The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 46 ~ Dinner Together(a)



Keributan di tengah kantin tak berlangsung lama, karena tahu-tahu guru kedisiplinan datang lalu menjewer dua siswa pembuat onar tersebut. Menyeretnya keluar kafeteria.


Bangku sekaligus meja tadinya berantakan, kembali di susun rapi. Acasha di pojokan bertopang dagu, bakso di mangkok Acasha telah habis. Tinggal menunggu Sashi yang masih sibuk melahap pastanya.


"Mata kamu, jangan lihat orang sembarangan apalagi cowok." Yasa berbisik.


Acasha menatap dingin. Yasa tak terganggu, Yasa menunduk dengan sepasang iris gelapnya fokus membaca tulisan buku biologi di meja.


"Kenapa?" Acasha sontak mendekatkan wajah. Penasaran bagaimana reaksi Yasa, namun Yasa malah tampak terkesan biasa saja seperti dulu-dulu. Sejujurnya, ini bukan pertama kali.


Acasha bertanya-tanya mengapa Yasa selalu memasang tampang lempeng, berbeda sekali dengan Janu dan Sakti. Saat Acasha mencoba menggodanya bersama Sashi, muka kedua cowok itu kompak tersipu habis-habisan.


"Kadang aku ngerasa kamu ini ... homoseksual." Acasha berusaha suaranya cuma terdengar di telinga Yasa.


Si lawan bicara terbatuk, menoleh cepat kemudian. Acasha menjauhkan diri terkejut.


"Ngawur."


"Aku punya alasan kuat menyimpulkan itu."


"Apa?"


"Kamu selalu tolak para cewek yang punya keberanian tembak kamu lebih dulu bahkan dari SMP loh, jadi gak salah, kan. Aku menduga kamu homoseksual."


Yasa mengangkat buku paket. "Aku lebih tertarik sama ini." Lalu, menyandarkan ukunya di dada. "Semoga kamu enggak cemburu."


Ekspresi Acasha langsung masam. "Terserah." Acasha membuang muka. "Jangan belajar terus, perhatikan perut kamu juga yang dari tadi bunyi!" lanjutnya tegas.


Acasha beranjak, berniat membeli sesuatu untuk Yasa meskipun Acasha sadar perkataannya kali ini benar-benar membuat pipi Yasa memerah samar.


*******


Padahal Acasha malam ini telah berdandan memukau, tapi yang dia temukan hanya dua orang duduk di sofa restoran. Senyum Acasha pudar, menghampiri lesu.


Dua orang maksud Acasha adalah Luka danSilver, entah di mana sisanya. Kemungkinan telat, Acasha harap.


"Eh, anak Ayah paling cantik udah datang." Suara itu membuat Acasha mendongak kaget.


Pria mengenakan kacamata bening mencegat Acasha, mencuri kesempatan mengecup puncak kepalanya, satu tangan yang tak memegangi ponsel hampir saja mengacak surai Acasha kemudian. Seandainya, Luka tak berdeham.


"Ayah, kangen!" Acasha memeluk lyan. "Jangan berantakin rambut aku sembarangan, soalnyaditata lumayan lama." Acasha melanjutkan serius


Iyan terkekeh geli.


"Aca kira Ayah terlambat."


"Nggak, lah. Udah datang dari lima menit yang lalu, terus tadi Mama telpon jadi pergi sebentar."


Acasha mengangguk paham.


"Sampai kapan kalian berdiri? Duduk. Bikin gue sakit mata tau enggak, sih!" Silver di tempatnya mengomel sukses merusak suasana.


Acasha cemberut walaupun begitu patuh, mendudukkan diri di sebelah Silver di susul lyan.


"Lama banget." Acasha mengeluh sambil mengetuk meja dengan jari-jarinya.


Dia sungguhan bosan, lima belas menit berlalu dan selama itu pula keheningan. Kelopak mata Luka bahkan kini terpejam dalam posisi bersandar yang paling parah Silver makan duluan tanpa menunggu yang lain.


"Cleo dan Kallen mulai masuk lift." Iyan memberitahu, menunjukkan layar ponselnya pada Acasha.


Acasha spontan menegakkan badan. Siku Acasha sengaja menyenggol lengan Silver hingga menghentikan gerakan Silver yang hendak memasukkan potongan ayam ke mulut.


"Cih, mentang-mentang hari ini Ayah ulang tahun bisa bersikap seenaknya. Dasar pria bangkotan." Acasha berkata kejam.


Iyan tertawa kencang dan Luka mengerutkan kening tetapi tetap bungkam.


Silver melirik tajam. Acasha mengabaikan, "Ayah, Kak Kalana ikutan, kan?" Acasha menengok Luka.


"Kalana itu persis buntut Kallen. Ke mana-mana pasti ikutan, karena si dugong pendek ini jarang baca berita... gue senang hati mengungkapkan, Kallen sekarang tertimpa skandal." Justru Silver yang menyahut. Bersedekap, raut wajahnya seolah-olah senang di atas penderitaan Kallen.


Para jurnalis diam-diam menyadari, berani macam-macam dan keras kepala mengangkat artikel buruk pasti berakhir mengenaskan.


"Kok bisa?! Skandal apa?! Bukannya keluarga Ayah bakal mampu ngatasinnya!" Acasha berseru cemas.


Silver mengusap telinganya yang di buat pengang. "Paparazi kelas kakap agak licin kaya belut, jadi susah di tangkap dan lo nggak perlu kepo." Silver menyentil gemas kening Acasha.


"Ternyata skandal gue jadi bahan gibahan..." Suara serak menyapa indra pendengar, Acasha berniat membalas Silver seketika terhenti.


Acasha gerakan cepat berdiri seraya merentangkan tangan. Bibir merah muda Acasha menyunggingkan senyuman bahagia. Menyambut tiga orang tersebut yang datangsecara bersamaan.


"Kak Kalana." Atensi Acasha tertuju lama terhadap sosok perempuan cantik berpostur ramping di samping Kallen sedang mengapit lengan Kallen.


"Ayah lo yang rupawan ini nggak di sapa, Aca!" Kallen mendekat penuh percaya diri.


"Ogah." Acasha menjawab ketus, intinya dia sedikit kesal dengan Kallen yang terlalu sibuk. "Ayah, titipan aku mana?" Acasha beralih pada Cleo.


Kallen menyengir. "Padahal gue lagi banyak masalah, butuh banget pelukan kepompong." Kallen sempat bertemu pandang ke Luka yang sorot matanya amat dingin.


Kallen tanpa sadar menelan ludah, sepertinya Luka sudah lebih dulu mengetahui rahasianya. Mau tak mau malam ini Kallen akan mengatakan yang sebenarnya, mengingat dimansion Tamara ada mata-mata Luka.


"Kalian berempat harus bantuin gue tangkap paparazi itu," ujar Kallen. Tangannya meraih gelas di meja, mendekatkan ke bibir Kalana dan semua itu menjadi tontonan. "Hewan peliharaan gue haus."


"Ayah!" Acasha berkata marah. "Berapa kali, aku peringatkan. Jangan panggil Kak Kalana dengan sebutan hewan peliharaan. Ini udah bertahun-tahun. Ayah!"


Kallen bungkam.


Acasha mengusap wajahnya, perasaan Acasha berubah kacau apalagi mendapati Kalana tampak tak keberatan sama sekali. Sekali saja, Acasha ingin mendengar Kalana protes.


"Oy, hari ini gue ulang tahun. Jangan buat suasana hati gue rusak." Silver menyemprot Kallen.


"Udah gue bilang, cepat atau lambat hubungan lo yang selalu berkaitan dengan ************ itu pasti terbongkar serapi apapun menyimpannya."


Silver dan Kallen saling beradu tatapan sengit. Acasha tidak peduli, memutuskan membongkar paper bag diberikan Cleo sebelumnya dibantu


Iyan.


"Kenapa isinya kue ulang tahun?" Iyan terperangah. "Kelahirannya mana pantas dirayakan." Iyan berbisik.


Acasha tergelak pelan, celetukan Iyan ada saja membuat Acasha terhibur. Setidaknya usaha Iyan mampu mengantarkan Acasha mulai tenang kemudian.


"Ayah, pemantik." Acasha mengulurkan tangan di balik punggung Silver.


Luka menyerahkannya. "Semoga kue ulang tahun itu isinya bom," tutur Luka datar.


Silver mendelik


"Jangan, dong. Ayah galak belum nikah, boleh mati asalkan udah punya keturunan." Acasha berkedip menyebalkan lalu meletakkan kue berbentuk bundar tersebut di hadapan Silver. "Tiup lilinnya, tapi sebelum itu make a wish dulu."


Di seberang, Cleo bersama Kallen menyaksikan dengan air muka rumit sementara Kalana menusuk-nusuk puding di piring menggunakan garpu. Tidak terganggu adu mulut di sekitarnya.


"Kenapa warna kuenya serba hitam, sialan!" Bukannya berterima kasih, Silver malah memaki Cleo.


"Sengaja, mengingat hidup lo suram jadi gue pilih itu." Cleo menyunggingkan senyuman tipis.


Acasha memutar bola matanya. "Stop. Bisa, kan, kalian adem ayem? Jangan ada yang bicara."


"Sebentar." Kallen meringis usai mendapatkan pelototan Acasha. "Gue mau umumin sesuatu."


Iyan memandangi penasaran, mengenal lama sudah pasti lyan memahami gelagat aneh anak bungsu Tamara tersebut.


"Kalana hamil, kami kebobolan." Kallen memejamkan mata. "Satu bulan lagi kami nikah!" Kemungkinan Kallen akan terus menahan napas, jika saja Kalana di sisi kanannya tidak tersedak.


*******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕