The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 07 ~ Sambutan Baik



Undangan itu tertulis makan malam sepuluh klan keluarga besar, berada di hotel berbintang di pusat kota. Setidaknya itu yang sempat Acasha baca.


Mengira bersama Luka, namun pemikiranbAcasha salah dia justru dengan Cleo sepanjang perjalanan menuju hotel.


Acasha melirik tangannya yang digandeng Cleo lalu wajah Cleo sedari dari tak memudarkan senyum setiap ada yang menyapa di lobi atau paling tidak punya keberanian, sekedar berhenti sambil menunduk hormat.


Gila!


Orang-orang disekitarnya memang bukan kalangan biasa.


"Kenapa?" Acasha tersentak.


"Jangan takut. Ada gue."


Kaki Acasha refleks mundur saat Cleobmendadak melipat kaki, menyamakan tinggi badannya pada Acasha tanpa tahu sang balita ketar-ketir melihat setelan mahal Cleo kemungkinan akan kotor.


"Ayah ke mana?" Cleo tertawa pelan.


"Ayah yang mana?"


Acasha tersipu, saking kurang ajarnya memangil mereka semua Ayah, Cleo sampai mulai terbiasa bahkan kini kebingungan siapa yang dimaksud Acasha.


"Semuanya."


"Udah di dalam."


Cleo mengusap puncak kepala Acasha. "Selama lo sama gue, lo bakal tetap aman." Cleo bangkit kembali menuntun Acasha.


"Aura lo masih kaya orang gembel walaupun udah di make over." Silver berkata tajam setelah mengamati lama Acasha yang duduk di sebrang dalam pangkuan Cleo.


Sialan! Mulut Silver butuh tamparan agar insaf. "Makasih, Ayah. Aku emang cantik."


Silver terbelalak berbeda dengan Kallen dan Iyan yang kursinya masih satu baris dengan Acasha mendengar jelas kompak terbahak.


"Jadi, anak ini yang kalian pungut itu." Ucapan itu membuat Kallen lebih dulu bungkam disusul Iyan yang langsung menegakkan tubuh.


Dari sudut mata Acasha menemukan Iyan mengangguk.


"Bukan kami pungut, Ma. Tapi diadopsi anggap aja latihan sebelum punya anak beneran," sahut Iyan tenang.


Acasha nyaris terbatuk mendapati orang-orang dewasa di depan mejanya memasang ekspresi muram.


"Oh, boleh. Selama kalian nggak lalai dengan tugas ... silahkan." Wanita bergaun merah tersebut menarik sudut bibir lembut, rambutnya agak pirang terurai lurus.


"Jangan bahas anak, umur masih bau kencur.


Riyan Diarta!" Iyan cengar-cengir. Acasha menebak kalau wanita itu Mamanya Iyan.


"Namanya Acasha dan sekarang tinggal di rumah Luka," ujar Cleo tiba-tiba. "Apa ada yang ingin ditanyakan?"


Hening.


"Selama keputusan itu tidak berdampak buruk kami akan selalu berpihak. tidak ada yang keberatan, Leo."


"Ck, buang-buang waktu."


Keluhan berasal di moncong Silver kemudian dihadiahi berupa cubitan di pundak kanan-kiri, sang pelaku dua orang berjenis kelamin berbeda mengapit Silver.


Acasha pura-pura tidak melihatnya, lebih tertarik mencari keberadaan Luka. Akhir-akhir ini Luka sering hilang mendadak, hampir satu bulan bersama mereka Acasha mulai mengetahui banyak hal bahkan bersifat rahasia.


"Barusan Luka pergi." Cleo berbisik. "Lo mau ketemu Luka?" Seakan menyadari kegelisahan si balita Cleo beranjak dari bangku.


Acasha heran pasalnya bukan hanya Cleo


m yang hendak membantunya menemui Luka melainkan tiga orang juga ikut membuntuti.


*******


Ternyata Luka ada di salah satu kamar hotel, bersantai di dekat jendela sambil menyesap batang rokok.


Acasha berdiri membelakangi Luka memandangi asap putih itu yang bergerak tak tentu arah. Dia tidak kaget bahwa Luka seorang perokok aktif karena Acasha beberapa kali pernah memergoki Luka bersama tembakau itu.


"Kenapa lo pergi? Acaranya belum selesai." tanya Kallen menghampiri Luka.


Kini giliran Cleo yang pamit, beralasan ingin ke toilet saat melewati lorong hotel meninggalkannya dengan Silver, Kallen, dan Iyan.


Telinga Acasha pengap oleh ocehan lyan begitu pun Silver mengomentari gaun dikenakannya, Silver bilang penampilan Acasha bisa membuat orang lain sakit mata.


Kurang ajar!


"Bosan." Luka menyahut singkat sambil meletakkan rokok ke asbak, pandangan lurus di sisi Kallen. "Sini, kata Cleo lo cari gue."


Acasha berkedip, melangkah menuju Luka kala melalui Silver yang menyelonjorkan kaki Acasha mengambil kesempatan menendangnya.


Silver melotot.


Acasha tersenyum lebar. "MaafAyah, Gak sengaja." Kalau Silver mempermasalahkan berarti otaknya konslet.


"Lo udah diterima sama mereka, orang tua gue malam ini belum bisa datang karena sibuk," tutur Luka.


Acasha kebingungan apa yang harus di katakan seorang balita pada umumnya jika diberitahu itu. Tidak mungkin dia bertindak merajuk. "Sekarang kita perlu ucapkan selamat ke Nona kecil ini." Acasha merasakan kedua tangan melingkar di perutnya, Kallen memeluk Acasha yang sudah berjongkok di balik punggung mungil Acasha.


"Selamat datang, Acasha." Luka tersenyum tipis, mata kelabu tersebut tampak memancarkan kelembutan bagi yang jeli menyadari. "Giliran lo, Ver."


Silver tengah terpejam dibuat tersentak, menoleh sepenuhnya pada sang pemimpin Hades itu kemudian.


"Apa?!"


"Jangan pura-pura, bego!" Kallen mendelik. Acasha merapatkan bibir menahan tawa dengan senang hati berdiri menghadap Silver, kapan lagi bisa menikmati wajah tersiksa Silver padahal sekedar mengucapkan kata sambutan manis.


Tangan Acasha terulur. "Ayah mau cium tangan aku, kan?" Acasha tidak peduli bagaimana kini muka Silver memerah, entah karena malu harus melakukannya atau marah karena tak bisa menentang keras.


Silver menunduk sambil meraih tangan kecil Acasha, meneliti lekat jika jemari ini diremas kuat telah pasti akan remuk.


"Selamat datang. Lo aman sekaligus bahagia asalkan terima keburukan kami," bisik Silver.