The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 18 ~ Jangan Menyakiti Temanku



Melly berjalan lunglai mengikuti kedua balita di depannya. Andai saja tadi malam dia tidak kalap melahap makanan pedas, Melly akan aman.


Di saat semua orang sudah tidur hanya Melly yang masih di dapur khusus pekerja. Natapraja, memasak seblak dan ayam geprek. Ujung-ujungnya berakhir diare, berkali-kali ke toilet lalu melupakan Acasha.


Berdampak balita perempuan itu punya teman bermain, tapi kelima orang yang Melly yakini sebentar lagi datang justru mempermasalahkannya.


"Nona." Melly menarik pelan tangan Acasha, sengaja menghentikan kaki mungil Acasha menuju gerbang. "Bagaimana kalau kita menunggu Ayah, Nona. Terus pulang bersama."


"Aku mau tidur." Acasha menolak tanpa berpikir ulang, dalam hati bertanya-tanya mengapa wanita muda tersebut berbeda dari biasanya apalagi sedari tadi terus melihat ponsel. "Ayah lama dan Aca gak suka menunggu," lanjut Acasha sekenanya.


Melly mengangguk lesu. "Baik, Nona." Tubuh Melly menghadap anak laki-laki di sebelah Acasha kemudian. "Yasa, kami hendak pulang ke rumah. Terima kasih telah memberikan makanan ke Nona saya. Semoga saja gorengan itu bukan berasal dari minyak jelantah."


Acasha melotot sedangkan Yasa mengangguk polos, benar-benar polos. Tidak seperti Acasha


yang sering bersandiwara.


"Sebentar." Acasha menahan Yasa yang mau pergi. "Kita pulang sama-sama."


"Aku bisa pulang sendiri," sahut Yasa lirih.


Acasha keras kepala. "Panas terik begini kamu jalan kaki, emang gak cape? Sama aku, kita naik mobil." Acasha memaksa.


Di tengah menghabiskan gorengan bekal Yasa di jam istirahat tadi, Acasha sudah mengetahui banyak hal tentang Yasa. Tempat Yasa tinggal, umurnya berapa. Punya saudara atau tidak, intinya segala hal yang membuat Acasha penasaran.


"Oy, dugong!"


Ketiganya kompak menoleh.


Cuma satu orang yang memanggilnya dengan binatang mamalia laut itu. Kurang ajar! Ingin sekali Acasha mengeplak moncong Silver. Jika Acasha memasang raut wajah kesal maka Melly


panik kelima lelaki tampan menghampiri.


"Ayahhh!" Acasha segera memeluk Kallen yang merentangkan tangan, anggap saja ini hadiah karena Kallen semakin mempesona setelah memakai headband. "Makasih untuk sekolahnya. Sekarang Aca udah punya temen."


Hening.


Mereka berlima menoleh, mengikuti arah telunjuk mungil Acasha dan pada dasarnya Acasha ingin membanggakan diri, bahwa dihari pertama mempunyai teman langsung melompat lalu merangkul pundak Yasa.


"Namanya Yasa Kalandra, Ayah. Dia baik." Acasha tersenyum lebar.


Iyan bersedekap. "Kayaknya di sekolah ini nggak kekurangan anak kecil berjenis kelamin perempuan seumuran Aca, tapi kenapa milihnya temenan sama yang batangan," ucap


Iyan santai.


Cleo yang sedang mengamati lekat Yasa dibuat terbatuk sedangkan Luka mengerutkan kening, namun tetap bungkam.


Mata Acasha menyipit. "Maksud Ayah apa? Aca enggak paham." Pikiran Acasha mulai ke mana-mana jadinya.


"Aku juga miskin dan dekil." Acasha berkacak pinggang. "Pokoknya aku mau temenan sama Yasa. Jangan menyakiti temanku!" Nada suara


Acasha meninggi tanpa Acasha sadari.


"Mencari teman itu sesama perempuan!" Silver ikut emosi.


Tidak akan. Acasha punya pengalaman buruk di kehidupan sebelumnya, teman perempuan Acasha semuanya mengerikan. Datang saat butuh dan bodoh lagi Acasha terima saja asalkan dia diakui.


"Kenapa Ayah ada di sini? Mana tas Ayah?" tanya Acasha lugu. Sengaja mengalihkan pembicaraan, melirik punggung mereka bergantian dan Acasha menyimpulkan bahwa lima orang ini bolos.


Tak ada yang menjawab, namun badan kecil Acasha tiba-tiba di jauhkan Iyan dari Yasa.


"Kalau lo nggak mau, biar gue yang bikin nih anak jera karena temenan sama lo dugong," kata Silver sambil bergerak maju.


Acasha terbelalak, nyaris lupa cara bernapas. Tahu-tahu Silver mengangkat tangan lalu memukul puncak kepala Yasa. Memukul! Sungguhan memukul!


"Sialan, bajingan!" Acasha membentak murka yang mengantarkan kelima cowok itu terkejut dan Melly semakin pucat paci.


*******


Acasha marah. Benar-benar marah. Bertopang


dagu di kusen jendela sesekali membuka mulut menerima suapan Melly.


Suasana hati Acasha buruk, menulikan telinga sekaligus membutakan mata oleh reaksi mereka. Acasha berlari masuk ke mobil bersikap jahat mengabaikan tangisan Yasa.


Yasa pasti kapok, keinginan Silver terpenuhi.


"Lebih baik bersantainya di dalam saja, Nona. Jangan di dekat jendela nanti Nona masuk angin," ujar Melly khawatir.


"Aku mau liat bulan." Acasha menyahut serak. "Di sana pengap."


"Tapi Mas Luka katanya mau bertemu Nona Aca." Melly memberitahu, menunjukkan earpiece yang terpasang di telinga. "Mas Luka menghubungi saya dengan alat ini."


Pada akhirnya Acasha beranjak merasa terganggu ekspresi memelas Melly, jika Acasha tetap kepala batu yang ada pengasuhnya tersebut mengalami hal buruk.


Melangkah berdampingan dengan tangan Acasha di gandeng Melly, pandangan Acasha mengitari sekitar beberapa pelayan masih muda, sibuk menurunkan kursi dari meja.


"Tunggu, Melly." Acasha mendadak berjongkok, mengambil kotak berbungkus kertas coklat di dekat salah satu kaki kursi.


"Mirip paket." Melly bergumam sambil membaca nama yang tertera. "Riyan Diarta, sepertinya ini milik Ayah, Nona."


Tidak memedulikan tangan Melly yang terulur meminta kotaknya, Acasha lebih penasaran isinya. Kotak ini sudah di buka tapi belum selesai