
Acasha masih memikirkan kejadian tadi pagi nama itu ada kalanya familiar, tapi setiap mencoba mengingat selama apapun hasilnya bukan lah suatu jawaban melainkan Acasha semakin kebingungan.
"Nona."
Acasha mendongak sesuai yang Luka ucapkan akan ada yang datang dan memperkenalkan sebagai pengasuhnya.
"Aku udah kenyang, Kak Melly." Tatapan Acasha berubah horor menghabiskan makanan manis berjejer di meja kaca itu dia lebih dulu menyerah, melihatnya Acasha sudah merasa enek.
Ini terlalu berlebihan, cukup sepotong saja.
"Cukup panggil saya dengan nama tanpa perlu ada kata Kakak, Nona." Wanita muda itu tampak memasang raut panik.
"Oke." Acasha sedikit heran. Jika memang seharusnya begitu, Acasha bisa apa dia terlalu malas bicara. Tubuhnya meminta rebahan di kasur empuk. "Aku mau ke kamar."
Sebelum Melly berniat menggendong, Acasha lebih dulu melompat turun dari sofa secara bersamaan pekikan memenuhi ruangan.
"Nona, jangan melompat seperti itu nanti kaki Nona terluka." Melly berkata cemas setengah membungkuk di hadapan Acasha, memeriksa seluruh badan Acasha dengan teliti.
Acasha tertegun. Jadi, benar-benar diperlakukan Tuan Putri. Acasha tersipu lalu mengusap puncak kepala Melly. "Iya, maaf."
Baru tiga langkah sudut mata Acasha menangkap sesuatu kakinya sontak terhenti, Melly menggandeng si balita was-was mengikuti.
"Ini buku apa?" Acasha meraih buku itu di tangan Melly setelah mengambilkannya di bawah kaki meja tanpa harus Acasha suruh. "Ada foto Ayah." Tidak mungkin Acasha salah mengenali, kelima orang tersebut kali ini berpenampilan rapi.
"Buku edisi terbaru, Nona. Tahun ini posisinya tidak berubah sama sekali seperti tahun sebelumnya." Melly menjelaskan. "Mau saya membacanya untuk Nona?"
"Aca lebih suka buku dongeng ...." Acasha menyahut polos, lebih baik membaca sendiri tapi tak mungkin mengatakan langsung tubuh ini cuma anak jalanan Melly bisa curiga kalau Acasha lancar mengeja huruf. "Melly, aku hanya ingin melihat foto Ayah."
Melly mengangguk patuh, kembali berjalan berdampingan bersama Acasha yang memeluk bukunya erat.
*******
Rageswara. Natapraja. Jenggala. Diarta. Tamara. .......
Acasha bergulungan di kasur baru berhenti setelah kesekian kali mengecek nama itu di lembaran terakhir buku barangkali berubah.
Acasha mengigit jempol perasaan cemas mendadak muncul. "Klan penguasa. Bodoh banget lo, Aca. Mereka kemungkinan sejenis mafia." Seharusnya Acasha sadar itu dari awal mereka teramat berbahaya, bukan bahaya biasa.
Paling membuat Acasha tercengang ialah keluarga Cleo berada di posisi teratas, Cleo Rageswara anak bungsu dari tiga bersaudara. Padahal Cleo orang pertama yang ramah, selalu tersenyum lembut padanya.
"Enggak papa." Acasha mengusap dada yang debarannya bertambah kencang. "Mereka baik, kalau jahat nggak mungkin Silver pungut lo."
Acasha beralih duduk, melihat kaki kurusnya lekat. "Kasian banget, aku selalu berdoa buat kamu, Acasha kecil, semoga kamu tenang di sana.
*******
"Blazer gue hampir ketumpahan jus." Silver menatap sengit punggung yang sudah mengecil tertelan oleh jarak, pelaku yang membuat suasana hatinya buruk pergi usai memohon maaf berkali-kali.
"Ini hari pertama masuk, jangan mengaum dulu. Yaelah, sabar." Iyan tersenyum masam, telinganya panas mendengar omelan Silver. Minuman di mulut Iyan bahkan menyembur saat Silver mengebrak meja, untung saja tidak mengenai Luka yang duduk di seberang.
Silver melotot. Iyan tak peduli justru tertarik dengan Kallen yang heboh di samping Luka seraya menunjuk-nunjuk ponsel.
"Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Ini kepompong lagi makan, mukanya mirip rakun." Kallen bertopang dagu.
Iyan terbahak, tahu-tahu posisinya telah berpindah dempetan pada Kallen begitu pun Cleo kemudian kecuali Silver.
Kamera pengintai terpasang di pojok ruangan rumah Luka terhubung di ponsel Luka, keempatnya mengetahui itu.
"Ngomong-ngomong soal pengasuh dia udah diuji, kan?" Cleo melirik Luka.
"Lo masih belum percaya?" Luka membalas dengan senyuman tipis, nada suara terkesan dingin dalam beberapa detik membawa sudut kantin Jingga High School tegang. "Gue setuju sama pendapat Kallen."
Kallen mengerjap linglung. "Pendapat apa?" Fokus Kallen sepenuhnya kembali terhadap Luka.
"Hati nurani." Luka berbisik, mengamati lekat tiap gerakan Acasha yang memasuki lift bersama Melly.