
Acasha terkejut setengah mati menyadari pipi Luka basah oleh air mata.
"Ayah!" Acasha memanggil khawatir menyadari gelagat Luka yang tampak linglung kemudian.
Luka mengerang lirih dengan tangan menopang tubuh di ranjang, bibirnya pucat pasi dalam hitungan detik.
Memastikan sesuatu, Luka mendongak. Mengabaikan dadanya yang teramat sesak.
"Si... siapa?" Luka bergumam nyaris tanpa mengeluarkan suara, tangan kanan mencengkeram lengan Acasha.
Acasha mematung. Memahami sorot mata kelabu itu seolah-olah memandangi orang asing, Acasha spontan menunduk sembari meraba ragu wajahnya.
Tidak ada yang berubah sama sekali. Dia masih seorang anak kecil bertubuh pendek.
Acasha gagal menahan saat Luka ambruk ke lantai saking paniknya Acasha melompat melupakan keadaannya sendiri lalu berjongkok di hadapan Luka.
Luka mengerjap-ngerjap.
Perempuan dengan rambut coklat tergerai dan bola mata biru Luka lihat sebelumnya... telah menghilang.
Lagi-lagi terjerat ilusi, telinga seakan di buat tuli Luka menangis dalam diam hingga kegelapan selalu saja menyambut.
*******
Acasha menatap punggung tegap beberapa langkah di depan. Kejadian tadi malam dianggap bukan lah apa-apa.
Tidak perlu di cemaskan secara berlebihan Luka karena sudah biasa.
Lagi pula dua orang berjalan di sisi kanan-kiri Acasha sekarang akan bertindak cepat kalau Luka menunjukkan tanda-tanda tak nyaman.
"Kita mau ke mana?" Acasha menoleh ke arah
Cleo, meskipun keadaan Acasha mulai membaik tapi sesekali dia juga merasakan kepalanya pening apalagi di keramaian kendaraan sempat
mereka lewati. Jalanan pagi ini lumayan macet.
"Bertemu sepupu Silver," sahut Cleo tenang sambil melirik pria kekar di samping kanan Acasha.
"Maksud, Ayah. Si penyihir itu?!" Tanpa sadar Acasha meninggikan nada suara, sekali dengar orang yang bersamanya tahu anak perempuan tersebut berbahagia.
Cleo mengangguk, mengacak gemas rambut Acasha kemudian. Mulai memasuki rumah kayu sederhana, mengikuti Luka.
"Hukuman penyihir itu kira-kira nanti apa, Ayah?" Acasha berbisik penuh kesengajaan merapatkan diri pada Silver yang memasang muka cemberut.
Suasana hati Silver tampak buruk semenjak mobil melintasi hutan kota.
"Apapun hukumannya... di masa depan nanti dia nggak akan pernah muncul di sekitar gue dan kalian." Silver memberitahu ketus secara tiba-tiba merangkul pundak Acasha.
Acasha mendelik. Berusaha menepis telapak tangan Silver. Acasha menyesal sendiri mengajak Silver bicara.
"Setelah nenek lampir itu giliran teman kere lo yang gue kasih hukuman," tutur Silver.
Acasha mengerti cepat refleks menginjak kaki
Silver. Air muka Acasha kesal bukan main.
"Awas aja. Aku bakal marah besar, balas dendam yang sama sekali nggak Ayah duga. Pokoknya jangan sentuh Yasa sedikit pun. Yasa satu-satunya teman aku!" Acasha meremas ujung jaket Silver.
"Makanya cari teman sesama jenis." Silver malah ikut emosi.
"Iya, calon teman aku di masa depan nanti harus mengimbangi kecerewetan Aca."
"Bisa-bisa dunia kiamat kalau beneran ada." Silver berujar asal.
Acasha menghela napas lelah, berjalan lebih dulu menyusul Luka. Langkah kaki Acasha baru berhenti di pintu kayu kokoh bergambar kepala tengkorak.
"Dia makin kesetanan liat lo jadi jangan jauh-jauh." Luka memberikan satu kunci kepada Acasha. "Buka..." titahnya datar.
Acasha menurut. Diam-diam menahan senyum akhirnya Luka mengeluarkan sepatah kata.
Acasha sempat mengira Luka marah kepadanya, namun itu semua langsung di sangkal Cleo. Cleo bilang Luka malu karena menangis di hadapan seorang anak kecil. Hah? Acasha mendengarnya cuma melongo.
*******
Nama yang di sebut kompak menggelap. Acasha menggosok telinganya yang berdengung, di sisi lain dia yakin ini baru permulaan.
"Silver tahi ayam... lepasin aku!"
Acasha tertawa.
"Gembel busuk, semuanya gara-gara kamu. Dasar anak jalanan pembawa musibah! Aku nggak mau mati!" Tatapan kebencian Grace tertuju terang-terangan di belakang Luka.
Acasha terperangah.
"Diam. Lo yang pembawa musibah!" Silver bergerak maju menatap berang perempuan bergaun putih hingga mencapai mata kaki tersebut. "Gue bersumpah lo mati hari ini, Grace!" sambungnya serius.
Cleo tersenyum samar. "Benar-benar nggak bisa selamat." Cleo menggeleng menyayangkan.
Mata Grace memerah, merangkak kesusahan ke ujung ranjang. Kedua tangan Grace berusaha menggapai Silver.
"Aku yakin kamu enggak mungkin bunuh sepupu kamu sendiri, darah aku mengalir klan Jenggala. Kamu pasti tau, kan. Peraturan di keluarga kita." Terselip nada bangga di tiap kata Grace.
Silver mengangguk setuju. "Tapi, beda cerita kalau yang musnahin lo itu Luka dan Cleo." Silver bersedekap.
Grace menegang sambil mencengkeram kuat gaun menutupi seluruh tubuhnya dari tanda-tanda menjijikkan di buat pria busuk itu, entah di mana keberadaannya kini.
Berjanji, jika mereka bertemu dia akan menginjak kepala pria penyakitan itu sampai hancur.
"Jangan berambisi di bayangin udah terasa mustahil." Luka menendang pelan paper bag di lantai dekat kakinya hingga sesuatu tersembunyi di sana terlihat jelas.
Jerigen minyak tanah berukuran sedang.
"Sebenarnya ada tiga pilihan," celetuk Cleo tiba-tiba memecahkan keheningan yang hampir berlangsung lima menit.
Acasha menelan ludah, mengusap tengkuk leher. Dia ingin keluar kamar saja, tetapi masalahnya baru satu langkah Silver yang peka menarik Acasha dan kembali merangkul pundaknya.
*******
Acasha yakin untuk beberapa hari ke depan dia tidak bisa tidur nyenyak. Orang-orang gila ini benar-benar tidak dalam keadaan bercanda.
Membersihkan pipinya terciprat darah, Acasha terus menggerutu. Dia jadi takut dengan masa depannya nanti. Kemungkinan besar tertular berdarah dingin dari mereka semua.
"Biasanya, sih. Mati satu tumbuh seribu," kata Cleo yang sengaja menemani Acasha. Hutan kota ternyata terdapat anak sungai jernih dengan bebatuan, sekarang Acasha jadikan tempat duduk.
Sambil memeluk lutut Acasha menengok, menatap lekat Cleo. "Aca tau, Ayah. Makanya aku harus kuat, kan?" Acasha tersenyum tipis.
"Iya." Cleo mengelusi kening Acasha.
Acasha membiarkan sejenak, terpejam menikmatinya. Kelopak mata Acasha baru terbuka usai mengingat satu nama.
"Ayah percaya nggak sebenarnya Ayah itu punya kembaran. Kalian berdua mirip." Acasha berbisik serius.
"Kalau gue percaya gue dapat apa?" Cleo justru menjawab dengan nada main-main membuat Acasha menahan diri agar tidak kebablasan mengeplak bibir merah muda tersebut.
"Namanya Hazel, mungkin panggilannya Azel. Membedakan kalian warna mata terus rambutnya agak panjang. Hazel cowok ya Ayah." Acasha mengigit jempolnya.
"Tampan, apa orang zaman dulu emang setampan kaya Hazel?" Pikiran Acasha mulai ke mana-mana. "Ayah, kenapa diam?"
Acasha beringsut, memaksa Cleo mengangkat kepala. Pertama kalinya Acasha menemukan ekspresi muram Cleo.
"Perasaan gue mendadak aneh."
Acasha menahan napas.
"Rasanya gue pernah nyebut nama itu ratusan kali."
"Ayah." Acasha memangil parau. "Tadi itu aku cuma bercanda, bukannya di dunia ini kita punya kembaran tujuh." Acasha tertawa kaku.
*******
Ada yang nunggu cerita ini update?
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕