The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 20 ~ Kamu Malaikat



Acasha berharap kewarasannya akan tetap berdiri tegak tanpa goyah sedikit pun. Ya, semoga saja. Acasha juga tak bisa mengambek berlama-lama jadi mereka pergi ke sekolah bersama, kembali terulang.


"Aku boleh sama Yasa?" Acasha bertanya antusias turun dari mobil di bantu Cleo.


"Maksud lo apa?" Justru Silver yang menyahut sambil bersedekap, merasa terganggu dengan raut wajah sang balita tunjukkan.


Ini dia si pelaku yang memukul Yasa hingga menangis lalu anti minta maaf, malah Cleo baik hatinya mewakili Silver. Seperti itu yang diceritakan Kallen pada Acasha.


"Aca gak suka Ayah galak nyakitin Yasa." Acasha meniru gaya Silver.


Silver melotot, tangan Silver gemas ingin meremas muka Acasha yang entah kenapa di matanya terlihat menyebalkan, tetapi sebelum kesampaian badan besar Silver lebih dulu didorong.


Iyan acuh tak acuh Silver mengumpati namanya. Berjongkok di hadapan Acasha, cowok berkacamata bulat tersebut mencubit pelan pipi Acasha seolah belum cukup Iyan menciumi pipi Acasha bergantian.


Acasha membiarkan. Katanya untuk beberapa hari ke depan dia tak akan bertemu Iyan bukan hanya Iyan, Cleo, dan Kallen pun sama.


"Nggak sia-sia gue beli kupluk kodok, lo imut banget..." Iyan mendekap Acasha saking


eratnya Acasha agak sesak napas kemudian.


Kallen menyadari, menarik Acasha menjauhi Iyan. Sengaja mendekatkan Acasha ke samping Luka yang sedari tadi cuma diam mengamati.


Dengan begitu Iyan tidak berani banyak tingkah dan Silver harus berpikir ulang berbicara keterlaluan.


"Ayah!" Acasha meraih jemari Luka. "Jadi, aku


boleh kan temenan sama Yasa. Main berdua."


Acasha berkata halus sambil tersenyum lebar,


berharap ada perubahan di garis wajah selalu


dingin tersebut.


Luka menunduk, memandangi Acasha yang menunggu penuh kesabaran begitu pula yang


lain ikut penasaran.


"Boleh," jawabnya datar. "Silahkan. Satu orang pun nggak boleh melarang lo berteman dengan Yasa." Luka mengambil kupluk serba hijau menutupi puncak kepala Acasha lalu melempar


ke arah Iyan.


Iyan menangkap pasrah memahami bahwa Luka tidak menyukainya, tapi itu bukan lah apa-apa nanti Iyan berjanji memasangkan kembali pada Acasha di lain waktu, tentu saja tanpa sepengetahuan Luka.


"Makasih, Ayah." Rasanya Acasha ingin sekali menarik sudut bibir Luka agar tersenyum. Jarang sekali mendapati bibir Luka melengkung


apalagi sampai mencapai mata, itu bahkan tak pernah.


Acasha beralih berjalan ke tempat Silver sedang bersandar di pintu mobil mengabaikan ekspresi Silver yang terangan-terangan mengibarkan bendera bahwa anti diganggu.


"Apa?" Silver membuang muka.


Apa-apaan itu... mengapa wajah Silver memerah, padahal masih pagi dengan langit agak mendung sontak mata Acasha memicing menyadari gelagat aneh Silver.


Kebingungan Acasha buyar karena mendengar


gelak tawa Kallen disusul Iyan.


"Acasha." Cleo di sebelah Silver melepaskan tangan Acasha dari kaki Silver. "Jangan nempel sembarangan Ayah galak lo belum mandi." Cleo berbisik serius.


"Ayah belum mandi!" Acasha memekik terkejut seraya menutup hidung. "Pantas bau, Ayah. Bau


busuk!" tutur Acasha sekenanya.


*******


Tiba di kelas tanpa kehadiran Melly di belakang Acasha, biasanya setia membuntuti. Melly menunggu di taman, terdapat ruang baca sekaligus tempat para pengasuh anak-anak yang bersekolah di TK Cipta Jingga biasanya berkumpul.


Namun, pemandangan Acasha dapatkan usai menginjakkan kaki di ambang pintu kelas adalah kejadian jauh dari kata baik.


Yasa dirundung oleh anak-anak sok berkuasa di dekat meja guru. Kurang ajar! Berani sekali mereka.


"Oy!" Acasha berlari menghampiri. Mengapa semua wajah terlihat imut itu mempunyai sikap macam setan. "Jangan menyakiti Yasa." Acasha mengacungkan jari tengah tepat di depan muka anak perempuan mengenakan bando hello kitty.


"Kamu Acasha, kan?" Si anak perempuan yang sebelumnya sempat Acaha lihat menginjak lengan Yasa bertanya lirih.


"Iya." Acasha mendelik saking kesalnya Acasha lupa membantu Yasa. Berlutut, Acasha merangkul Yasa. Penampilan Yasa tampak memprihatinkan.


Seharusnya Yasa melawan atau paling tidak keluar kelas, mengadu pada guru kalau Yasa tidak berani bisa menunggu guru datang.


"Kenapa kamu malah menyentuh miskin ini. Tasnya koyak, seragamnya juga dekil," ucap si anak bando.


Acasha mengerjap. "Berisik!" Acasha melangkah maju, kepalan tangan Acasha gatal meninju wajah songong mereka bergiliran.


"Aku gak papa, Aca." Ucapan itu menghentikan gerakan Acasha. "Ayo kita ke bangku. Aku punya seragam baru," lanjut Yasa berbisik.


Acasha patuh menulikan telinga oleh kebisingan yang terjadi kemudian, Acasha mengekori Yasa dengan tatapan lurus pada punggung kecil Yasa, beberapa langkah di depannya.


"Kamu pasti kesakitan." Berbicara parau, mata bulat Acasha memandangi lengan Yasa yang sedikit lebam.


Yasa mengangguk jujur. "Iya, tapi sekarang udah gak sakit lagi. Aca datang. Malaikat Yasa datang," jawab Yasa polos.


Acasha mengerutkan kening. "Malaikat? Siapa malaikat?" tanyanya heran.


Yasa menunjukkan seragam baru hati-hati di ambil dari dalam tas, seolah takut akan ada yang melihatnya selain Acasha. "Kamu malaikat..." Yasa tersenyum tipis.