
Saat kilas balik itu di perlihatkan tanpa jeda dan kini telah usai, tidak ada yang belum bereaksi. Keduanya dalam keheningan, duduk bersebelahan di atas batu karang dengan pikiran masing-masing.
Jawabannya masih sama, Acasha tidak mengingat apapun, namun entah kenapa emosi yang menyelimuti sosok Narasea itu, Acasha mampu merasakan: kekecewaan sekaligus kemarahan.
Kutukan yang terucap sungguh-sungguh terselip kesedihan. Seharusnya tidak perlu menangis. Jika memang pantas.
"Kilas balik tentang mereka dan kamu, Sea. yang aku miliki sebatas kamu mengucapkan kutukan pada kami." Hazel menoleh.
"Aku tidak menyangka, kilas baliknya berlanjut ke Silver yang bersumpah di masa itu. Silver tidak memberitahukan apapun tentang sumpahnya," lanjut Hazel dengan raut wajah terkejut.
Acasha menelan ludah. punggung menggigil seketika. Fakta semua cerita masa lalu membuat Acasha agak kesulitan mencerna.
"Narasea." Hazel memanggil cemas menyadari tubuh sang lawan bicara gemetaran.
Acasha mengusap lengan yang berkeringat dingin. "Rupa yang aku lihat tadi, itu kehidupanku sebagai Acasha Siavani."
"Aku tau." Hazel meraih tangan Acasha hati-hati, warna mata nyaris mirip tersebut saling bertemu. "Kasus kamu berbeda. Kamu bereinkarnasi di dimensi lain, tapi kamu yang tewas karena tertimbun tanah longsor pada akhirnya jiwa kamu tetap memutuskan mengikuti mereka."
Acasha terperangah.
"Keputusan kamu membawa jiwa kamu, Sea. Memasuki tubuh seorang balita yang sudah meninggal di hari yang sama."
Acasha menyambut genggaman jemari pucat Hazel, awalnya Acasha mengira tidak dapat menyentuh Hazel mengingat wujud Hazel semakin transparan.
Ternyata bisa. Kelegaan bersarang di hati Acasha kemudian.
"Lukara." Acasha menyahut lirih. "Apa dia benar-benar menderita di reinkarnasi pertama hingga selanjutnya. Di sisa dua belas kehidupan, Hazel?"
"Bukan cuma Lukara, aku dan yang lainnya pun menanggung akibat dari perbuatan kami."
"Nggak, Lukara yang paling menderita?"
"Kamu tidak merasa bersalah, kan?"
"..... "
"Dengar baik-baik, Sea. Kita berdelapan pernah sepakat jika ada yang merusak persahabatan suci kita maka hidupnya akan menderita. Lukara pun kala itu setuju, siapa yang menduga puluhan tahun berlalu Lukara melanggarnya."
Acasha bungkam.
Tahu-tahu cermin putih muncul di depan keduanya. Acasha maju, mengikuti gerakan Hazel mendekati cermin di mata Acasha familiar.
"kamu lihat. Rupa kamu sebagai Narasea atau kalau kamu masih ragu, dengan sukarela aku menganggapnya sebagai Acasha Siavani."
Acasha tersindir. Kesannya seolah-olah dia belum terima bahwa punya kehidupan ratusan tahun lalu. Padahal Acasha mulai menyakini.
"Bagaimana persahabatan kita berdelapan dulu, sebelum berantakan?" Acasha bertanya penuh keseriusan mengabaikan respon Hazel yang langsung tersentak.
"Banyak momen hangat terus manis." Dengan tetap bertaut tangan, Hazel menempelkan ke cermin. "Jangan membayangkan persahabatan kita membosankan, menurutku itu kebersamaan terindah yang sangat aku rindukan." Hazel tersenyum tulus.
Acasha membalas gentar tatapan Hazel. "Lalu, soal Silver ... sumpahnya?" Acasha bergumam gagap, demi apapun bagian terakhir kilas balik yang Hazel tunjukkan mengusik benak Acasha.
"Silver?" Hazel mendadak tergelak yang bikin Acasha justru tegang. "Aku mulai paham, alasan Silver mengucapkan sumpah, sebenarnya ini sekedar perkiraanku."
"Maksud kamu?"
"Kamu bisa bereinkarnasi karena campur tangan Silver juga, Sea."
"Di satu sisi Silver agak bodoh dengan sumpahnya, tetapi di sisi lain dia percaya kamu pasti mengikuti jiwanya, meskipun begitu aku belum tahu untuk hukuman sisa dua belas kehidupan."
Acasha memahami seksama, selama bersama Hazel baginya tidak keberatan mengikuti gaya bicara Hazel atau Acasha yang lebih banyak menjadi pendengar.
"Di reinkarnasi pertama ini, Silver berhasil menemukanmu, Sea."
"Jadi, menurut kamu ... Silver sengaja bersumpah karena dia ingin aku ikut terlahir kembali?"
Hazel mengangguk. "Tepat sekali. Satu lagi. jangan pernah merasa bersalah. Perasaan Lukara itu kesalahan dan tindakannya terlalu kejam, sudah sepantasnya membayar apa yang dia perbuat. Kematian kamu, Sea, menyisakan kami yang berpisah jalan." Hazel memandangi lurus cermin di hadapannya, arti mata Hazel seakan tengah menerawang ke masa lalu.
"Aku yang perang dingin dengan saudaraku
kembali seperti semula, kami membaik lalu memilih meninggalkan kastil, meninggalkan segalanya."
"Silver beda." Acasha berbisik, menyaksikan Silver yang ratusan tahun lalu sekali lihat Acasha menyadari kepribadiannya lembut. Teramat jauh yang Acasha kenal selama bertahun-tahun ini.
Hazel tidak mengatakan apapun. Keterdiaman Hazel adalah jawaban itu benar adanya.
*******
Acasha mengamati jari-jari kakinya yang kotor oleh pasir putih. Dejavu, jika pertama kali memijakkan kaki di tempat ini Acasha merasa asing, sekarang menghilang. Lubuk hatinya seakan meminta mengenang sesuatu, Acasha yakini termasuk bagian masa lampau.
Rahasia-rahasia itu telah terbongkar, bisa jadi belum semuanya.
"Narasea." Hazel menghentikan langkah, posisi di pinggiran pantai seketika ombak membasahi kaki.
Hazel tertawa geli mendapati perempuan di sampingnya yang panik mengangkat gaun. Hazel lalu menghapus jarak, setengah membungkuk dengan kedua tangan terulur meraih gaun melekat di postur ramping Acasha, menggulungnya ke atas hingga sebatas lutut lalu dia mengikat simpul di ujungnya.
"Aku gampang baper loh." Acasha menyengir tengil.
Hazel tersenyum. "Aku tidak keberatan kamu .... hm, apa tadi?" Kening Hazel berkerut. "Baper!" lanjutnya.
Acasha tersedak. "Ngomong-ngomong kapan aku pulang?" Acasha buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Kamu bilang aku harus menyelamatkan Lukara, caranya?"
Hazel menghela napas. "Mungkin dengan cara memaafkan penderitaan Lukara terhapus seiring waktu. Sejujurnya, aku belum yakin." Nada suara Hazel terdengar serius. "Memaafkan dari hati itu sulit, Sea. Bagaimana perasaan kamu setelah melihat cuplikan-cuplikan tadi?" tanyanya.
Acasha hendak membuka mulut, namun kepalanya yang mendadak di rambat nyeri tak terkira mengantarkan Acasha justru merintih.
"Sea." Hazel menangkap cepat badan Acasha yang limbung. "Ada apa? Kenapa kamu kesakitan?" Hazel di landa khawatir setengah mati kemudian.
Kekhawatiran itu tidak sampai satu menit, sebab Hazel yang menyibak rambut cokelat terang Acasha di buat termundur syok setelah mengetahui mata biru laut tersebut bersinar samar.
"Lama tidak bertemu, Hazel." Dia mendongak, bibirnya terhias senyuman miring. "Di zaman sekarang orang-orang menyebut kepribadian ganda, tapi aku tidak. Ini adalah pertemuan pertama dan terakhir, giliranku yang akan menjawab pertanyaanmu."
Hazel mengerjap linglung, baru Hazel sadari seharusnya saat mereka berdua sudah berpindah dimensi, maka aksesoris yang melekat pada Acasha akan menghilang, tetapi terdapat benda melingkar tertinggal di pergelangan tangan Acasha yang kini tengah mengeluarkan pendar cahaya.
"Narasea." Hazel memanggil ragu.
"Iya, ini aku." Narasea menjulurkan tangan. "Terima kasih menjadi penentu jalan, Hazel. Berkat kamu, reinkarnasi aku yang sekarang akhirnya mempercayai bahwa dia punya cerita di masa lalu dan aku bisa berdiri di depanmu yang berarti aku harus segera mengambil keputusan tentang Lukara ...."
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕