The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 26 ~ Aku Mau Jadi Bayanganmu



"Dia mulai bisa bohong." Luka bergumam sambil meletakkan ponsel ke saku piyama.


Gelang di berikan Cleo memiliki banyakbfungsi, saat tertentu saja mereka mengaktifkan layaknya sekarang dan yang Luka dengar justru kedua balita tengah saling bercakap ria. Dapat Luka bayangkan bagaimana reaksi ke empat orang lainnya.


"Ada apa?" Gemala yang menemani sang anak di kamar rawat inap, bertanya penasaran. Raut wajah muram Luka, sungguhan mengganggu Gemala. Apa anaknya ini tidak bisa tersenyum bahagia walaupun sekali.


"Jangan membuat kami cemas setengah mati lagi, oke? Jika kamu mau, Mama bisa meminta bawahan Mama untuk mencari Narasea-Narasea itu. kamu tinggal buat sketsanya." Gemala berkata halus, tangan hangat Gemala mengusap lengan pucat Luka.


"Aku nggak tau...." Jawaban yang serupa Gemala dengar selama hampir tujuh tahun ini, tepatnya semenjak Luka mempunyai ketakutan berlebihan melihat istal, busur panah, hingga selalu terkena panic attack. Menyadari iris kelabu tersebut mulai linglung Gemala sontak mendekap Luka.


"Mama tidak memaksa. Jangan mencoba mengingat apapun." Gemala berbisik memohon, seketika menyesal menyebut satu nama yang


bahkan tak ada kejelasan sama sekali.


Luka patuh, membalas pelukan Gemala. Kelopak mata Luka terpejam mencari ketenangan. Narasea? Entah kapan, nama itu berhenti menerornya.


*******


Acasha tidak percaya untuk itu kesekian kalinya memandangi punggung kecil yang berjalan memimpin.


"Yasa, kamu beneran tiap hari lewat jalan ini?" Acasha buru-buru menghalangi langkah Yasa lalu merentangan tangan dengan tatapan serius.


"Iya. Maaf. Tempatnya bau," sahut Yasa pelan sembari menunduk.


Mendapati raut wajah sedih Yasa, Acasha langsung merasa bersalah. Dia agak kaget sekitaran gang setapak menuju rumah Yasa berserakan sampah bungkusan makanan dan minuman, belum lagi kursi beserta meja telah rusak.


Acasha memaklumi, karena rumah Yasa menyatu dengan sekolah yang kata Melly sekolah buangan.


"Gak papa, aku seneng kamu ajakin aku main." Acasha tersenyum lebar, meraih tangan Yasa. "Lebih baik kita gandengan, aku takut jatuh." Sesuai dugaan Acasha, suasana hati Yasa tadinya mendung, detik kemudian tersapu habis.


Kembali berjalan, tapi kali ini berdampingan. Acasha sempat melirik Melly yang mengikuti tampak gelisah, Acasha mencoba mengabaikan. Intinya dia mau bersenang-senang tanpa diganggu seorang pun.


"Aku mau makan gorengan."


"Iya."


"Selain gorengan, apalagi?"


"Banyak."


Acasha terkikik geli. Pantas saja Yasa menyimpan bekal di tas, isi bekalnya pun berubah-ubah menu. Yasa bercerita, orang tuanya pemilik kantin sekolah jadi di pagi buta


sudah memasak.


"Nanti aku bayar, semua masakan Mama kamu


enak." Acasha mengacungkan jempol.


Anak laki-laki itu mendadak cemberut. "Nasi goreng hari ini buatan aku tahu, Aca. Bukan Mama. Aku yang aduk nasinya," tutur Yasa.


Acasha semakin tergelak, tangan Acasha terulur spontan mencubit pipi Yasa gemas. "Kalau begitu buatan kamu enak. Sangat enak! Nanti buatin lagi ya?"


Yasa mengangguk cepat. "Udah sampai, Aca!" ucapnya riang. Yasa hendak membuka pintu belakang rumah mendadak di hentikan Melly.


"Biar saya." Ucapan Melly secara bersamaan menarik Acasha berdiri di dekatnya teramat dekat nyaris saling menempel.


*******


"Nona, sebaiknya kita pulang." Baru sepuluh menit Acasha mengitari kantin terhubung ke rumah Yasa, Melly berbicara hal sama sebanyak tujuh kali.


"Aku belum main sama Yasa, rencananya kami mau bikin istana pasir." Acasha menyahut kalem.


Bagaimana caranya menenangkan Melly lagi pula apa yang harus ditakutkan. Bukannya Melly hebat dalam bertarung bahkan bersenjata, di balik kantong celana longgar Melly pakai Acasha yakin terdapat pistol di sana.


Acasha melotot terkejut. Sebentar, izinkan Acasha berpikir. Melly bilang lima itu berarti formasi lengkap kemungkinan Luka sudah keluar dari rumah sakit.


"Aca!" Yasa berlari menghampiri.


Acasha berusaha tetap tenang, semoga saja kelima orang itu nantinya tidak bertindak macam-macam.


"Ini Aba sama Mama aku." Yasa berdiri di antara kedua orang terlihat masih muda yang mengenakan celemek hijau.


"Dia cantik." Danu berjongkok, sudut bibir melengkung lebar sebelum jemari pria yang Yasa panggil sebagai Aba tersebut menyentuh wajah Acasha, Melly gesit menangkisnya.


"Bersihkan tangan anda dengan baik, saya senang hati memberitahu ... masih ada sisa sambal di kuku anda." Melly mengungkapkan tenang.


Acasha tercengang. Melalui lirikan mata Acasha menangkap ekspresi Mamanya Yasa tersinggung.


"Yasa, bawa teman kamu pergi. Mama sibuk." Telunjuk Zahira mengarah pada Acaha yang sedari tadi bungkam. "Seharusnya kamu jangan mengajak orang asing ke rumah, kamu boleh berteman asalkan dia bisa berguna buat kamu!" lanjut Zahira agak membentak.


Yasa tertunduk, Acasha melihatnya melotot


kesal ke arah Zahira. "Dasar perempuan jahat!" balas Acasha sekenanya.


"Apa?!" Zahira berkacak pinggang.


"Berhenti teriak." Acasha bergerak maju. "Soalnya mulut Tante bau dosa, jadi tutup mulut Tante rapat-rapat!"


Muka Zahira memerah sementara Acasha tersenyum manis, menikmati ketegangan yang terjadi.


*******


Lima belas menit lalu Mamanya Yasa pergi begitu saja, padahal Acasha mengira telinganya Menyentak pelan tangan Yasa. Jika di pikir pikir pun Melly pasti menjaganya jadi mustahil tangan mamanya Yasa menyentuh badan Acasha.


Aku mau jadi bayangan kamu biar kita selalu sama-sama. Lihat, bayangan kamu selalu ikutin kamu, Aca," katanya lirih. di jewer kencang. Jika di pikir-pikir pun Melly pasti menjaganya jadi mustahil tangan Mamanya Yasa menyentuh badan Acasha.


"Mama kamu kayaknya gak suka aku, Yasa." Acasha memecah keheningan, mencomot gorengan dari telapak tangan Yasa yang terbuka lebar. Siapa menduga makin memasuki gang ujungnya berakhir di padang rumput yang luas.


"Mama cuma kaget aku punya teman." Yasa bergumam lugu.


Acasha menoleh terkejut.


"Mama gak percaya. Soalnya kamu teman pertama aku ... selama ini orang-orang di sekolah jauhin aku."


Acasha termenung, entah kenapa dia malah menangkap lain maksud ucapan Mamanya Yasa. Berguna? Acasha tentu saja berguna, di kemudian hari Acasha berjanji akan membuat Mamanya Yasa memuji dia hingga moncong wanita itu kelelahan sendiri.


"Nona."


"Ya?"


Acasha melirik malas, nyatanya Melly berbohong tentang kelima Ayah gadungannya tersebut yang datang menjemput.


"Kita harus pulang, Nona. Saya takut." Melly berlutut di depan Acasha. "Biar saya gendong, mereka sungguhan mengancam saya." Sepasang mata Melly berkaca-kaca.


Acasha gelagapan, bangkit cepat-cepat dari kursi bambu di dudukinya. Namun, lengan kiri Acasha tiba-tiba di pegangi erat.


"Boleh aku ikut," bisik Yasa.


Acasha menggeleng. "Maaf, gak boleh. Aku gak mau kamu di pukul lagi. Besok kita ketemu di sekolah, khusus besok aku yang bawa bekal," jawabnya lembut.


Yasa terdiam lama dan Acasha tidak punya banyak waktu menunggu respon Yasa. Acasha menyentak pelan tangan Yasa.


"Aku mau jadi bayangan kamu biar kita selalu sama-sama. Lihat, bayangan kamu selalu ikutin kamu, Aca," katanya lirih.