sudah naik dan kulit Nona tidak kering lagi," ucapnya.


"Ayah galak yang bilang aku kurus." Acasha menyahut lugu. Kurang ajar Silver, bisa-bisanya sebelum pulang mengatainya dulu.


Acasha kembali bersumpah kali ini akan menggigit lengan Silver kalau cowok setan itu lengah.


Tidak ada dalam hidup Acasha namanya jera.


"Dasar Jenggala bajingan! Orang sejenis itu pantasnya di neraka, ya, kan. Nona?"


Apa barusan Acasha mendengar pengasuhnya mengutuk Silver.


"Hm, terserah kamu Melly." Acasha tertawa paksa. "Aku mau turun." Tidak menunggu lama Acasha sudah keluar kamar mandi dengan handuk menutupi sebagian badan.


"Tuan Luka."


Acasha sedang menikmati aroma sampo dirambut basahnya refleks mendongak kaget dengan panggilan Melly.


"Ayah...." Acasha tersenyum lebar, berlari menuju Luka yang duduk di kasur menyilangkan kaki.


"Aca kangen." Kata terakhir menggelikan, tapi Acasha tidak bisa menyangkal karena sejujurnya dia merindukan Luka, biasanya Luka akan menemani Acasha dalam berbagai hal meskipun lebih banyak diam entah kenapa itu justru sudah cukup.


"Gue punya undangan buat lo." Luka mengulurkan sesuatu pada Acasha, kertas lipat berwarna cokelat.


Acasha berkedip linglung. "Undangan?"


Sepertinya Luka memang gila mana mungkin dia menghadiri pesta, di kertas itu terukir namanya dengan huruf kapital.


"Mereka penasaran gimana sosok lo yang kami pungut sampai-sampai melalaikan tugas," bisik Luka seraya menarik sudut bibir.


Acasha menahan napas sesaat. "Aku mau selamanya sama Ayah." Layaknya seorang balita tidak tahu apa-apa Acasha membalas tak nyambung.


Luka mengangguk. "Lo habis mandi?" Kepala Luka tertunduk, jemarinya memainkan rambut basah Acasha. "Aneh. Bau lo kaya pohon pinus," tutur Luka datar.


Pohon pinus? Orang-orang di sekitarnya hobisekali menghina.


"Maaf, Tuan, saya tidak mungkin memberikan semacam pewangi itu pada Nona." Melly buru-buru menjelaskan.


Pandangan Luka yang kosong melirik tak minat Melly. "Panggil saya seperti pekerja lain. Jangan ada kata Tuan." Siapapun sadar itu adalah perintah mutlak.


"Pinus ingatin gue sama seseorang." Luka melanjutkan lirih.


Acasha berusaha tidak menunjukkan ekspresi penasaran dalam batin bertanya-tanya siapa yang dimaksud Luka.