The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 39 ~ Delapan Bintang Keberuntungan



Acasha tengah menikmati potongan buah nanasnya di piring sambil bersandar ditumpukan bantal mencoba untuk tak menoleh di dekat jendela kamar perawatan.


Tidak ada yang berubah meskipun Acasha mengetahui sebagian rahasia di masa lampau, mereka dulu mempunyai kisah berakhir menyedihkan, masing-masing sudah menanggung akibat di masa sekarang.


Acasha mengepalkan tangan, kunyahan tertelan dengan pandangan lurus terhadap Cleo dan Iyan yang duduk di sofa depan ranjang sedangkan sampingnya manusia mempunyai kesabaran setipis tisu.


"Apa?" Silver peka di pelototi menyambut ketus, sama sekali tidak ramah. Padahal kondisi Acasha lemah membutuhkan Silver bersikap jinak sementara waktu.


"Mana Ayah paling tampan?" Mata Acasha menyipit. "Terus si penyihir yang buat aku kaya gini keadaannya gimana? Belum mati, kan?" tanya Acasha serius.


Silver berdecak. "Kallen jadwal pemotretan." Silver bergerak maju lalu kepalanya sedikit menunduk. Acasha mengerti Silver hendak berbisik, buru-buru Acasha melakukan hal sama. "Grace urusan Luka yang sedikit gue tau Luka bawa perempuan sinting itu ke penginapan hutan kota..."


Acasha sontak menunjukkan raut wajah heran. "Ngapain penyihir itu berakhir di penginapan?"


Silver tersenyum licik, matanya berkilat aneh membuat Acasha agak waspada kemudian. Menerka-nerka isi pikiran itu detik ini jauh dari kata normal.


"Mengangkang berlanjut penyatuan sama pria mengidap human immunodeficiency virus."


Acasha mendorong Silver. "Jangan bicara aneh-aneh." Acasha bergidik ngeri. Tiap korban yang ingin Luka enyahkan pasti dibuat mati perlahan secara bersamaan harus frustrasi.


"Cepetan sembuh. Gue bosan!" ucap Silver penuh penekanan.


"Seorang pun nggak nyuruh Ayah tinggal." Acasha mengibaskan tangan. "Silahkan pergi. Aku hanya butuh orang-orang waras." Detik ketiga Acasha tertawa renyah dalam batin mengutuk mulutnya asal ceplos.


Silver merebut piring Acasha pegang, meletakkan jauh dari jangkauan tanpa peduli protesan seketika memenuhi rungu.


"Apaan, nih?" Tahu-tahu Iyan sudah berdiri disisi Silver menghentikan gerakan Acasha yang berniat menarik rambut gondrong Silver. Bisa tidak Silver ini tidak membuatnya emosi.


Perasaan kesal Acasha langsung sirna berubah menjadi panik tepat saat Iyan mengambil sesuatu yang terjatuh di ranjang setelah Acasha tanpa sadar menendangnya.


Kertas terlipat kecil kondisinya sungguh lusuh kini berada di tangan Iyan.


Pemberian Hazel.


"JANGAN DIBUKA!" Acasha memekik nyaring beruntung nada suara seraknya telah menghilang.


Empat orang di ruangan tersebut kompak terkejut. Cleo tadinya tertidur di sofa terbangun, bahkan Luka yang bertopang dagu di meja berhadapan dengan jendela sambil menikmati rekaman tangisan dan rintihan Grace lewat ponsel menoleh ke belakang.


Iyan justru menerbitkan senyuman, dimata Acasha sangat menyebalkan.


"Emang isinya apa? Kan, bikin gue penasaran." Iyan mengerling jahil.


Sebelah tangan Acasha di balik selimut meremas piyamanya walaupun Hazel tidak memperingati apapun soal kertas itu, tetap saja Acasha ingin mengetahuinya sendirian.


Tentang nama siapa saja yang disebut delapan bintang keberuntungan.


Namun, pria tidak mengenakan kacamata tersebut bergeming, mengantarkan Acasha di landa gemas. Belum lagi jantungnya dag-dig-dug.


"Pasti surat cinta, kan?" celetuk Silver tanpa Acasha duga. Acasha menghela napas lalu bergantian menatap datar dua Ayah gadungannya.


"Aku lelah." Acasha berkata lesu. "Rasanya pengen tidur lagi, dua atau tiga jam. Tapi kayaknya nggak bisa tenang kalau kertas punya Aca di pegang Ayah."


Silver berbalik sekaligus bersama bangku didudukinya, entah sengaja atau tidak kaki kursi itu bergesekan dengan lantai hingga menimbulkan bunyi yang sama sekali tak enak didengar.


"Sini, kertasnya. Kita lihat sama-sama!" Silver memerintah tegas. "Firasat gue memberitahu ... tulisan di kertas itu isinya mengejutkan," lanjut Silver asal.


Acasha tidak akan membiarkan maka satu-satunya cara ialah Acasha wajib bertindak.


Sekali melompat, Acasha berhasil memijakkan kaki ke lantai. Kelakuan Acasha tiba-tiba itu kembali mengejutkan yang lain, termasuk sosok anak laki-laki berseragam sekolah baru membuka pintu kamar setengah, menahan napas sejenak.


Silver menangkap cepat tiang infus nyaris jatuh, Iyan berkedip saat perutnya di tonjok sebal oleh Acasha.


"Ini bukan surat cinta. Astaga, aku toh masih bocah menggemaskan nggak pernah memikirkan sampai ke sana!" tutur Acasha tegas sembari merebut kertas di telapak tangan Iyan.


Acasha meringis pelan, tidak mampu lagi menahan nyut-nyutan di bagian perut semuanya gara-gara Iyan, mau tak mau Acasha harus nekat.


Bekas injakan Grace benar-benar tidak main-main, menimbulkan lebam mengerikan di kulit perut.


"Acasha ...." Panggilan lembut teramat di kenali, menyusul pintu kamar perawatan semakin terbuka lebar. "Boleh aku masuk? Aku ke sini sama pengasuh kamu yang katanya mau ke toilet sebentar terus aku minta izin duluan," jelas Yasa.


Cleo spontan beranjak. "Boleh, satu orang pun nggak akan bisa ganggu lo kalau gue ada." Cleo tersenyum ramah, diam-diam sudut mata melirik Silver di balas Silver ekspresi muram.


"Aca, maafin Ayah!" Iyan berjongkok dramatis. "Soalnya udah sempat gue baca. Maaf ya?" Iyan berujar hati-hati memahami tatapan Acasha tampak menyeramkan.


Pada akhirnya Acasha membuang muka, kembali menuju brankar di bantu Silver yang bungkam untuk kali ini.


Acasha melirik pada Yasa, refleks tersenyum tipis saat bola mata bulat itu juga tertuju ke arahnya. Jika ada Cleo, sudah pasti Yasa akan menempeli Cleo dan itu menjadi hal biasa.


"Buka kertasnya." Silver bergumam datar.


Acasha menggangguk. Harapan membaca sendirian lenyap, lipatan kertas tidak lagi serapi yang Hazel berikan.


Narasea, Silver, Cleoandra, Lukara, Kallen, Ariyan, Kalana, Hazel.


*******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕