The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
chapter 21 ~ Dia Kesakitan



Acasha buru-buru menggeleng sebelum pemikiran konyol Yasa ke mana-mana nantinya. Malaikat? Acasha mana cocok dengan perumpamaaan itu.


"Aku bukan malaikat!" sahut Acasha tegas.


Ekspresi Yasa berubah murung. "Kamu gak suka, Aca?" Berkata lirih, kepala Yasa tertunduk.


Astaga, Acasha merasa orang paling jahat dimuka bumi. "Aku bukan malaikat, oke? Gimana


kalau kamu ganti seragam, soalnya seragam kamu udah basah banget aku gak mau Yasa sakit." Acasha tersenyum menenangkan sambil mengusap hati-hati sekitaran lengan Yasa agak


lebam. "Hati-hati, jangan sampai kebentur."


Menduga anak laki-laki duduk di sebelahnya akan beranjak, Acasha justru mendapati Yasa merosotkan badan begitu saja ke bawah meja.


"Kamu ngapain?"


"Ganti seragam."


"Kenapa harus di sana?"


"Aku gak mau seragam baru aku di ambil mereka."


Acasha tertegun lalu tertawa kaku hampir menutup mata setelah menyadari Yasa hendak membuka kancing seragam. Acasha malu sendiri, gilirannya yang memikirkan hal konyol.


Dia cuma anak balita berusia empat tahun begitu pula Yasa. Menunggu Yasa selesai, Acasha meraih tas Yasa mulai penasaran isi tas Yasa.


Satu buku tulis beserta kotak pensil warna, tiga buku dongeng, uang tunai dua ribu.


"Aku gak bawa bekal, Mama sibuk masak buat jualan," ucap Yasa. Nada suara Yasa terdengar sedih di telinga siapapun, kembali duduk melirik ragu Acasha. Penampilan Yasa kini lebih baik daripada sebelumnya.


Mengapa Yasa mudah sekali salah paham


mau tak mau Acasha memaklumi karena Yasa benar-benar definisi anak kecil sesungguhnya. Balasan berupa gelengan, Acasha lalu meraih satu buku dongeng Yasa.


"Aku pengen baca buku kamu, boleh?" tanya Acasha.


"Boleh, itu hadiah dari Ayah kamu." Yasa memberitahu, suasana hati Yasa yang mendung sekejap menghilang menyadari Acasha membuka halaman buku dongengnya. "Aku bisa baca. Mau aku bacain."


Pandangan Acasha sekilas menjadi datar sedangkan dalam hati memuji kepintaran Yasa. Cleo bilang, Yasa anak laki-laki berprestasi yang sudah menunjukkan kelebihan otaknya.


Bibit unggul, mampu menarik perhatian salah seorang guru TK Cipta Jingga hingga guru tersebut suka rela menyisihkan sebagian gaji agar Yasa bersekolah di tempat elit.


"Wah, hebat." Acasha bertepuk tangan. "Judul buku dongengnya apa? Aku gak tau." Pura-pura lugu, telunjuk kecil Acasha mengarah ke halaman pertama yang paling atas.


Sepasang bola mata bulat sekelam malam tersebut mengikuti arahan Acasha, bibirnya bergerak tanpa suara tampak mengeja.


"Malaikat dan anjing kecil." Yasa tersenyum bangga. "Kamu mirip sama malaikat di buku ini." Yasa menoleh dan Acasha dapat menemukan binaran keseriusan di sana.


"Kalau aku malaikat, terus kamu apa?" Acasha mencolek gemas pipi Yasa.


"Aku anjing yang selalu mengikuti malaikat." Yasa bergumam riang tepat seorang guru berambut sebahu memasuki kelas dengan bernyanyi sementara Acasha terkejut dibuatnya.


*******


"Si dugong yang busuk. Sialan!" Silver berseru jengkel usai keluar dari kamar mandi. Mengibaskan rambut basahnya secara asal, Silver mendudukkan diri ke samping Cleo kemudian.


Kelima keturunan berdarah biru itu sedang berada di ruangan pribadi, Silver. Di rancang khusus untuk anak pemilik sekolah Jingga, di gedung tengah, lantai teratas.


"Kebiasaan buruk lo, lupa mandi. Gue harap cepat di hilangin. Itu beneran menjijikkan!" Iyan berkata penuh penekanan, tersirat nada ejekan di sana.


Silver melirik tajam. "Gue tanpa mandi selama seminggu pun tetap tampan nggak kaya lo pasti udah bau sampah," sahutnya sinis.


Belum selesai Iyan menyelesaikan ucapannya, sebelah sepatu lebih dahulu mendarat mulus di kening lyan.


Silver menyeringai tipis. "Ya, setidaknya kemampuan gue masih ada. Melempar benda tepat sasaran."


Iyan seketika mengutuk Silver, berniat menerjang Silver terpaksa urung karena menyadari kehadiran Luka.


"Sore ini kalian bertiga udah tiba di pelabuhan. pusat. Gue kasih waktu selama lima hari." Luka berujar datar sambil memangku laptop.


Luka yang memilih duduk di lantai tentu saja ke empatnya bertindak serupa.


"Iyan, gue mau lo pakai softlens dan gue punya firasat yang Iyan katakan beberapa hari lalu kalau lo, Kal. Punya plan lain. Sama sekali nggak kami ketahui..." Sekali banyak bicara Luka hanya membahas hal berat. Cleo melihat menggeleng heran masih belum terbiasa padahal pertemanan mereka sudah bertahun-tahun lamanya.


Kallen di sisi kiri Cleo gelagapan apalagi Luka seseorang yang sangat sulit di bodohi, tidak seperti orang-orang di luar sana selalu termakan topengnya.


"Ini enggak merusak rencana utama. Plan gue satunya buat gue sendiri. Gue bosan ... mau main-main lagi." Air muka Kallen memelas lengkap tangannya mengantup.


"Dasar gila! Ingat, umur lo." Silver berseru ketus.


"Kayaknya lo butuh kaca soal umur gue udah legal. Hm, sejujurnya gue juga nggak peduli sih." Kallen melempar senyuman menyebalkan pada Silver.


Luka mendongak, menatap lurus Kallen. "Silahkan, lo boleh main sampai bosan," gumam luka penuh arti.


*******


Acasha memeluk kaki Silver sekenanya, saat Silver tiba di ambang pintu besar mansion sedangkan Luka di belakang menyusul.


Ibaratnya Silver bagaikan pemilik rumah sementara Luka asisten Silver lebih banyak bungkam. Luka tak protes, memaklumi saja tabiat Silver yang tidak sadar bahwa dia bertindak kurang ajar.


"Kenapa sepi?" Acasha bertanya polos. Sejujurnya mengetahui alasan formasi mereka tidak lengkap, itu berarti menjalankan misi berbahaya.


"Tiga Ayah lo lagi sibuk menari." Silver melangkah tenang alhasil Acasha terseret karenanya. "Sibuk menari di bawah genangan darah." Tertawa merdu, langkah Silver baru berhenti di ruang tengah.


Acasha sontak mundur menjauh, pelototan Silver makin hari makin menyeramkan. Acasha jadi sedikit merasa takut sekaligus tertantang.


"Ayah, aku cantik, kan?" Acasha memandangi bergantian Silver dan Luka yang menerima gelas di ulurkan pelayan. "Anak-anak itu bilang aku jelek, kurus, dekil." Acasha memasang raut cemberut teramat natural.


"Anak bajingan. Lo tinggal tunjuk siapa orangnya nanti gue janji bakal patahin leher mereka satu-satu," tutur Silver spontan.


Acasha mendelik ngeri. "Ay... ayah, Aca cuma


ma---"


PRANG!


Acasha tersentak, tidak sempat menoleh karena kepalanya mendadak di tekan Silver memaksa untuk menunduk, sebelah tangan Silver menarik tubuh mungil Acasha ke arah Melly.


Untuk pertama kali Acasha melihat di balik bahu Melly yang memeluknya, raut wajah Silver panik walaupun sesaat, karena tahu-tahu Silver telah mencengkeram leher sosok pria paruh baya Acasha kenali sebagai kaki tangan Luka.


"Gimana bisa lo nggak sadar ada busur panah dirumah ini!" Silver berteriak marah.


Acasha menegang jika yang di maksud busur panah plastik di meja maka itu adalah milik Acasha, pemberian Yasa, deklarasi hadiah pertemanan.


"Itu punya ... aku." Acasha berbisik, tatapan lurus pada Luka berlutut di lantai dengan pecahan beling berhamburan.


Dia kesakitan, kelopak mata terpejam dan bibir


pucat pasi.