
Keadaan menggigil, Acasha berusaha melepaskan diri dari keganasan perempuan sinting di hadapannya sekarang. Melawan pun sia-sia, tenaga Acasha terkuras habis.
Dia kalah. Melalui postur tubuh tampak sudah terlihat jelas.
Kalung pemberian Silver melingkar di leher Acasha sebelumnya Grace rebut paksa lalu Grace lempar asal ke pinggiran danau.
"CCTV belakang mansion udah aku rusak. Kamu tau, gembel. Rencana matang aku ini, cuma lima belas menit aku siapkan. Beberapa pekerja aku kasih obat tidur!" Grace menyentil bibir Acasha menyadari si anak perempuan hendak berteriak.
"Dasar penyihir, bangsat! Perbuatan lo ini, bakal gue balas dengan setimpal!" Acasha membalas memaki tanpa peduli tutur katanya sukses membuat Grace terkejut kemudian.
Acasha bertambah gemetaran karena berada di tengah-tengah danau yang airnya hampir mencapai dagu Acasha.
"Apa mereka tau kalau kamu sering berbicara kasar?" Mata Grace memicing.
Tatapan Acasha seketika datar, bukan kah penyihir sialan ini membutuhkan kaca.
"Anggap saja aku belajar dari mereka." Acasha menjawab lempeng.
"Kamu benar-benar terlalu berani. Cih, bagaimana bisa Silver yang terkenal tak punya hati itu memungutmu!" Grace terus bergerak maju. "Jangan menghindar, kalau kamu melakukannya aku bisa hilang akal!"
Tidak tahu diri. Acasha ingin berteriak itu sambil menyemburkan muka Grace dengan air suci, agar Grace menunjukkan tanda-tanda waras.
"Kamu harus melewati masa sekarat atau aku akan mengucapkan kata perpisahan ... selamat tinggal, Acasha." Grace memiringkan kepalanya.
Lagi-lagi Acasha tak sempat menghindar, pergerakan Grace yang menubruk badannya. Posisi Acasha tadinya berdiri tegak sontak goyah.
Grace terbahak pelan sambil bertepuk tangan, di saat menyadari Acasha berniat berenang Grace meletakkan kedua kakinya di perut Acasha.
Sengaja menekan, Grace tersenyum lebar. Demi
apapun, dia sangat puas.
Sementara Acasha dibuat gelagapan, dapat merasakan punggungnya menyentuh dasar danau kemudian.
Sakit sekaligus sesak.
"Ayo, mati!" Grace menunduk, air danau yang jernih dan penerangan cahaya lampu tiang mampu melihat apa yang terjadi dengan Acasha di bawah sana.
"Narasea...."
Acashaa setengah sadar, menegang menangkap panggilan itu memenuhi indra pendengarnya. Menyebut berulang-ulang.
"Ini aku, Hazel."
"Maafkan aku yang tidak bisa bereinkarnasi seperti kalian. Aku tidak tahu alasannya, tapi izinkan aku menemuimu, Narasea."
"Ngapain kamu merem melek?" Grace ikut menenggelamkan diri, dalam situasi menahan
napas Grace mencengkeram dagu Acasha, mengangkat tubuh lemas Acasha.
"GRACE!"
Si punya nama menoleh kaget. Aksinya menjambak rambut Acasha untuk menekan
kepala Acasha ke danau terhenti mendadak.
Dua orang cowok berlari mendekat, salah satunya langsung menyemburkan diri ke danau.
Giliran Grace yang terdorong, namun kali ini
sangat kencang sampai perempuan muda itu basah sepenuhnya secara bersamaan dia meringis ngilu.
"Dasar dungu! Gue pastikan, lo habis di tangan
Luka!" Silver membentak marah, membopong erat Acasha yang sudah terpejam rapat.
Hasrat Silver meremukkan tulang sepupu tunggalnya tersebut menjadi-jadi, rasanya ingin
melakukan detik ini juga.
"Ver, Silver!" Iyan di pinggir danau berseru. "Tahan diri lo. Acasha harus kita bawa ke rumah sakit!"
Pada akhirnya Silver menurut, kondisi Silver
basah kuyup tiba di depan Iyan yang membuka tangan, menyambut Acasha.
Bibir anak perempuan itu sungguhan pucat dengan kulit mendingin.
*******
Kallen mengamati Kalana dari gazebo sesekali menyunggingkan senyuman aneh. Pulau sebagai tempat liburan mereka terbilang privat, lagi pula sang pemilik masih keluarganya yaitu kakak laki-lakinya maka Kallen bebas bertindak apapun.
Di sana Kalana tengah sibuk membangun istana pasir, sesuai daftar keinginan terakhir Kalana jika berlibur di pantai. Kallen tak mau hewan peliharaannya tersebut merasakann ke-tidakpuasan.
Bersenang-senang itu bergantian, Kallen sendiri belum waktunya. Mungkin sebentar lagi. Kallen beranjak seraya mengusap bawah lengannya, berjalan menghampiri Kalana.
"Istana pasir lo buat, paling jelek yang pernah gue liat." Kallen berbisik, berjongkok di belakang Kalana. Kedua tangan Kallen lalu melingkar di perut Kalana.
Kalana membisu.
"Pas bocah dulu ... gue kira buatan Cleo yang bisa bikin mata gue rusak." Kallen melanjutkan dengan tawa geli.
"Kamu dan Cleo udah temenan dari kecil ya?" Kalana akhirnya berbicara, nada suara Kalana tampak biasa saja tidak tersinggung setelah di hina Kallen blak-blakkan.
"Iya, dari kami berlima. Gue kenal Cleo lebih dulu, disusul Luka terus Riyan, dan terakhir Silver." Kallen memandangi lurus ombak laut selalu menjadi kebiasaan Kallen jika di pantai meskipun merenung lama, dia tak pernah bosan.
"Aku iri." Kalana mengungkapkan lirih, jemari Kalana memainkan pasir putih di bawah kakinya.
"Kenapa iri? Semenjak lo jadi hewan peliharaan gue, saat itu pula lo juga jadi bagian kita. Bertujuh, sekalian sama Acasha," ucap Kallen spontan.
Kalana terperangah. Tidak mengerti mengapa dadanya tiba-tiba perih.
"Be... bertujuh?" Kalana berkedip linglung.
Kallen mengangguk.
"Aku seperti pernah mendengarnya, tapi ada yang aneh." Menjauhkan perlahan tangan Kallen di perut, Kalana berbalik menghadap Kallen.
Kallen kembali terbahak, kali ini lebih nyaring. "Peliharaan-ku yang lucu." Telunjuk Kallen mengetuk gemas kening Kalana. "Jangan memasang raut wajah serius, Kala. Rasanya gue pengen terkam lo sekarang."
*******
Duduk di sofa empuk penginapan, Kalana tidak paham apa yang membuat Kallen panik usai menerima telepon Luka.
Namanya sempat di sebut mengantarkan Kalana agak takut. Jujur, sedikit pun mana berani mencari masalah dengan Luka saling mengobrol pun tak pernah.
"Kita pulang." Kallen menempelkan tongkat putih di telapak tangan Kalana. "Gue pulang duluan dan lo Nares yang jemput. Lo kenal, kan? Dia kaki tangan gue. Enggak akan macam-macam." Kallen menjelaskan halus.
Kalana buru-buru menarik pakaian Kallen. "Iya, aku kenal. Tapi kenapa kamu gelisah?" tanyanya.
"Acasha masuk rumah sakit. Semuanya gara-gara orang sinting itu...maksud gue Grace," sahut Kallen.
Kalana menahan napas sebentar, kaki Kalana melangkah mundur kemudian. Dia merasakan keanehan itu lagi, perasaan dalam dirinya amat sakit.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕