
Lima, enam, tujuh, delapan ... sembilan. Umur Acasha sekarang sudah sembilan tahun, untuk sejenak Acasha masih belum percaya, maka penuh kesadaran dia berlama-lama di kamar mandi. Cuma memeloti pantulan wajah di cermin wastafel.
Mengembungkan pipi, menusuk-nusuknya dengan telunjuk, belum cukup, Acasha
menampar pelan pipinya.
"Tubuh ini memang sembilan tahun, tapi jiwanya udah dewasa." Acasha bergumam tanpa suara. "Acasha Siavani, akhirnya kamu ingat nama lengkap kehidupan pertamamu ...."
Acasha mengacak gemas rambutnya. Mengapa dia baru ingat nama lengkapnya satu tahun terakhir, ini agak aneh.
"Nona!"
Acasha terlonjak, memandangi kaget pintu kamar mandi yang di ketuk cukup keras. Dari suara Acasha mengenali yang selalu Kallen panggil hewan peliharaan. Acasha jarang sekali, mendengar Kallen memanggil Kalana dengan baik.
Tepat membuka pintu, Acasha menemukan Kalana berdiri tegak. Pandangan kosong Kalana tertuju lurus sambil menggengam tongkat putih.
"Saya khawatir," ujarnya lirih.
Acasha seketika merasa bersalah. "Maaf, udah bikin Kak Kala panik." Acasha memeluk lengan Kalana menuntun Kalana menuju meja rias.
Dalam keheningan dan di tinggalkan sendiri meskipun Acasha sebelumya pamit Kalana.akan ketakutan kalau-kalau nantinya salah langkah.
"Kenapa kita berdua duduk?" Kalana yakin anak perempuan di belakangnya baru saja mengeret kursi, "Ayah, Nona. Di lantai bawah menunggu." Kalana tidak bisa beranjak sebab sepasang tangan menahan bahunya kemudian.
Acasha cemberut. "Aku enggak mau ketemu mereka." Acasha menyahut berbisik. "Seharusnya Kak Kala senang enggak harus ketemu Ayah."
Jari-jari Acasha yang tadinya meraba syal melingkari leher Kalana lebih dulu di tepis padahal belum satu menit.
Kalana menegang. "Jangan melakukan itu lagi, Nona!" ucap Kalana sedikit tegas.
Acasha tertawa. "Aku penasaran, kenapa Kak Kala selalu menutup leher." Mendapati Kalana bungkam Acasha ikut mengatupkan bibir.
Acasha sepertinya telah membicarakan hal sensitif, terbukti bola mata Kalana yang berkaca-kaca sekaligus raut wajah Kalana nampak menunjukkan kesakitan amat mendalam, hanya orang-orang gila tidak peduli termasuk Acasha sendiri yang tak mampu berbuat banyak.
Kepala Acasha tertunduk. "Maaf. Setiap bersama Ayah, Kakak pasti sengsara," tutur Acasha.
Kalana tercenung sesaat, secara perlahan tangan Kalana terangkat hingga berakhir menyentuh jemari yang lebih kecil darinya berada di pundak kirinya.
"Saya penasaran bagaimana rupa, Nona Acasha. Kalau di masa depan nanti, saya di berikan kesempatan untuk melihat kembali, saya sangat berharap Nona adalah yang pertama." Kalana mengungkapkan tulus.
*******
Padahal Acasha sudah berjalan mengendap-endap memastikan kehadirannya tidak di sadari seorang pun, nyatanya lagi-lagi gagal. Kali ini manusia paling galak yangmenyadari kedatangan Acasha.
Silver bersedekap arogan di sofa, badan kekar Silver hampir menggencet si pemuda berkacamata di sebelah memangku laptop.
"Sini lo, dugong!" Silver memanggil sambil tersenyum mengejek.
sendiri, mengira Acasha akan menyambut pelukannya.
"Jadi, kenapa para bujangan panas ini berkumpul? Tumben sekali, formasinya lengkap." Acasha bertopang dagu.
Cleo terbatuk-batuk mendengarnya. Menatap Acasha rumit, cara bicara Acasha ada kalanya membawa Cleo tercengang.
"Kepompong, mana hewan peliharaan gue?" Kallen bertanya gelisah berniat bangkit, namun isyarat Luka berikan kemudian mau tidak mau harus Kallen patuhi. Luka memintanya tetap ditempat.
"Tidur, Ayah." Acasha memberitahu kalem dan sesuai perkiraan Acasha, reaksi Kallen yang makin gelisah resah. "Boleh, kan, Ayah. Kak Kala tidur sama aku... khusus malam ini?" lanjutnya memohon.
Kallen bungkam.
"Berhenti masang muka menjijikkan itu!" Silver berseru dongkol disusul sebuah pulpen menghantam jidat Kallen.
Kallen hendak menerjang Silver, sebatas angan. Tahu-tahu rambut Kallen di jambak kuat dari belakang.
Acasha syok melihatnya. Sejak kapan Grace ada di sini? Acasha melirik yang lain pun sama-sama terkejut.
"Kalian berdua banyak bacot!" Grace mendesis geram, mendorong kepala Kallen dengan kurang ajar sampai badan Kallen agak terhuyung. "Silver, pokoknya malam ini kamu pulang! Kalau kamu kepala batu, aku pastikan kamar pribadi kamu hancur lebur!"
Grace mengancam serius. Piyama melekat ditubuh ramping Grace kusut, belum lagi rambutnya yang berantakan. Acasha yakin ada sangkut pautnya Grace dapat memasuki kediaman Luka.
"Tutup mata kamu! Berhenti liatin aku kaya gitu, huh? Astaga, aku masih nggak menyangka. Gembel kalian punggut lima tahun lalu sekarang penampilannya bikin aku sedikit pangling!" Grace mengancungkan jari tengah mengarah pas ke wajah Acasha.
Acasha terdiam. Penghinaan terangan-terangan, hampir tidak pernah Acasha dengar.
"Dasar penyihir sialan." Acasha bergumam lirih, sebelum rencana di otak Acasha kesampaian untuk membalas. Vas bunga di ujung meja mendadak lebih dahulu mendarat tepat di dada Grace. Pelakunya, Luka.
*******
Silver tertawa bahagia, tawa memecah kesenyapan di lantai dua rumahnya apalagi jam telah melewati tengah malam, justru terkesan horor. Iyan berjalan menyusul berdecak sambil membopong seorang wanita.
"Untung aja lo masih napas." Iyan berkata lempeng, kacamata yang melorot pun tidak dibiarkan memperbaiki karena beban di sisinya terpaksa Iyan tanggung.
"Aku akan mati kalau sudah memperkosa Silver hingga pingsan," sahutnya, sukses mengejutkan Iyan.
"Pantas, Silver benci lo setengah mati." Iyan menjauhkan diri gerakan tiba-tiba Iyan berdampak pada Grace yang sontak tertelungkup di lantai dingin. "Kapan lo normalnya? Dasar masokis." Iyan menyembur sinis.
Grace terkekeh geli. "Kamu juga nggak normal, bodoh!" Telunjuk Grace mengetuk kepalanya sendiri.
"Setidaknya gue nggak parah kaya lo." Iyan lalu melengos pergi, usai menyenggol kaki Grace yang di bebat perban. Gara-gara perbuatan Luka kaki Grace terkena pecahan kaca vas bunga.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕