The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 27 ~ Menjadi Pintar



Acasha tertawa, ekspresi serius yang Yasa perlihatkan tadi di mata Acasha justru lucu. Lagi pula Acasha menganggap sebatas lelucun seorang anak kecil berpikiran polos.


Reaksi Acasha hanya mengiyakan sekaligus meminta maaf kemudian karena terpaksa meninggalkan Yasa sendirian di padang rumput ujung gang lalu pamit pergi. Untungnya Yasa tidak mempermasalahkan itu.


"Melly, Ayah mana?" Mengira akan di sambut saat tiba di mansion, Acasha menemukan ruangan biasanya mereka berkumpul sepi dan rapi.


"Di belakang rumah." Melly menurunkan Acasha dari gendongan. "Nona, mau ke sana? Biar saya antar."


"Aku bisa sendiri, Melly silahkan istirahat. Pasti lelah kan urusin aku si kepala batu ini." Acasha tersenyum geli mendapati raut bingung Melly.


"Pokoknya aku mau sendiri, jangan ikutin aku!" Usai melanjutkan sedikit tegas, Acasha langsung berlari ke tempat yang Melly maksud. Lorong panjang Acasha hafal, di lewatinya dengan mudah.


Tiba di tujuan Acasha dibuat melongo... kegilaan apalagi orang-orang ini lakukan. Apa tidak bisa saja sehari bersikap normal hendak melangkah mundur, tapi salah satu di antara mereka telah menyadari kedatangan Acasha.


Isyarat yang Luka berikan, Acasha pahami agak buru-buru Acasha menghampiri Luka kedatangannya sukses mengantarkan yang lain menoleh.


"Acasha kita pulang." Iyan yang pertama meninggalkan kegiatannya usai melempar potongan kaki entah milik siapa, pada buaya hitam di kandang hadapan Iyan.


"Gue kira lo lupa pulang, dugong. Padahal gue maunya lo tinggal sama anak miskin itu," ucap Silver sambil berkacak pinggang.


Acasha melotot kesal. "Aku gak suka Ayah bilang Yasa miskin. Kalau Ayah lupa aku juga miskin bahkan lebih miskin aku daripada Yasa, sebelum kalian pungut aku!" jawab Acasha berteriak sambil menghentikan langkah kakinya.


Belakang mansion seketika hening, buaya dikandang menunggu lemparan Kallen selanjutnya lebih dulu jatuh ke tanah.


Mata Acasha berkaca-kaca detik itu pula suasana hati Acasha berubah buruk. Acasha banyak tahu tentang penghinaan Yasa selama ini karena Acasha sendiri yang meminta Yasa menceritakannya.


Kallen dan Iyan kompak panik melihat Acasha berbalik.


"Mau ke mana?" Kallen melompat, menghalangi Acasha yang berniat pergi.


"Tidur." Acasha menyahut dengan memalingkan muka. "Aca pengen tidur, cape." Acasha melanjutkan lirih berusaha menyingkirkan badan tanggung Kallen,


"Jangan ke mana-mana, tetap di sini." Luka beranjak dari bean bag tepat melalui Silver yang berdiri tegang, kepalan tangan kanan Luka mendarat mulus di perut Silver hingga menimbulkan bunyi cukup keras.


Acasha membekap mulut terkejut, secara bersamaan Iyan mengompori Luka sementara Cleo sudah tersenyum manis, menikmati keadaan.


"Sekalian mulutnya jiwit habis kalau bisa sampai monyong!" Iyan bertepuk tangan.


Kallen tergelak sambil merentangan tangan, posisi Kallen berlutut memudahkan Acasha memandangi Kallen yang jelas seperti Cleo nampak senang.


"Sini, peluk Ayah," ucap Kallen.


Perasaan Acasha makin kacau jadinya, air mata menetes di pipi Acasha mendekap Kallen membenamkan wajahnya di dada Kallen.


"Wajah Ayah galak jangan dipukul nanti tambah jelek. Aca gak mau." Acasha bergumam berharap Kallen memberitahukannya pada Luka.


*******


Sebentar. Acasha tidak salah lihat, kan? Acasha yakin matanya masih berfungsi amat baik.


Tangan Acasha tadinya terulur hendak mengambil gelas di nakas harus menunda, sebab menyadari pintu kamar terbuka dan ada kepala menyembul meskipun penerangan sekarang hanya berupa lampu tidur, Acasha mampu mengenali sosok yang sedang mengendap-endap di sana.


"Ayah!" Acasha berseru tiba-tiba, kelopak mata setengah terpejam Acasha melambaikan tangan. "Masuk, aku tau tujuan Ayah ke sini," ujarnya.


Silver gelagapan.


"Ke... kenapa belum tidur?" Silver bertanya gagap, memasuki kamar luas sang balita.


Silver mendelik, memahami siapa yang Acasha sebut beruang. Bocah kecil ini, mengapa selalu menguji kesabarannya.


"Duduk. Minumnya nggak boleh rebahan," titah Silver datar usai meraih gelas mendekatkan ke bibir Acasha yang sesegera mungkin Acasha patuhi kemudian. "Maaf untuk kejadian tadi sore." Silver berbisik agak ragu.


Kening berkerut Acasha mendongak, mendapati Silver memandangi lurus dinding kamar lilacnya.


"Jangan di ulangi lagi ya, Ayah. Pokoknya jangan ada yang namanya ketiga kalinya ... Ayah Luka pukul Ayah galak." Acasha berdiri di kasur, meloncat cepat melingkarkan tangan dileher Silver.


Silver kaget setengah mati. "Ngapain lo, dugong? Gue anti di sentuh. Lepas." Silver berusaha menurunkan sang balita yang bergelayutan.


Namun, pada dasarnya Acasha memang keras kepala menolak menjauh justru satu tangan Acasha sudah beralih menjambak rambut


gondrong Silver.


*******


Kehadiran Cleo di pagi buta itu di bagian dapur membuat dua orang tengah sibuk memotong ayam syok.


Jari telunjuk Zahira hampir putus setelah mengenali rupa Cleo yang sering terlihat dipapan reklame.


"Yasa mana?" tanya Cleo ramah.


Danu berkedip linglung di sebelah Zahira. "Dilapangan sekolah," sahut Danu lugas.


"Oh, boleh saya ke sana?" Cleo menengok sebentar ke belakang, Ghani paham yang Cleo minta sontak memberikan paper bag besar digenggaman kepada Danu.


"Buat Yasa. Kalau nggak salah di dalamnya buku dongeng, puzzle, alat berhitung cepat. Kalian bisa buka biar tahu isi semuanya."


Cleo menatap serius Zahira kemudian. "Saya Cleo Rageswara, Ayah Acasha," katanya.


Zahira terbelalak. "Ta-tapi kamu masih remaja gimana bisa kamu udah punya anak bahkan seumuran anak saya?" Zahira mendadak lemas mendengarnya.


Cleo tertawa merdu. "Soal itu Pak Ghani akan menjelaskan sedikit, tanpa harus secara keseluruhan boleh, kan. Om Danu?" Ekspresi Cleo tunjukkan, jauh berbeda dengan sorot mata bulatnya yang berbanding terbalik.


Danu bergumam mengiyakan sambil tertunduk


dalam.


*******


Yasa memainkan jari-jari kecilnya di atas paha sesekali melirik takut seseorang di sisi kanannya yang duduk bersandar sambil bersedekap. Yasa tidak menyangka akan kembali bertemu Ayah Acasha.


"Kak Cleo, Yasa gak nakal kok sama Aca. Apa Yasa salah mau jadi bayangan Aca," tuturnya pelan.


"Bayangan?" Cleo tertegun.


Anak laki-laki tersebut mengangguk polos. "Iya, kata Aca boleh." Sudut bibir Yasa melengkung lebar mengingat kembali kesepakatan mereka buat.


"Selama ini orang-orang di sekolah banyak yang kasar terus teriak-teriak sama aku, cuma Aca yang baik." Tatapan Yasa berbinar cerah mengungkapkannya.


Senyuman bahagia Yasa tertular ke Cleo. "Kamu wajib menjadi pintar untuk mengikuti Acasha di masa depan nanti, Yasa." Cleo menepuk puncak kepala Yasa. "Ingat, menjadi pintar."


*******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕