The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 64 ~ Keputusan



Hazel hilang kata, gilirannya dibuat terkejut. Keduanya kini kembali berada di tempat semula, atas batu karang.


Hazel berdiri berjarak tiga langkah di belakang sosok perempuan bersamanya, memandangi punggung itu yang terus diam, namun Hazel yakin tatapan Narasea jelas tertuju pada cermin di depan. Sesekali Hazel melirik benda melingkar di pergelangan Narasea mengeluarkan pendar cahaya.


"Sea." Pada akhirnya Hazel mendekati, tercekik oleh keheningan yang terjadi. Ada begitu banyak ingin dia tanyakan di sisi lain juga sadar ada batasan tercipta.


Biarkan Narasea mengungkapkan yang dirinya tidak ketahui.


Narasea menoleh secara bersamaan tubuh Hazel gemetar seolah-olah baru saja di guyur air es. Butuh beberapa detik Hazel mendapat kembali ketenangan. Sorot mata Narasea teramat dingin.


"Kenapa?" Raut wajah Narasea terkesan datar.


Hazel tersenyum gentar sudah sepantasnya Narasea bersikap seperti ini.


"Kamu tidak mau menjelaskan sesuatu." Hazel menghadap Narasea. "Atau maksud dari perkataanmu tadi, pertemuan pertama dan terakhir?" lanjutnya.


"Ya, ini pertemuan pertama dan terakhir yang berarti aku harus mengambil keputusan tentang Lukara."


Hazel menghela napas. "Jadi, apa keputusan kamu, Sea? Jika di masa lalu aku tidak di pihak kamu, sekarang bahkan nantinya aku in-


"Jangan menjanjikan apapun!" Narasea menyela cepat hingga Hazel terkatup bungkam. "Aku tidak menyukainya, Hazel. Kita berdelapan pernah berjanji lalu berakhir memilukan."


"Maaf."


"...... "


"Aku sungguhan minta maaf."


Hazel memandangi berani Narasea, mengira reaksi lebih dingin dia dapatkan justru salah, yang bikin Hazel tiga detik kemudian terperangah, Narasea tiba-tiba memeluknya.


"Kamu benar." Narasea berkata. "Sumpah Silver ucapkan, aku ikut terlahir kembali. Padahal itu seharusnya tidak pernah terjadi dan kamu tidak perlu meminta maaf."


Hazel menelan ludah. Bayang-bayang Narasea membenci, cacian nanti Hazel dengar hilang seketika.


"Kamu ... bersandiwara?"


"Kamu takut?"


Dia malah bertanya balik, tawa geli Narasea semakin menghancurkan kecanggungan Hazel rasakan. Senyuman perlahan terbit, Hazel menyambut mendekap Narasea.


"Aku takut. Aku takut kamu membenciku," sahutnya jujur.


Narasea bergerak mundur usai menepuk lembut punggung Hazel.


"Kamu pengecualian." Lekat-lekat Narasea mengamati postur Hazel dari atas sampai bawah. "Sejujurnya, kondisi kamu yang sekarang itu gara-gara aku."


"Apa?!" Hazel mengerjap linglung.


"Wujud kamu di depanku cuma atma tanpa daksa itu gara-gara aku. Aku katakan sebelumnya, kamu penentu jalan untukku. Jika kamu tetap bereinkarnasi bersama mereka, maka harapan memutuskan penderitaan Lukara sudah pasti tidak ada." Narasea menjelaskan terang-terangan.


"Semuanya karena kamu?" Hazel melotot tak percaya.


"Iya." Narasea mengangguk sembari meraih punggung tangan kanan Hazel. "Aku juga minta maat"


Hazel sontak tergelak sementara batinnya diam-diam penasaran. Mengapa kemampuan Narasea detik ini masih berfungsi, seakan memahami arti air muka Hazel tunjukkan, Narasea melanjutkan tenang.


"Kalau kamu mengira aku menggunakan energi memang benar, tapi cuma sisa, Kira-kira seperempat." Narasea mengangkat sedikit tangan memperlihatkan gelang berhias tiga bebatuan mungil tiap bergerak mengeluarkan bunyi gerincing.


"Gelang itu sebagai wadahnya. Kapan?" Hazel bertanya heran.


"Sebelum aku menghabisi diriku, gelang ini aku menyerahkannya pada Dizelia, wanita paruh baya di hidupnya kini di kenal penjual aksesoris sekaligus ahli nujum."


"Aku tak keberatan wujudku jiwa tanpa tubuh asalkan kamu tidak membenciku, Narasea..." ujarnya balas menggengam tangan perempuan bermata biru tersebut.


Hazel termenung, perasaan sendu gagal tertutupi kemudian. "Tentang Lukara, bagaimana? Keadaannya sedang sekarat."


Hazel tersentak.


"Dengar aku." Narasea melirik singkat, mengabaikan reaksi Hazel. Narasea kembali meneruskan. "Di setiap Silver berhasil menemukan, menemui, reinkarnasiku di sisa dua belas kehidupan... detik itu pula penderitaan Lukara terputus."


"Kamu mengikuti kami?" Hazel berusaha suaranya tidak gagap.


"Benar, selayaknya sumpah terucap di bibir Silver, aku memilih penderitaan Lukara juga akan terputus. Semakin cepat Silver menemukan reinkarnasiku, Hazel, di masa mendatang semakin baik. Segalanya tergantung Silver."


"Di masa mendatang yang kamu maksud. Silver menemukan kamu berarti Silver dan Lukara telah lebih dulu saling mengenal?" Hazel perlu memastikan walau dia mengetahui, di kemudian hari pembicaraannya dengan Narasea ini pasti terlupakan.


Narasea lagi-lagi mengiyakan. "Untuk yang lainnya aku belum bisa meraba dan tolong jangan memperlihatkan raut gelisah."


"..... "


"Di kehidupan selanjutnya kamu akan terlahir kembali, Hazel. Aku harap saat pertemuan itu tiba, kita sama-sama dalam situasi baik."


Bola mata berkaca-kaca, kali ini Hazel yang memulai, menarik Narasea ke pelukannya. Merengkuhnya erat.


"Kamu terlalu murah hati." Hazel berbisik.


"Mungkin." Narasea mencengkeram lembut mantel membungkus badan Hazel.


"Aku tidak ingin membicarakan tentang mereka karena bisa saja aku berubah pikiran. Lalu, berhenti memanggilku dengan namaku yang di masa lampau setelah ini...." Tepat ucapan itu jatuh, kelopak matanya perlahan tertutup. Tungkai tersebut tak mampu lagi berdiri.


Mendadak, gelang melingkar pas di pergelangan tangan itu jatuh ke dekat kaki keduanya, hingga dua detik selanjutnya menjadi abu.


*******


Hal pertama Acasha lihat, ialah wajah Hazel yang teramat dekat. Menggeser sedikit kepalanya ke samping Acasha berkedip menyadari bantalan di bawahnya paha Hazel.


"Kamu baik-baik saja?"


Sebagai jawaban Acasha hanya mengangguk, menerima uluran Hazel membantu duduk. Sesaat pening terasa.


"Aku ... kenapa?" Acasha bertanya bingung. Sebentar, Acasha melewatkan sesuatu namun anehnya dia tidak ingat apapun.


Hazel tersenyum tipis. "Urusan kita berdua sudah selesai." Ekspresi Hazel tampak berseri-seri, siapapun bakal menyadari termasuk Acasha yang tertegun.


"Selesai?" Acasha melongo. "Secepat itu? Bukannya aku harus menyelamatkan Ay... maksud aku Lukara."


"Kamu memaafkannya, kan?" Hazel bangkit masih dengan bertaut tangan. Bibir pucat Hazel melukiskan senyuman bertambah lebar mengantarkan Acasha terkenang Cleo, meskipun ada satu perbedaan Cleo tidak pernah tersenyum sampai matanya menyipit.


"...... "


"Tidak usah di jawab karena aku sudah tau jawabannya, Acasha. Kamu pasti memaafkan Lukara atau yang sekarang kamu kenal sebagai Luka."


Acasha menahan napas.


"Aku ingin berbicara banyak padamu, tapi waktu kita terbatas. Aku akan kembali ke tempatku begitu pula kamu."


"Jangan!" Acasha cepat-cepat memegangi Hazel yang hendak mundur menciptakan jarak. "Setelah ini aku harus apa?"


"Tetap jadi diri kamu, Acasha. Kamu memang menyaksikan kilas balik dengan identitas Narasea, tapi kamu tetap tidak mengingatnya bahkan secuil pun. Berarti tidak yang berubah sama sekali."


Bukannya melepaskan pegangan Acasha makin mengeratkan di ujung mantel lengan bawah Hazel.


"Jadi, ini pertemuan terakhir kita?" Pandangan ragu tertuju dalam terhadap Hazel.


"Tidak." Hazel menggeleng, sedikit menunduk sekedar memberikan kecupan singkat di kening Acasha.


*******


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕