
"Kamu benar-benar sudah gila! Kamu menyakitinya!" Cleoandra berseru murka dengan kedua tangan menahan kepala kuda cokelat yang sedang di tunggangi Lukara.
Kaki Cleoandra gemetar menerima perlawanan pihak lain. Dia terus termundur paksa.
Kudanya merangsek maju. Si pengendali tak peduli, sekali pun sosok yang terbaring beralas jerami terluka di mana-mana.
Narasea tidak mengerti, apa kesalahannya. Mengikuti saja Lukara menuju belakang kastil yang terdapat istal luas. Di tiap kandang terisi kuda besar sekaligus terawat.
"Pergi!"
"Tidak!"
"Kamu menentangku?!"
Cleoandra seketika bungkam. Sorot mata biru tua Lukara bertambah bengis sembari memegangi kekang kudanya erat.
"Mundur, ini perintah. Aku perlu memberikan hukuman padanya karena dia telah merahasiakan hal penting... atau mungkin, kita." Lukara melirik Narasea di balik punggung Cleoandra yang hendak bangun.
Lukara tersenyum memuja. Istrinya memang sungguhan tangguh, disiksa berkali-kali pun mampu bertahan.
Narasea beringsut, telapak tangan lecet sepenuhnya. Bagian bawahan gaun tidur robek, menyisakan kaki telanjang beradu dengan angin malam. Perih. Narasea meringis, melihat lebam dan darah menjadi satu.
"Kamu tau kesalahanmu, Sea?!"
".... "
"Pertama, cincin di jari manis kamu. Kedua, rahasia tentang empat orang di antara kita semua yang ternyata bisa mengakhiri eksistensinya, tanpa harus diberkahi berumur panjang, Kenapa kamu merahasiakannya?!" Lukara membentak, diam-diam mengusap rambut kuda peliharaannya lalu membisikkan sesuatu.
Narasea menahan napas sesaat. Raut wajahnya gagal menutupi kekagetan.
"Aku sangat marah, kamu berhasil merahasiakan itu dari kami. Sejujurnya, Kalana barusan memberitahukan siapa-siapa saja empat orang itu..." Lukara di atas kuda semakin menghapus jarak.
"Tapi, aku lebih suka mendengar langsung dari bibirmu, Sea!" lanjutnya penuh penekanan.
Narasea gemetar. Pandangan Narasea memelas yang mengarah ke Cleoandra, namun di sambut
pria itu pelototan setelahnya membuang muka.
Kepala Narasea pening mendengar rentetan perkataan Lukara yang terus menyudutkan.
"Jawab, Sea!"
"Ak... aku tidak tau."
"Dasar bodoh, kamu masih berkelit!"
Narasea terpejam rapat dengan tangan menangkup memohon, air mata perlahan mengaliri pipi. Kaki kuda di pasang ladam tersebut beralih menginjak pahanya.
"Berbaring dan sebutkan empat orang itu. Sepertinya Cleoandra penasaran." Lukara berujar dingin. "Kalau kamu tidak menurut, aku pastikan kuda kesayanganku ini menimpa tubuhmu."
Narasea terisak. Mau tidak mau harus mengatakan, entah apa tujuan Kalana mengungkapkan rahasia itu, padahal puluhan tahun lalu mereka berempat sepakat menyimpannya.
Narasea memandangi lurus Lukara. "Kami dapat mengakhiri hidup kami sendiri, jika memang kami menginginkannya." Narasea menyahut serak. "Aku, Kalana, Kallen, lalu Hazel."
Cleoandra yang menangkap jelas nama kembarannya terucap refleks mendongak kaget. Buku jarinya mengepal kemudian, menyadari selama ini Hazel tidak mengatakan apapun.
"Apalagi yang kamu rahasia, kan?" Lukara bertanya sinis, turun dari kuda dengan sebelah tangan memegangi kotak persegi ditutupi sapu
tangan.
Narasea menggeleng.
"Jangan berbohong!"
"Aku berkata juju."
Lukara berjongkok di sisi Narasea, mengamati lekat muka Narasea. Satu tangannya terulur memaksa perempuan bersurai coklat itu mengangkat kepala, mengarah ke satu titik.
"Aku yakin kamu mengenal benda ini, kalau tidak salah aku mendapatkan di laci kamarmu. Di dalamnya ada kalung tali dan guci berbentuk mungil," bisik Lukara, mengedipkan matanya.
Narasea memucat
Berusaha merebut benda di tangan Lukara, namun dengan cepat Lukara menangkis tangan kanan Narasea.
"Aku akan membakarnya." Lukara bangkit, menoleh ke tumpukan jerami menggunung di tengah halaman kandang kuda.
Punggung Narasea menggigil, jantungnya bertalu-talu, Buru-buru Narasea memeluk kaki Lukara kencang.
Lukara menyeringai licik. "Yang mana lebih penting? Kalung atau abu orang tuamu, Sea. Aku paham, di kita berdelapan cuma kamu yang pernah merasakan sedikit kasih sayang orang tua."
Narasea tidak mampu mencegah, karena tahu-tahu kotak kayu itu di detik ketiga sudah di lempar tinggi, hingga berakhir memasuki celah tumpukan jerami. Narasea terbelalak, terhuyung berdiri.
Cleoandra menyaksikan tak bisa berbuat banyak, berdiri diam. Indra pendengarnya mencoba tuli, mengabaikan tangisan kesakitan Narasea.
Sekali jentikan jari Lukara, api melahap jerami. Kepulan asap hitam seolah menyatu bersamalangit malam.
Hanya saja, segalanya tak berlangsung lama. Kehadiran seseorang di samping Lukara muncul mendadak lebih dulu memadamkan apinya cepat.
"Kurang ajar! Apa yang kamu lakukan?!" Lukara mendelik marah.
Kallen melirik tak minat. "Kamu melanggar perjanjian yang kita sepakati. Kamu menyakiti Kalana." Bola air Kallen buat berasal dari energinya yang berwarna biru samar secara perlahan membesar lalu meledak.
Kali ini membasahi seluruh istal, menyisakan jejak hitam bekas pembakaran.
Sementara Lukara memaki, Kallen nampak acuh tak acuh berbalik. Melangkah pergi, di susul Cleoandra meskipun begitu keduanya sempat menatap Narasea yang berjalan tertatih-tatih ke tumpukan jerami.
*******
"Sebenarnya aku ingin menakuti Lukara dengan mengatakan rahasia kita." Perempuan di balik sel penjara mengungkapkan lirih, di antara celah sel kedua tangannya memegangi hati-hati lengan sang lawan bicara. "Aku tidak menduga semuanya akan seperti ini, maafkan aku, Sea. Maaf..." Bahunya bergetar mengetahui keadaan Narasea jauh dari kata baik.
Kalana meminta maaf sungguh-sungguh, dahinya nyaris mencium lantai batu sebelum terjadi Narasea lebih dulu menghentikan.
"Tidak apa-apa." Narasea tersenyum menenangkan, kelopak matanya agak sayu. Wajahnya pun bersih oleh darah, tapi tangan kiri Narasea jika di tatap lekat terlihat bengkok.
Kalana menemukan itu, menahan kuat-kuat air matanya tidak jatuh.
"Kamu ke sini ... Lukara sama sekali tidak tau, kan?" Kalana bergumam gagap. Hati Kalana kembali sakit menangkap lebam mengerikan di paha Narasea.
"Dia di depan pintu masuk penjara. Menungguku." Narasea tidak terbiasa reaksi Kalana yang badannya menegang kemudian.
Ternyata semuanya tidak lagi sama. Narasea menelan ludah pahit.
"Aku ingin memberikan sesuatu." Narasea memasukkan tangan ke saku gaun yang menyamping. "Boleh aku minta kamu menunduk?" tanyanya.
"Baik." Kalana patuh, melirik tangan Narasea yang berada di puncak kepalanya dalam beberapa detik.
"Mahkota ini aku buat dari tanganku sendiri dan akan selalu berada di puncak kepalamu," ucapnya berbisik.
Kening Kalana berkerut. Jari-jari menyentuh benda berbentuk bundar menghiasi rambutnya, tanpa sengaja Kalana memegangi kelopak bunga yang juga tersemat di mahkota itu.
"Untukku, Sea?" Nada suara Kalana tidak yakin.
Narasea mengangguk. "Tentu saja, kamu tau jika mahkotanya jatuh berarti itu menandakan aku telah tiada."
Kalana sontak cemberut. "Aku tidak suka kamu berbicara hal menakutkan." Kalana terdiam, keduanya saling pandang cukup lama.
Bola mata perempuan bersurai perak tersebut berkaca-kaca. "Narasea, jika aku bisa kembali ke masa lalu lebih baik aku terlahir buta daripada melihat kehancuran yang sekarang kita alami ...."
*******
Silver menyadari ada yang salah dengan berbulan-bulan tersesat di hutan, menemukan pohon dan pijakan tanah yang sama sewaktu-waktu. Jika di hitung, kemungkinan ratusan kali berkeliling di tempat serupa.
Jika orang-orang biasa lebih dulu mati kedinginan. Energi terkesan familiar, semacam energi kuat sekaligus barier yang memaksa agar mereka tetap diam di satu tempat.
Jadi, kala berhasil keluar hutan hal pertama di pikiran Silver adalah kastil dan Narasea.
Derap langkah kaki pria bermantel tebal itu memecah kesenyapan di lorong kastil menjelang lewat tengah malam. Dua orang di belakangnya mengikuti dengan air muka kurang baik.
"Silver." Ariyan berhasil menyusul, pundaknya hampir membentur dinding pembatas tangga. "Mereka semua sudah tidur, tidak ada yang aneh."
"Entah kenapa aku merasa kamu menghalangiku?" Silver menoleh, tatapannya amat datar. "Cuma orang bodoh yang tidak peka keganjilan di sini bahkan saat kita masih berada di hutan."
Ariyan bungkam.
Pada akhirnya Ariyan mengalah. Hazel sendiri memutuskan berbelok menuju kamar kembarannya.
Tidak butuh waktu lama bagi Silver tiba di lorong lantai atas kastil, di tiap sisi lorong penerangan batu alam berwarna ungu pucat, aroma sejuk seketika memenuhi hidungnya menginjakkan kaki di hadapan pintu yang terukir pahatan sulur tanaman abstrak.
"Sea." Silver memanggil halus, mendorong pintunya sepelan mungkin.
Namun, di celah pintu yang baru sedikit terbuka Silver tertegun lama.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕