
Yakin, orang-orang di sekeliling tidak melihat... Acasha mengepalkan sebelah tangan rendah, melakukan selebrasi diam-diam. Secara bersamaan mengukir senyum bahagia.
Sebentar lagi, dia keluar dari lingkungan rumah sakit tanpa perlu berlama-lama mencium bau obat-obatan.
Meskipun mengorbankan air matanya yang berujung bawah mata membengkak. Termasuk menyebalkan, karena sekali menangis, efek sampingnya terlihat jelas.
"Berdiri yang bener, ngapain hadap tembok?" Suara ketus seseorang sukses mengagetkan Acasha. Menengok, Acasha seketika cemberut.
"Ayah...." Suara Acasha merengek serak, membuat Silver yang barusan menegur sontak melotot. "Aku itu pulang ke mansion bukan mau perang, kenapa kalian harus kumpul di sini?" Acasha melanjutkan dengan nada lelah.
Luka yang seharusnya istirahat atau paling tidak terapi supaya kondisi semakin membaik, justru ikut nimbrung di pelantaran rumah sakit.
Mengetahui protesannya diabaikan, mau tak mau Acasha menyabarkan diri.
"Udah nggak marah lagi, kan?" Kallen bertanya penuh harap. Tidak memedulikan tatapan Silver dan lyan seolah-olah berniat melubangi kepalanya.
Acasha mengangguk. "Berkat Ayah aku bisa menghirup udara segar." Acasha menerima saja pelukan Kallen kemudian.
"Maksud lo rumah sakit milik keluarga gue ada polusinya gitu." Silver berkacak pinggang.
"Iya, banyak banget polusinya." Acasha menyahut malas-malasan, sambil mendorong pelan tubuh Kallen lalu Acasha mengusap keningnya yang terus di berikan kecupan. "Berapa kali aku bilang, aku mana suka di sosor belalang sembah!"
Kallen memegang bibir. "Emang kenapa? Benda tanpa tulang ini Kalana selalu ketagihan," ujarnya.
Iyan awalnya terkekeh geli mendengar Kallen dipanggil gadis itu belalang sembah langsung terhenti.
"Jangan sebut-sebut nama Kalana." Iyan melirik tajam Kallen di balik kacamata. "Ganggu." Meneruskan terang-terangan, raut wajah itu yang terkesan kesal membawa mereka tak berkutik sejenak.
Acasha tiba-tiba menghentakkan kruk ke lantai ubin hingga menimbulkan bunyi.
"Aku enggak ngerti kenapa Ayah terlihat nggak suka sama Kak Kala, padahal perasaan Kak Kala nggak pernah buat kesalahan apapun ke Ayah." Acasha memandangi lurus Iyan yang mematung.
"Bisa jadi ada hubungannya di masa lalu, dalam bawah sadar Iyan membentuk ketidaksukaan pada Kalana secara sukarela."
Acasha membatin. Bulu roma di lengannya meremang. Jika itu memang benar, maka bagaimana dengan yang lain.
Kilas balik tentang masa lalu Hazel tunjukkan, jelas sekali Kallen di masa itu menyukai Kalana dan sekarang takdir pun serupa, walau di awal Kallen memperlakukan Kalana layaknya bukan manusia.
Di antara kelima orang bersama Acasha detik ini, Kallen yang menurut Acasha paling tak punya otak.
"Kebanyakan melamun bikin umur pendek." Silver bercelatuk, telunjuknya menyentil gemas dahi Acasha. "Musuh bisa ambil kesempatan luncurin peluru ke perut lo, dugong!" Silver memperingati kesal.
"Nggak akan kejadian." Acasha melangkah mundur. "Oke, aku mau pulang. Semangat kerjanya kalian, pengecualian Ayah Luka." Acasha memegang pergelangan tangan Melly baru tiba di sampingnya.
Melly menunduk hormat sebelum pergi, menuntun Acasha menuju mobil kemudian.
Memastikan mobil putih tersebut sudah tidak tampak lagi, Silver menoleh sepenuhnya terhadap Kallen.
"Lo butuh bogem mentah maksimal lima dari gue." Silver menyambar kerah kemeja atas Kallen, menyeretnya memasuki gedung rumah sakit kembali.
*******
Kupluk hoodie di turunkan, rambut legam acak-acakan dengan bawah mata menghitam. Sekali lihat, orang lain menyimpulkan cowok remaja itu kurang tidur.
Berjalan menyisir trotoar, garis wajah yang datar tidak menampilkan emosi berarti. Satu tangan di masukkan ke celana jeans sementara yang lain menggenggam ponsel.
Membaca rentetan pesan masuk beberapa hari belakangan. Kebanyakan hampir isi pesan dukacita.
"Yasa Kalandra." Sapaan bersumber dari sebelah kanan bersamaan ponsel Yasa pegang di rebut paksa. "Kebetulan kita ketemu di sini."
"Gue penasaran." Yoga mengamati, berdiri menghadap. "Akun medsos Aca kalau nggak kegiatan Ayahnya ya pasti teman-temannya."
"Jadi, menurut lo itu masalah?" Yasa membalas tatapan Yoga lempeng.
Yoga mengangguk sembari merapikan blazer, di dada kiri tersemat pin berwarna keemasan berbentuk mahkota, di bawahnya tercantum Jingga High School.
"Gue nggak suka Acasha terlalu nempel sama orang yang pura-pura bersikap baik."
Buku jari Yasa terkepal kuat. Perkataan seseorang tidak di kenalinya sekarang, berhasil menyinggung.
"Lebih baik tunjukin sikap asli. Jangan sok polos, sampai kapan lo menahannya?"
Emosional Yasa sedang kurang baik lalu Yoga mengambil kesempatan. Kapan lagi dia bisa memancing. Selama ini, hanya memantau melalui sosial media Acasha. Menanti postingan gadis itu sekalipun tidak penting.
"Apa tujuan lo?" Yasa bertanya dingin.
"Seharusnya yang gue dengar bukan itu, tapi "lo kenal Acasha?!" Yoga tersenyum remeh. "Gak papa, pertanyaan itu simpan dulu. Nanti biar Acasha yang jawab."
Yasa tidak mengatakan apapun.
"Gue punya hutang ke salah satu Ayahnya Aca. Dia menginginkan sesuatu, intinya di masa depan nanti, gue bakal setia di sisi Acasha...." Yoga berbicara dengan nada provokasi.
Yoga tidak sempat menghindar atau memang sengaja tidak melakukan, saat perutnya di tendang kencang. Seakan sang pelaku belum puas, detik berikutnya punggung Yoga menghantam kursi beton.
Yasa semakin melangkah maju. "Berarti lo udah punya gambaran masa depan sama Acasha." Yasa berujar lirih, meletakkan kakinya berbalut sepatu di pundak Yoga.
Yoga mengerang lalu tertawa pelan. "Gambaran masa depan ya? Hm, boleh juga." Kedua tangan Yoga terentang. Meredam denyutan sakit di mana-mana, Yoga menatap sinis Yasa. "Dasar bermuka dua!" sambungnya tajam.
Yoga bergerak cepat menahan kaki Yasa yang hampir menginjak wajahnya.
"Lo cari ma...."
"Yasa!!!"
Teriakan itu mengantarkan bibir pucat Yasa terkatup. Keduanya menoleh kompak ke seberang jalan.
Mengerjap. Butuh waktu bagi Yasa mengenali siapa sosok yang tengah berjalan pincang menghampiri.
*******
"Tadi itu kami salam perkenalan." Yoga menyengir seraya meletakkan tiga botol minum ke meja. "Ngomong-ngomong ini hari pertama gue jadi siswa JHS dan gue senior kalian."
Acasha, beberapa menit lalu menangkap basah masih memicing curiga. Tentu saja dia tidak percaya.
"Terus kenapa lo ada di sini?"
"Gue terpaksa bolos karena ada yang lebih menarik."
Yoga mengusap bahunya, menatap penuh arti pada Yasa yang duduk di sebelah Acasha terus-terusan diam, namun mata itu selalu berpusat ke satu arah.
"Jangan pernah tanya alasan keberadaan gue di pinggiran kota." Acasha buru-buru berbicara sampai Yoga hendak membuka mulut kembali terbungkam paksa. "Yasa, ini beneran aku." Acasha tersenyum samar.
Yoga yang menyaksikan hampir mengebrak meja mendapati Acasha mendadak di peluk kemudian.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕