The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 51 ~ Kelalaian Membawa Petaka



"Dia, kenapa?" Silver tercekat, menyadari bagaimana muramnya raut wajah Acasha yang barusan melewatinya.


"Entah." Iyan menyahut sekenanya lalu menyusul Acasha meninggalkan Silver yang mematung. Diam-diam Silver memikirkan kesalahan apa yang dia perbuat sebelum Acasha pergi dari taman hotel.


Tidak butuh waktu lama Iyan menyusul cewek remaja tersebut. Tepat Iyan melangkah di belakang Acasha. Iyan menangkap ada yang janggal.


"Kaki lo sakit. Jangan dipaksa jalan." Pria berkacamata bening itu buru-buru menahan, berdiri di samping.


Acasha mengerjap, menatap Iyan memeriksa kaki kirinya. Baru Acasha sadari, dekat jempol kaki terdapat biru-kehitaman di sana.


"Lo habis nabrak apa?"


"Nggak tau, Ayah."


"Sakit?"


"Bukan apa-apa. Hidung aku pernah bengkak habis di tonjok sama tulang rusuk patah di banting keras, cuma karena hilang fokus."


Iyan meringis, Acasha pasti menyindirnya. Lagian saat itu mereka melakukan sparing.


Belum sempat lyan membela diri badannya lebih dulu di dorong. Nyaris jatuh, begitu pula Acasha terhuyung sesaat.


"Lo ceroboh banget, sih!" Omelan memenuhi rungu. Silver menggantikan tempat Iyan.


Acasha berdecak, spontan menepis tangan Silver yang berada di bahunya.


Iyan terperangah sama halnya Silver yang mendapat penolakan. Penolakan itu agak kasar, Silver sejenak memandangi telapak tangannya.


"Aku nggak mood, adu mulut." Acasha menegakkan tubuh, pandangan lurus ke jalan. Sebentar lagi mereka lalui.


Silver teramat keras kepala beralih memegangi lengan Acasha. Menghentikan gerakan Acasha yang bersiap-siap mengambil langkah.


"Lo ngambek?" tanya Silver, menyipitkan mata.


Acasha menggeleng.


"Terus?" Silver menempelkan tangan Acasha di bahunya meskipun mendapatkan penolakan kembali, Silver tetap memaksa.


Iyan bersedekap menonton, pura-pura tidak mengerti isyarat Acasha yang meminta pertolongan.


"Jangan lebay, aku bisa jalan sendiri." Acasha berujar datar.


"Kalau gue nggak mau gimana?" Silver tersenyum menyebalkan semakin merapatkan diri disusul Iyan tertawa geli.


Suasana hati Acasha sedang buruk-buruknya maka detik ketiga Acasha mendorong Silver sekuat tenaga.


"Segalanya udah terencana dari dulu. Ternyata bukan kebetulan." Acasha bergumam sendu.


Air mata Acasha tahan-tahan akhirnya jatuh membasahi pipi.


"Acasha...." Iyan kesulitan melanjutkan ucapan kemudian. Panik sekaligus heran, apalagi mendapati Silver yang hanya berdiri kaku.


Iyan mendekat hendak menenangkan, tetapi ujung kaos olahraganya tahu-tahu telah di cengkeram Silver.


Bahu bergetar. Acasha berjongkok sembari menutup wajah. Acasha bahkan tak tahu apa yang ditangisi Hatinya sangat sakit, itu saja.


*******


Saking lamanya menangis, sekitar mata membengkak. Acasha menelan ludah pahit.


Kesekian kali menarik tisu, menekan-nekan bawah mata supaya mengurangi walaupun Acasha di tampar fakta bahwa tindakannya sia-sia.


Di dalam mobil keheningan terjadi. Satu orang pun belum ada tanda-tanda membuka pintu. Padahal di luar sana, pelataran mansion tiga orang menunggu. Memandangi ke arah mobil.


Acasha jadi takut, nantinya mereka kompak meminta penjelasan.


"Ayah!" Acasha memangil parau. Suara Acasha hampir gagal di dengar.


Menggigit sudut bibir, dengan ragu Acasha melirik Silver di kursi sebelahnya. Silver menyembunyikan muka di lipatan tangan, menempel di kemudi mobil. Badan besar Silver setengah membungkuk, Acasha mengira Silver ketiduran.


"Iya, Aca." Bukan Silver yang menyahut melainkan Iyan.


Acasha menoleh ke belakang, mengartikan tatapan Iyan di balik kacamata tampak sungguhan lega, bibir Iyan menyunggingkan senyuman lembut. Acasha yakin jika dia meminta sesuatu, detik itu pula Iyan akan berusaha mengabulkannya.


Acasha berdehem.


"Aku lari-larian dua jam yang lalu, terus berakhir di pemukiman. Jangan mencoba cari penyebabnya, Ayah. Aca serius, bilang ke Ayah lain hal yang sama," ujarnya.


Iyan bungkam.


"Aku mohon." Kali ini Acasha memelas sesekali kembali melirik Silver yang masih tak bergerak sekedar bangun. Acasha berharap Silver benar-benar tidak tidur.


Acasha sontak mendekatkan hidung pada ketiak. Kening Acasha berkerut di sertai gelak tawa Iyan.


"Aku emang mau cepat mandi, Ayah, tapi mereka bakal cegat aku apalagi lihat mata aku kaya gini." Acasha beralasan jujur,


"Seandainya ada plastik."


"Buat apa?"


"Nutupin wajah."


"Enggak usah."


Iyan mengacak gemas rambut Acasha. Menurutnya lebih baik melihat Acasha mencak-mencak daripada menangis tersedu-sedu.


"Ck, Ambil, paper bag di bawah kursi tutup kepala lo sama kupluk hoodienya biar nggak ada yang curiga." Silver mendongak cemberut, bertemu pandang dengan Acasha yang beringsut kaget.


"Pas udah mau dekat, pilihannya ada dua. Pertama, lari masuk mansion. Kalau nggak mau, terpaksa pilihan terakhir... gue lempar lo dan semoga aja langsung tiba di kamar." Tidak lama Silver berkata, pukulan mendarat di bahunya.


Silver mengerang lirih. Iyan meniup kepalan tangan sambil menyeringai tipis tak acuh oleh makian Silver untuknya.


Acasha patuh. Di saat mengenakan hoodie yang Silver maksud, Acasha mengintip Silver tengah memalingkan muka. Iris coklat Silver, tertuju ke jendela kaca luar mobil mengamati taman lavender milik Luka.


Sejujurnya Acasha ingin mengucapkan maaf, karena tanpa sengaja dia sudah bersikap kasar.


*******


"Sebenarnya udah lama banget gue nunggu momen kumpul selain di sekolah. Eh, pas taunya di rumah lo, Aca. Gue ngeri." Sashi mendudukkan pantat di sisi sang tuan rumah.


Acasha tersentak, lamunan buyar seketika. Acasha menunduk dengan jemari memijit halus kepalanya malam ini yang terasa pusing.


Sebelumnya pikiran Acasha ke mana-mana. Paling membuat Acasha tertekan dia belum sempat meminta maaf pada Silver.


"Ada masalah?" Yasa berbisik, hanya di dengar oleh Acasha. Yasa sama sekali tidak menoleh justru sibuk mengaduk es buah yang di bawa Janu,


"Sedikit." Acasha menerima gelas plastik Yasa berikan. Yasa terlalu sulit di bohongi, Acasha mengetahui itu. Yasa mampu mengerti gerak-geriknya. "Gak usah kepo, ini rahasia!" sambung Acasha tegas.


"Sip, karena udah megang gelas masing-masing. Seperti biasa, kita bersulang!" Sakti bersama Janu di seberang mengangkat gelas.


Acasha mengikuti begitu pun Sashi dan Yasa.


"Cocoknya bersulang itu minum alkohol bukan es buah," celetuk Acasha.


Ruang tengah mansion Natapraja tiba-tiba senyap.


"Gue bercanda." Acasha terbahak hambar. Mulutnya yang keceplosan baru saja membuka kegiatan kehidupannya sebagai Acasha Siavani.


"Setuju, sih." Dagu Sashi nyaris menempel ke meja yang mereka berlima kelilingi. "Lagian umur kita udah tujuh belas tahun. Termasuk legal, kan?" Siapa yang menyangka Sashi sependapat.


"Si cebol sesat." Janu menanggapi sinis seraya menyentil hidung Sashi.


Ujung-ujungnya Sashi dan Janu saling meledek di tambah Sakti sesekali mengompori. Acasha mendengus, telinganya pengap adu bacot mereka lama-kelamaan nama penghuni hewan rimba di sebut.


Acasha bertopang dagu. Lebih berminat mengamati Yasa yang lagi-lagi tidak pernah lepas dari belajar. Ekspresi Yasa sangat serius membaca deretan kata dengan tambahan ilustrasi di laptop pinjaman Sakti.


"Aku belum sampai bab ini." Acasha menunjuk layar laptop.


"Kelas kita beda, jadi wajar kamu belum," jawab Yasa lembut.


"Aku ingat gimana kesalnya kamu pas tau pertama kalinya kita nggak sekelas." Acasha terkekeh geli kejadian itu beberapa bulan yang lalu.


Yasa merobek habis kertas menempel di mading hingga tak tersisa. Acasha menyaksikan tertegun dan Yasa menjelaskan dengan nada tenangnya bahwa dia tidak sengaja. Tentu, Acasha diam-diam masih kurang percaya.


"Kak Luka mana?" tanyanya.


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan." Acasha manyun. "Kata Melly tadi makan. Seharusnya Ayah lewat sini, nggak mungkin Ayah makan lama, ini udah mau satu jam." Acasha beranjak.


Kegelisahan Acasha gagal tertutupi. Cepat-cepat Acasha berbalik, berlari meninggalkan ruangan.


"Sewaktu-waktu kematian akan mendatangi Lukara. Nyawanya tergantung di kamu ke depannya, kalau kamu ingin dia hidup cara satu-satunya mengakui dan mempercayai kamu adalah Narasea."


Punggung Acasha menggigil mengingat ucapan Dizelia.


Jangan sampai kelalaian pelayan kembali membawa petaka. Sayangnya, firasat Acasha selalu benar.


*******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕