
Silver termundur tepat setelah pintu kamarnya baru dia buka setengah, seorang perempuan berambut cokelat terang lebih dahulu menerobos masuk. Tanpa menyentuh, pintunya kembali tertutup.
Kali ini si pelaku bahkan sengaja memasang barier biru muda yang mengelilingi seluruh ruangan supaya kedap suara.
"Aku tidak keberatan kamu bersikap dingin, tapi bukan berarti kamu harus menjauhiku, Silver!" Narasea meninggikan suara, langkah kaki terus maju hingga Silver terpojok di tiang ranjang.
Keduanya saling tatap. Muka Narasea memerah karena amarah, namun berbeda dengan bola matanya yang dilihat teliti tampak berkaca-kaca.
Narasea menangkap cepat tangan Silver yang hendak mendorongnya.
"Aku akan menghabisi Lukara jika itu yang kamu mau. Kamu menjauh karenanya dan aku membenci ikatan di antara kami." Narasea mengungkapkan dengan nada sarkastis.
"Jangan bertindak di luar batas."
"Apa kamu tidak salah menasihatiku dengan kata-kata seperti itu?"
Silver memandangi lurus Narasea di hadapannya yang sama sekali tidak ada tanda-tanda menunjukkan ekspresi lembut.
"Kamu tau, kan, konsekunsi jika melanggar peraturan yang kita semua buat puluhan tahun lalu. Persahabatan kita suci, kalau ada yang menghancurkan maka dia akan menderita sepanjang hidupnya."
"Lalu, Lukara?"
Silver bungkam.
"Seharusnya dia mengerti yang di lakukan itu kesalahan. Lukara tidak peduli. Bisanya mengancam setelahnya menyakiti." Buku jari Narasea terkepal. "Kesempatan aku berikan sudah habis, kesabaranku berada di titik akhir."
Silver menggengam pergelangan tangan kanan Narasea erat.
"Jangan bertindak di luar batas, kamu melanggarnya, Sea. Aku pastikan, aku akan membencimu. Aku membenarkan yang di katakan Cleoandra padamu, lebih baik terima pernikahanmu dengan Lukara terlepas caranya salah atau tidak," tutur Silver pelan.
Narasea tertegun.
Silver menunjuk pintu. "Pergi Aku menghormati Lukara." Penuh terangan-terangan Silver mengusir perempuan bernetra biru laut tersebut.
Menyadari pihak lain tidak bergerak sedikit pun... Silver berbalik, berjalan menuju jendela kamar hingga jarak tercipta cukup jauh di antara keduanya.
Keheningan tak berlangsung lama karena gelak tawa sampai ke rungu Silver.
Narasea tertawa hambar, diam-diam air mata Narasea jatuh yang sesegera mungkin dia hapus kemudian.
"Kamu berhasil menyakitiku, Silver..." Bibir Narasea agak gemetar. "Aku berjanji tidak membunuh Lukara sesuai permintaan kamu, tetapi sebagai gantinya aku memiliki keputusan lain. Kamu mengenalku dengan baik, bukan?" Narasea tersenyum getir.
Silver menoleh terkejut secara bersamaan Narasea membuang muka.
"Padahal aku sangat mencintaimu." Narasea terpejam sesaat. "Kamu yang membenarkan perbuatan Lukara dan memilih di pihaknya, aku hormati." Sekali jentikan jari, barier menggelilingi kamar Silver menghilang di susul Narasea melengos pergi.
Silver di tinggalkan sendirian menatap kosong tempat Narasea berdiri sebelumnya, perasaan Silver berubah rumit yang semakin lama menyesakkan dada.
*******
Kapan mereka terakhir berkumpul? Kalana benar-benar lupa. Di masa lalu kesan hangat dan manis bercampur satu, Kalana selalu menunggu momen di mana taman berlapis rumput bersama bunga lavender milik Narasea adalah latarnya.
Tidak ada dalam bayangan Kalana, bisa jadi yang lain juga berpikiran hal sama, momen itu hanya masa lampau yang entah kenapa bagi Kalana di raba pun sekarang kembali terulang terasa mustahil. Teramat asing, tinggal menunggu waktu mereka akan berpisah jalan.
Kalana mendongak. "Semoga saja hujan atau sekalian badai," gumamnya.
Narasea duduk di seberang meja terkekeh geli mendengar. Mengikuti arah pandang Kalana pada langit yang kali ini justru tidak berpihak. Langit cerah bukan memberikan hawa panas melainkan sejuk.
"Sea." Kalana memanggil lirih, memastikan keberadaan mereka cuma berdua di sekitar taman, Kalana mempertemukan matanya dengan Narasea. "Aku di pihak kamu, Sea," ujarnya berbisik yakin.
Narasea tidak mengatakan apapun. Kalana yang menanti reaksi Narasea agak kebingungan mendapati perempuan itu yang diam. Detik ketiga Kalana baru memahami bahwasanya terdapat tiga orang datang menghampiri, salah satunya duduk di sebelahnya kemudian. Kallen.
Lukara mengusap rambut Narasea usai memberikan kecupan singkat di sana yang berujung Kalana menyaksikan itu melotot sinis. Tangannya di atas paha menahan diri tidak membalik meja atau seandainya Kallen tak mencengkeram lengannya, mulut Kalana juga ingin sekali ikut serta mencerca muka tersebut.
Kalana jelas menyimpan dendam atas kejadian di penjara sekitar dua bulan lalu. Rahang bawahnya nyaris tak dapat di selamatkan oleh tendangan Lukara, butuh satu minggu dia menyembuhkan dirinya sendiri.
"Tetap di tempatmu." Lukara kembali melanjutkan mengetahui pergerakan Kalana yang hendak beranjak. "Aku merindukan kita berkumpul, meskipun ada yang kurang." Lukara tersenyum miring sambil bersedekap.
"Aku senang hati menjemput Silver, Ariyan, dan Hazel." Narasea melirik datar Lukara. "Kamu ingin kita semuanya berkumpul, kan?"
Lukara tertawa lalu merangkul pundak Narasea, menyadari penolakan dengan sekali sentakan Lukara memaksa Narasea bersandar di dadanya.
"Kita berlima sudah cukup." Lukara meletakkan satu tangannya di perut Narasea yang mengantarkan tubuh Narasea menegang.
Sudut mata Narasea melirik Cleoandra di sisi kirinya tengah memperlihatkan raut wajah kusut, tidak berbeda jauh dengan Kallen dan Kalana. Firasat Narasea tiba-tiba buruk.
"Kami berencana memiliki bayi," ucap Lukara memberitahu.
"Itu tidak akan pernah terjadi!" Narasea membalas ketus, berusaha melepaskan tangan Lukara yang semakin melingkar kuat di perutnya. "Aku mana sudi mempunyai anak darimu!" lanjutnya.
Cleoandra tersentak, spontan berdiri begitu pula Kallen yang langsung memucat. Baginya Narasea terlalu berani.
Tawa Lukara bertambah nyaring sembari menjilat bibir bawahnya, tangan Lukara beralih memaksa kepala Narasea terangkat. Bola mata tersebut saling menubruk.
"Tidak ingin memiliki bayi, aku tebak ternyata kamu punya rencana lain?" Lukara membisik, jemari pucat Lukara membelai pipi mulus Narasea tanpa terganggu kehadiran tiga orang di dekatnya.
Siapa yang menduga Narasea mengangguk, belum sempat Lukara membuka mulut menuntut penjelasan, sapuan lembut lebih dulu menempel di bibirnya.
*******
"Sampai kapan kamu terus-terusan melihatnya?" Setengah badan Ariyan bersandar di tembok, melongok sebentar ke luar jendela.
Silver tidak kaget ada yang menangkap basah dirinya menginjakkan kaki di lantai atas kastil.
"Mereka berciuman!" Ariyan gagal mengontrol intonasi suara dengan mata yang terbelalak, lalu buru-buru menegakkan badan. Lirikan ketiga kali ke bawah sana justru menemukan kejadian di luar akalnya.
Dari sisi manapun Narasea yang memulai, namun tindakan itu sedikit membawa Ariyan memendam ketakutan.
Selama ini Ariyan selalu tahu bagaimana Lukara sering memaksa Narasea, segala hal identik melukai. Tanpa mendengar cerita berapi-api Kalana pun Ariyan mengetahui.
Bodohnya, Ariyan tidak bisa berbuat banyak. Dia merasa pengecut, apapun bayaran atas sikapnya yang tetap diam. Ariyan akan menerima, karena karma itu pasti tiba oleh orang-orang seperti mereka.
"Silver." Ariyan bergumam ragu, tidak berani mengarahkan tatapannya ke samping.
*******
Narasea telah menduga kakinya tidak mungkin melangkahi mudah gerbang utama kastil, jadi kala seseorang seolah-olah mengerti tujuannya lalu berakhir mencegat kemudian, Narasea menanggapi dengan tenang.
"Apa yang kamu lakukan?!" Lukara berseru kesal sambil meraih cepat pergelangan Narasea.
"Bukan urusanmu." Narasea membalas sinis, menyentak kuat hingga cengkeraman Lukara terlepas begitu saja.
Sejenak Lukara tertegun, bibirnya mengukir seringaian. "Kulitku perih." Lukara mengusap telapak tangan yang dibuat memerah. "Terlalu berbahaya keluar di tengah malam, Sea."
"Justru karena itu aku memutuskan pergi di tengah malam, saat yang lainnya kemungkinan sudah tidur pengecualian untuk si penghianat di depanku sekarang." Narasea berujar dingin.
"Jaga bicara kamu!" Lukara membentak. "Seharusnya kamu menghormatiku, Sea. Ikatan kit.."
"Perlu kamu ketahui, aku bisa menghancurkan ikatan itu sekali pun ikatannya bagi orang lain suci." Narasea menyela sengit. "Aku akan memisahkan diri dari kalian dan anggap saja ini awal dari mimpi buruk kamu, Lukara ...." Tepat ucapan itu jatuh, kepalan tangan Narasea yang terbungkus energi biru mengenai telak dada Lukara.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕