
"Kepo banget sih sama urusan aku!" Acasha berseru masam, terus berusaha merebut ponselnya yang Silver pegang. Kala Acasha mulai menunjukkan tanda-tanda berhasil, Silver langsung berkelit gesit bersama suara tawa, di telinga Acasha terdengar menyebalkan.
"Nih, bocah ngapain spam lo pesan? Cih, katanya gak bisa jauh-jauh. Dia minta lo sehari aja absen, besok harus sekolah. Emang dia siapa nyuruh-nyuruh?!" Silver mengomel, jemarinya sengaja berakhir menyentuh blokir lalu menghapus kotak bertulisan nama Yasa dengan emotikon senyum lebar.
Dari ekspresi, Silver terlihat jijik sungguhan. Silver menghindar, ketika skateboard hendak melayang ke arahnya. Skateboard itu mendarat cukup jauh, dapat di pastikan lemparannya mengeluarkan seluruh tenaga.
Acasha mendengus. Apa perlu dia beralih mengambil batu dan menghantamkannya di kepala Silver? Boleh juga.
"Di pikiran lo itu nggak akan pernah kejadian." Silver tahu-tahu telah berdiri di samping Acasha sambil mencubit gemas sebelah pipi Acasha.
Acasha mengambil kesempatan, tangan Acasha terangkat sekedar mengeplak wajah Silver.
"Aku mana sudi di pegang aki-aki kaya Ayah, dasar perjaka tua. Kapan coba punya pawang biar gampang di kandangin." Acasha mencak-mencak.
"Gue bukan hewan." Silver mengacak brutal rambut Acasha hingga berantakan. Ikat rambut Acasha nyaris jatuh dibuatnya.
Acasha mendorong Silver yang menghalangi pandangannya kemudian. Tubuh kekar Silver benar-benar mengganggu Acasha.
Napas Acasha tertahan sesaat. Matanya terbelalak syok, tidak mungkin salah mengenali walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, menjadi pertemuan pertama dan Acasha berharap bukan terakhir.
Detik ini pula seseorang yang Acasha harapkan, menampakkan diri tanpa perlu Acasha cari. Salah satu kunci utama mengungkap masa lalu, selain Hazel. Acasha meyakini itu.
"DIZELIA!" Acasha sontak berteriak, secara bersamaan berlari cepat menuju pinggiran taman. Menabrak pundak Kallen yang melangkah menghampiri, untuk hari ini saja Acasha mengabaikan panggilan Cleo dan Iyan.
"Aku mau kejar dia!" Tidak sampai lima detik Acasha berdiri di depan Luka. Acasha kembali berlari melewati Luka dengan raut wajah panik.
Benak Acasha bertanya-tanya, mengapa wanita itu kabur di saat Acasha sangat membutuhkannya.
*******
Gila! Dengan napas terengan-engah, Acasha menyandarkan punggung di tembok usang. Tak kaget menemukan pemukiman padat di tengah-tengah kota. Tempat Acasha pijak masih terbilang lumayan, belum sudut kota yang katanya lebih parah.
Kaos tanpa lengan Acasha kenakan basah oleh keringat, rambut lepek menempel di leher sedikit tidak nyaman. Tapi sekarang dia tak peduli. Demi apapun, Acasha mengejar layaknya orang kesetanan.
"Di manusia, kan?" Acasha bergumam. Bulu kuduknya meremang, tidak bermaksud mengatai. Acasha hanya merasa aneh saja, lari wanita paruh baya itu cepat bukan main, hal di luar nalarnya adalah baru di antara banguna ini Acasha kehilangan jejak.
Acasha menutup wajah, rasanya ingin menangis saja.
"Narasea...."
Acasha menoleh, terkejut. Sosok yang paling mau Acasha temui kini berdiri beberapa langkah dari tempat Acasha berada.
"Dizelia." Bibir Acasha spontan memanggil. Perasaan familiar muncul, seolah Acasha sering menyebutnya.
"Ikut aku." Dia berbalik, berjalan lebih dulu. Acasha mengangguk, mengusap kakinya sebentar yang terasa ngilu.
*******
Acasha tidak tahu berapa lama dalam keheningan, menyatukan tangan di atas paha
yang saling merapat. Celana selututnya juga kotor, tanah merah menempel di sana. Acasha memang sempat jatuh, beruntung lututnya tak lecet.
"Sudah lama sekali kita tidak duduk bersebelahan. Terakhir kali enam ratu tahun yang lalu, sebelum kamu memutuskan mengakhiri hidup kamu," ujarnya.
Acasha tersentak, menengok sepenuhnya pada wanita itu.
"Luka parut ini gara-gara Ayah, kan?" Acasha menyentuh dagu Dizelia yang darahnya mulai mengering. "Maafkan Ayah, sikapnya selalu begitu terlebih orang asing yang berani mengajak bicara."
"Cuma luka kecil. Jangan khawatir." Dia berbisik lembut seraya meraih tangan kanan Acasha. Sebelah tangan yang lain merogoh sesuatu di kemeja kotak-kotaknya.
"Aku menepati janjiku untuk memberikan gelang ini jika kamu memutuskan terlahir kembali. Bonusnya aku akan memasangkannya, Narasea."
Acasha terpana. Tidak menolak, di matanya gelang tersebut menarik Serba biru, terpasang tiga bebatuan mungil menghiasi gelang. Posisi keduanya duduk di tangga semen, tanpa naungan seakan membuat bebatuan tersebut berkilau di bawah sinar matahari pagi.
"Aku bukan lah siapa-siapa di masa itu. Bukan delapan bintang keberuntungan, hanya saja saat kamu memilih meninggalkan mereka kita sempat tinggal bersama." Ada senyum teruki dibibir, menyambut hangat tatapan Acasha.
"Aku merasa terhormat kamu mempercayaiku, Sea. Aku tidak keberatan kamu tidak mengingat apapun..."
Acasha bungkam.
"Kita pertama kali bertemu di tengah hutan
m eskipun kamu memasang barier agar seorang
m un tidak menyadari aura kamu, tetap saja aku
dapat melihatnya."
Acasha menghela napas, menatap lekat Dizelia.
"Cara bicara anda seolah terdapat sihir di masa itu."
Dizelia tertawa. "Mungkin iya." Jemari Dizelia mengusap gelang yang telah terpasang melingkari pergelangan tangan Acasha. "Aku kira kalian semua bereinkarnasi."
Acasha menggeleng. "Hazel nggak bisa. Hazel
mbilang dia cuma atma tanpa daksa." Acasha menjelaskan, gagal menutupi kesedihan di nada suara. Acasha ingat jelas, bagaimana sorot mata pria itu mengartikan kepedihan mendalam.
"Kamu pernah bertemu dengannya?"
Acasha bergumam mengiyakan.
"Orang yang kamu maksud Hazel itu lah satu-satunya dapat membantu. Jika kamu ingin menanyakan sesuatu, dia yang mampu menjawab semuanya. Pengetahuanku tentang
kalian terbatas," ucap Dizelia memberitahu.
"Perlu kamu ketahui, gelang ini bukan gelang biasa, Kamu sendiri yang pernah mengatakannya."
"Enggak mungkin kan ini gelang jadi-jadian." Acasha melotot horor.
Dizelia kembali tergelak. "Aku yakin gelangnya menyimpan sesuatu, sampai-sampai kamu terus mengingatkanku untuk memberikannya padamu, saat pertemuan itu tiba. Siapa yang menduga kita bertemu di zaman yang amat berbeda."
Biasanya Acasha sering menyela seseorang kalau berbicara panjang lebar, apalagi agak butuh waktu di pahami. Namun, dengan Dizelia malah sebaliknya. Acasha ingin mendengarkan lebih banyak.
"Dizelia."
"Ya?"
Acasha menelan ludah. Giliran Acasha yang meraih tangan wanita di sisinya, Acasha tidak akan bertanya tentang Dizelia yang penampilannya masih nampak seperti pertama kali mereka bertemu, sekitar delapan tahun lalu.
"Hazel bilang di masa lampau saya memiliki tunangan. Apa anda mengetahui atau setidaknya saya pernah bercerita." Acasha berkata hati-hati dengan jantung mulai berdebar tak nyaman.
"Aku bersedia mengulangi." Air muka Dizelia sempat menunjukkan keterkejutan dan Acasha melihatnya makin tegang. "Jika di masa lalu sosok itu sebagai kekasih kamu, Sea, maka di zaman ini tidak akan terulang hanya saja pria itu satu-satunya jalan menemukan jiwamu."
"Menemukan?" Acasha memalingkan muka, bibirnya memucat.
"Siapa yang menemukanmu pertama kali dia tunanganmu, Sea. Lagi pula masa lalu mustahil terulang karena dia sudah bersumpah untuk tidak menyukaimu tepat di hari kematianmu." Dizelia mengikuti arah tatapan Acasha yang tertuju ke sungai kecil. Satu-satunya sumber air di pemukiman tempatnya tinggal.
"Padahal tidak ada yang berubah, kamu tetap mati. Sumpahnya justru membawanya menyesal hingga akhir hayatnya."
Acasha meremas kepala. Satu nama di pikiran Acasha detik ini tanpa mendengar kelanjutannya pun Acasha mengetahui siapa yang di maksud. Seseorang yang pertama kali menemukannya... Silver Jenggala.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕