The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 70 ~ Halusinasi



"Jadi, semalam itu lo jalan-jalan?"


"Iya."


"Sampai sore?"


"Tepat sekali."


"Berdua?"


"Kalau sama aku, jumlahnya tiga. Melly nggak ikutan karena Aca suruh tunggu di mobil.


"Ke mana?"


"Kenapa Ayah kepo?"


Silver berdecak, tangan kanan Silver lalu meletakkan nyaring lipbalm ke meja rias milik Acasha, tanpa memedulikan sepasang mata bundar itu melotot.


Belum cukup, Silver mendaratkan pantatnya di sisi meja rias hingga alat-alat kecantikan di atasnya bergetar,


Acasha gesit menangkap sunscreennya yang hendak jatuh.


"Ayah, Aku jalan-jalannya sama orang yang aku kenal, bukan orang asing. Lagian jajan sebentar terus ke alun-alun kota nonton komunitas skateboard." Acasha menjelaskan selembut mungkin.


"Seharusnya lo langsung pulang." Silver bersedekap, postur badan yang kekar menutupi sebagian cermin. Dia sengaja melakukan. menghalangi Acasha yang ingin mengoleskan krim ke wajah.


Acasha mencoba menyabarkan diri. "Iya, maaf." Acasha menyunggingkan senyum tipis sambil bertopang dagu.


"Ayah perlu tau, Yasa dan Yoga kemarin itu jagain aku banget. Bahkan salah satunya ada yang nawarin punggung biar aku di gendong aja, katanya."


Silver melirik tajam. "Terus lo setuju?" Mata Silver menyipit dan Acasha bisa menebak jika dia hilang iya, maka Acasha yakin orang yang menawarkan punggungnya setelah ini tidak akan baik-baik saja.


"Aku tolak." Acasha menyahut jujur. "Sesuai ajaran kalian, jangan lemah. Kaki pincang sebelah, bukan apa-apa."


Silver mendadak menunduk dengan tawa halus yang jarang terdengar.


Acasha tercengang, membalas ragu iris coklat Silver.


"Bagus." Telunjuk kanan Silver mengusap kening Acasha, di setiap kesempatan telah menjadi kebiasaan.


"Soal Yasa, gue mau beberin sesuatu tentang dia. Orang tuanya udah meninggal, jadi kami nggak terikat janji lagi, kan?"


"......"


"Terikat janji itu sebenarnya Cleo, tapi Cleo kasih tau ke gue sama yang lainnya. Cleo minta kami tutup mulut."


"...... "


Acasha bergeming, tetapi telinganya mendengarkan baik-baik.


"Orang tua Yasa meninggal bagi gue janji itu juga hilang." Alih-alih melanjutkan ucapannya kemudian, Silver justru beranjak membuat Acasha kesal


Tidak mengizinkan Silver menjauh, Acasha menyambar cepat lengan Silver.


"Rambut lo basah, dugong." Silver berusaha melepaskan pegangan Acasha. "Ck, gue mau ambil hair dryer. Nanti di lanjutin."


Acasha spontan menyentuh rambut panjangnya. "Wajar, basah. Aku habis mandi. Bisa kering sendiri, ribet pakai hair dryer."


Silver kepala batu. "Duduk yang kalem." Nada suara sarat memerintah, bikin Acasha mau tak mau patuh kemudian.


Acasha tidak menanti lama, Silver sudah mengambil kursi kosong lalu merapatkan tepat di belakang Acasha.


Acasha mengamati, dari Silver yang mencolok hair dryer ke stopkontak, menempati kursi dan diam sembari memegangi surainya, Acasha hanya memandangi melalui pantulan cermin.


"Ayah!"


Diam-diam Silver terkejut, lamunan buyar. Acasha menyipit, tidak mengerti mengapa pria itu mematung lama.


"Berisik." Silver berujar ketus, menekan kepala Acasha supaya tak menengok ke sembarang arah.


"Siapa sangka Ayah mau lakuin ini, mengingat darah biru mengalir di tubuh Ayah." Acasha berceletuk menyebalkan.


"Apa hubungannya?" Silver berdecak, melirik singkat Acasha yang senyam-senyum tengil. "Mama sering minta kalau di rumah." Iseng. Silver menarik sejumput rambut legam Acasha, menggulung dengan telunjuknya.


"Sakit tau!" Acasha mengeplak punggung tangan Silver. Kurang ajar! Sepatutnya Acasha sedari tadi waspada.


Silver tertawa puas. "Jangan ke mana-mana." Silver menahan pundak Acasha, menyadari gadis itu berniat bangkit dari bangku.


Acasha cemberut. "Makanya lanjutin soal Yasa," Ucapan Acasha penuh penekanan.


"Yasa itu korban perudungan." Silver mengungkapkan santai.


"Aku tau." Acasha menjawab cepat. Reaksinya amat biasa, sebab Yasa pernah mengatakan.


Silver tersenyum miring.


"Tapi, Yasa pernah di sekap selama empat hari oleh guru-guru TK. Kejadiannya emang jelas udah lama, sebelum gue pungut lo. Belum tau. kan?" Giliran Silver mengamati Acasha tampak terkejut setelahnya.


Acasha terbelalak secara bersamaan buku jari terkepal di atas paha,


"Tiga tahun belakangan Vasa membalas yang mereka lakuin dulu, lewat anak guru-guru itu."


"Yasa nggak pernah cerita,"


"Lo kecewa karena Yasa nggak jujur, ujung-ujungnya malah dengar dari mulut gue."


Gadis berpostur ramping yang mengenakan gaun tidur tersebut memilih bungkam.


"Dugong." Silver memanggil, sibuk kembali dengan kegiatannya. "Yasa itu sakit mental. Selama tiga tahun belakangan balas dendam, Cleo juga ikut campur tangan membersihkan kejahatan Yasa."


Bahu Acasha menegang sesaat. Tidak mau percaya, tapi raut wajah Silver terkesan serius.


"Kalau Cleo lepas tangan, Yasa masuk penjara. Yasa enggak punya kekuasan, latar belakangnya biasa." Silver berkata terang-terangan.


"Sakit mental?" Acasha bergumam. Berkedip, keduanya saling tatap di pantulan cermin.


"Bukannya kalian juga sakit mental bahkan mungkin aku, semenjak ikut serta menghabisi Grace Jenggala."


Silver terperangah, hair dryer Silver pegang terjatuh ke lantai Bertahun-tahun lamanya nama itu kembali di sebut.


Detik ketiga pria dengan rambut berkucir itu tiba-tiba berdiri, nyaris berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan Acasha agak jantungan sekaligus keheranan dibuatnya


*******


Silver terus menerus membasuh wajah dengan air mengalir di kran wastafel. Belain surai depan telah lepek, bibir sedikit pucat.


Apa yang barusan dia lihat?


Bukan sekali atau dua kali Silver mengalami jika memandangi Acasha dalam jangka lama, lalu pikirannya kosong.... perubahan itu akan terlihat meskipun beberapa detik.


Gue halusinasi


Nggak ada perempuan bernama biru, berambut cokelat terang.


Silver membatin, gerakan sengaja mengacak rambutnya hingga berantakan. Tanga menumpu di sisi wastafel, Silver mencoba tetap tenang.


Silver tertunduk jemari tanpa di minta tremor. Ada perasaan kacau yang sulit di jelaskan sementara dia sendiri kebingungan.


kenapa gue selalu nggak sanggup liat muka lo?


"Dada gue sesak." Silver berbisik serak, mata memerah dengan ujungnya yang basah.


*******


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘****💕