
"Yang bisa kamu lakukan cuma mengancam!" Narasea berkata sinis, menyingkirkan rambut basahnya karena darah yang nyaris menutupi wajah.
Dia kesakitan di mana-mana. Terus memohon pengampunan berakhir sia-sia. Tertunduk dalam, air mata Narasea kembali jatuh, membasahi lantai kamar.
"Berdiri, Sea!" Lukara memerintah tegas. "Istriku, berdiri. Kamu tidak patuh, aku senang hati membantu!"
Narasea merintih. Kaki kanannya patah, anak panah menancap di paha dan tangan, walau bisa regenerasi bukan berarti Narasea tidak dapat merasakan sakit.
"Aku belum puas. Tenang saja, anak panahnya tidak mungkin membunuhmu." Lukara menyeringai samar. "Di dekat jendela, berdiri tegak di sana."
Narasea menurut. Susah payah mengesot ke tempat Lukara maksud. Kedua tangan Narasea menumpu ke jendela, berbalik menghadap sosok pria bersedekap di tengah kamar.
"Kamu terlihat cantik, Sea."
Punggung Narasea seketika menggigil, napas terengah-engah Narasea meringkuk menyadari Lukara berjalan menghampiri.
"Cincin ini sungguhan mengganggu." Lukara meraih tangan kiri Narasea lembut, namun sorot matanya berubah bengis. "Lepaskan, cincinnya!" Dia membentak.
Narasea menggeleng lemah. Cincin Silver berikan padanya akan menghilang sendirinya, kalau salah satu di antara mereka berdua tidak lagi saling mencintai, untuk alasan itu Lukara sering menyiksanya tanpa ampun.
"Aku benar-benar harus membunuh Silver. Memenggal lehernya di depanmu terdengar bagus."
"Ja... jangan!"
"Ternyata kamu ingin lebih kejam, Sea. Pilihan kedua, bagaimana jika hewan buas di hutan seberang yang mencabik-cabik tubuh Silver, bahkan aku yakin kamu kesulitan mengenali kekasihmu itu."
Narasea menangis terisak-isak. Air matanya bercampur oleh darah.
Lukara mengamati, sebelah tangan Lukara mengusap muka Narasea hati-hati kemudian.
"Tidak apa-apa, aku memaafkan." Lukara menatap dingin jari manis Narasea yang tersemat cincin.
Posisi di hadapan jendela seolah-olah memprovokasi. Cincin permata safir tersebut nampak bercahaya, di langit berawan tipis sedang menunjukkan bulan purnama.
"Tapi, hukuman kamu tetap berlanjut." Lukara
menuntun jari manis Narasea ke bibirnya, dengan ekspresi tenang memasukkan ke dalam mulut.
Lagi-lagi Lukara menggigit. Baru melepaskan usai puas mengecap darah dan memastikan tulangnya remuk redam.
*******
"Kalian persis seperti pelayan, menuruti semua kemauan Raja." Kata-kata itu meluncur tepat ketika melewati dua pria yang kompak pura-pura tidak melihat.
Di siksa sekejam apapun selama jantung dan kepala tidak terluka parah, Narasea masih mampu menyembuhkan fisik dan organ dalamnya yang dibuat Lukara cedera.
Kaki Narasea pagi ini nampak baik, seakan semalam tidak mengalami bengkok mengerikan sebab ditendang berulang-ulang, jari manisnya tetap utuh, paha sekaligus tangan Narasea tak lagi terkoyak karena anak panah.
Narasea merentangkan tangan, penuh kesengajaan mencegat Kallen dan Cleoandra.
"Kenapa kalian mengkhianatiku?" Narasea menelan ludah pahit. "Maksudku, kami." Tatapannya mengartikan kekecewaan.
Selama ini dia sangat menghormati mereka. Sedikit pun tidak pernah di bayangan Narasea, delapan bintang keberuntungan di ambang kehancuran.
Keberadaan Silver, Ariyan, dan Hazel detik ini menjadi misteri. Tiap malam Narasea selalu mencemaskan ketiganya.
"Di mana Silver lalu Ariyan?" Narasea menunjuk wajah Cleoandra. "Adikmu bahkan kamu tumbalkan cuma ambisi Lukara. Dasar bajingan!" Narasea melanjutkan ketus.
Cleoandra tersenyum lurus dengan lembut menurunkan telunjuk Narasea.
"Ambisi Lukara itu kamu, Sea. Terima saja."
Narasea terperangah.
"Kamu dan Lukara sudah menikah. Orang-orang seperti kita harus menghormati ikatan suci itu, terlepas caranya salah atau tidak."
Narasea sontak menunduk. Balasan Cleoandra sukses membuatnya sakit hati, sudut mata Narasea melirik Kallen yang bereaksi diam. Bertemu pandang sesaat, Kallen membuang muka setelahnya berbalik pergi.
"Kamu cukup mematuhi." Cleoandra menepuk bahu Narasea. "Jangan ke penjara bawah tanah, di sana ada Lukara." Mengerti tujuan Narasea, dia memperingatkan.
Tak lama Cleoandra menyusul Kallen kemudian, meninggalkan Narasea yang mematung di lorong kastil.
*******
Posisi Kalana yang berlutut, tidak dapat bergerak. Satu jari pun kesulitan, Kalana sadar pelakunya sosok arogan yang bersamanya kini, menunjukkan kemampuan dengan cara salah bagi Kalana hal menjijikkan.
"Berhenti menatap mataku penuh kelancangan!"
Rasanya Kalana ingin meludahi wajah itu.
"Terima kasih telah membantu, peran kamu membawa Narasea ke hadapanku... sangat aku hargai."
Kalana agak gemetar.
"Terus lah merasa bersalah sampai ke tulang."
"Aku pastikan kamu mendapatkan karma buruk, Lukara!"
Dia mendelik kesal. "Seandainya aku tidak berjanji pada Kallen, justru aku yang memastikan setiap tulang kamu patah atau menginjak mulut kamu hancur supaya tidak berbicara sembarangan."
Kalana tergelak hambar.
"Lakukan saja."
Pria bernetra biru tua itu melesat menghapus jarak, sebelah tangannya mencekam leher Kalana.
"Kalau aku menyakiti kamu yang ada kamu terbaring di tempat tidur setidaknya selama satu bulan. Kamu bukan Narasea, sahabatku yang paling manis.."
Lukara tertawa merdu sambil menepuk-nepuk pipi Kalana.
"Jangan takut. Besok sore, aku berjanji melepaskan kamu, Kalana..." Lukara berbisik.
Energi yang tak kasat mata sebelumnya membatasi gerakan menghilang seiring Lukara beranjak. Kalana mendapati itu mengulurkan kaki cepat, detik selanjutnya menendang kencang lutut Lukara berdampak pria itu yang hampir terjungkal.
"Kurang ajar!"
Kalana tersenyum sarkas. "Kamu memang kuat teramat terpaksa aku mengakui, tapi berbeda lawannya Narasea. Asal kamu tau, Narasea bungkam berarti dia masih memberikan kesempatan kamu memperbaiki semuanya!"
Kalana meletakan telunjuk kanannya ke bibir. "Diam dulu!" Kalana mendongak. "Dari kita berdelapan perlu kamu ketahui, ada empat orang yang bisa mengakhiri hidupnya tanpa harus berumur panjang. Sebenarnya ini rahasia."
Pengakuan Kalana membawa kemarahan Lukara tadinya padam kembali muncul. Buku jarinya memutih, rahang Lukara mengeras.
"Jelaskan!" Lukara menuntut dingin.
Kalana menggeleng menyayangkan. "Aku tidak mau. Silahkan, kamu menyiksaku sampai ke tahap sekarat. Pengecut!" Jawaban Kalana sama sekali tak terdapat jejak takut, semakin menguji kesabaran Lukara.
Janjinya dengan Kallen untuk tidak menyakiti Kalana tidak berlaku lagi di menit berikutnya.
Lukara menendang kuat dagu Kalana hingga mulut perempuan bersurai perak itu menyemburkan seteguk darah.
*******
"Istriku.."
Panggilan memenuhi rungu bagaikan nyanyian iblis baginya.
Narasea meremas selimut menutupi seluruh badan. Bertanya-tanya apalagi kesalahan dia perbuat, padahal seharian ini Narasea tidak memancing emosi pria itu.
"Sea, aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu." Lukara berdiri di sisi ranjang, membelai pinggang Narasea. Dia tertawa geli merasakan tubuh Narasea di balik selimut menegang. "Bangun, ada yang ingin aku perlihatkan. Anggap saja hadiah pernikahan kita."
"Aku lelah." Narasea menyahut lirih.
"Pilih ikut aku keluar atau aku bersedia makin menambah lelahmu itu di ranjang."
Narasea yang mengerti ucapan Lukara, buru-buru menyingkirkan selimut. Rambutnya nampak berantakan dengan mata agak sayu.
"Ke mana?" Narasea bertanya gentar.
"Rahasia." Tangan Lukara terulur memperbaiki renda pita gaun tidur Narasea.
Mendengarnya, perasaan Narasea mendadak buruk.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕