
Acasha menjerit. Jeritannya bikin Kallen yang tadinya agak kesal dan menuntut penjelasan dari Acasha langsung lenyap. Beralih panik, Kallen berjongkok berniat mengusap kaki kiri Acasha.
"Nggak usah!" Acasha bergeser mundur. Gerakan yang tiba-tiba adalah pilihan salah, karena detik berikutnya punggung Acasha kembali dirambat ngilu.
Acasha ikut menyadari Cleo hendak beranjak, menolak mentah-mentah keadaaannya diperiksa.
Luka di samping Acasha diam mengamati.
"Jangan marah." Raut wajah Kallen memelas. Jelas sekali gadis itu merajuk padanya. "Maaf, tadi nggak sengaja. Kalau nggak mau jelasin ke kami pun juga boleh kok."
Kallen Tamara akan sukarela menjadi keset kaki, jika berhadapan dengan Acasha.
"Tetap di tempat." Acasha menoleh, matanya melotot mengancam terhadap Silver. Astaga, rasanya nyut-nyutan dua sekaligus itu sangat lah buruk plus dia benci ruang gerak terbatas.
Silver keras kepala. "Mau ke mana?" Tepat di sisi lain Acasha yang kosong, Silver menyambar cepat lengan Acasha.
"Jangan pegang-pegang!" Gadis berpiyama motif bunga-bunga tersebut menunjukkan ekspresi sebal setengah mati. Seharusnya Silver tahu, bahwa suasana hati Acasha tengah buruk.
Iyan saja kicep, sementara Kallen sudah menunduk gentar oleh tatapan Luka yang semakin dingin, seolah-olah nanti berencana menggebuk perutnya.
"Ingat. Tulang lo cedera, terus kulit kaki lo sobek. Enggak usah sok-sokan bisa jalan sendiri." Silver berujar penuh penekanan membuat Acasha tertohok sesaat.
Bukan Acasha namanya, pasrah menerima kekalahan. Acasha menepis cengkeraman Silver di susul dagu terangkat angkuh.
"Lecet disemua badan udah pernah, jadi menurut aku ini cuma lecet biasa," sahut Acasha datar lalu mengulurkan tangan ke Luka.
"Serahin kruknya." Acasha kira Luka memberikan kemudian, namun Luka justru tetap bergeming.
Kruk Acasha minta di pegang Luka, entah sejak kapan. Luka masih duduk di kursi roda, baru Acasha ketahui Luka koma lebih dari satu bulan dan rekor terlama pria itu hilang kesadaran. Katanya, Luka butuh terapi.
"Ayah, aku minta kruknya."
"...... "
"Di sini dingin. Aku mau masuk."
"....... "
Acasha menyunggingkan senyuman paksa usai menghela napas berat, kepalanya pening seketika oleh tingkah menyebalkan mereka.
"Bodo amat, minggir!" Nada suara Acasha sedikit sewot sambil mengisyaratkan Kallen bergeser, ujung mata Acasha melirik sekilas meja beberapa menit lalu Kallen tendang telah teronggok di lantai.
"Yaudah, barengan. Gue juga mau masuk." Belum sempat lyan menghampiri, penolakan berupa gelengan membuktikan Acasha tak ingin di dekati siapapun.
Acasha menegakkan tubuh, persis seperti orang yang siap berbaris dalam upacara, mengantarkan Cleo diam-diam tertawa lirih.
"Aduh, tolol. Dasar anjing liar sialan!" Acasha memaki padahal baru tiga langkah. "Aku bisa sendiri." Acasha mengangkat sebelah tangan tanpa menengok ke belakang.
Hampir butuh waktu satu menit Acasha tiba di pintu kaca balkon. Menggapainya sebagai penopang.
*******
Siapa yang menyangka, memasuki kamar perawatan setelah menutup balkon dengan tirai, agar jarak pandang mereka di luar sana terbatas memantau, Acasha malah di sambut tiga orang temannya berdiri di tengah ruangan.
Sashi, Janu, dan Sakti.
Acasha kenali semenjak masuk SMA.
Sashi terpana. Pasalnya Acasha mampu berjalan meski dalam kondisi pincang sekaligus menyeret tiang infus beroda.
"Gue kangen banget sama kalian." Acasha menyapa semringah.
"Ngomong-ngomong kalian bawa apa?" Jika sebelumnya Acasha menolak bantuan, kali ini Acasha menerima kalem bantuan Sakti menuntunnya ke karpet berbulu terbentang berdekatan dengan meja makan.
Kamar ini bukan hanya luas melainkan fasilitasnya juga lengkap. Rumah sakit pusat, sang pemilik klan Jenggala memang tidak main-main soal memanjakan pasien.
"Makanan." Sashi menjawab tak kalah semangat. "Gue udah takut lo kenapa-kenapa, pikiran gue langsung negatif lo hilang berminggu-minggu, Aca."
Acasha tersenyum haru. "Tenang, seorang Acasha pasti bisa jaga diri." Acasha menunjuk kakinya yang kembali selonjoran sebelum itu memastikan tidak akan disenggol babak kedua. "Cuma ini, terus rusuk agak cedera."
Janu dan Sakti melongo, sementara Sashi meringis menemukan bercak darah kering disana.
"Salah satu dari kalian nggak mau gitu, buka bungkusan jajanannya? Kayaknya isi yang warna kantong biru enak." Acasha berkata terang-terangan.
"Iya, ini gue buka." Janu menurut, di balas Acasha tawa geli. Dia sungguhan merindukan makanan berbumbu kacang secara kebetulan buah tangan ketiganya ada yang batagor.
"Sekalian disuapin Janu boleh nggak, Ca?" Sakti bercelatuk iseng.
Janu sontak memandangi Sakti tajam. "Lo mau gue pukul bagian mana?" tanyanya sinis. Jika sampai kejadian menyuapi Acasha maka Janu yakin, dirinya bakal di tonjok berjemaah.
"Bercanda." Sakti menyengir tengil sambil membuka kotak coklat di depannya, mendapati potongan kue bulu. "Kita makan rame-rame aja kali, ya? Lagian Acasha sakit, makannya jangan sembarangan."
Sashi mengeplak pundak pemuda jangkung itu. "Ck, pemberian gue bukan buat lo!" Sashi hendak merampas kotak kuenya, namun gerakan Sakti kelewat gesit menyerahkan pada Janu, alhasil kotak kue itu berpindah tangan.
Acasha sudah bersiap menyaksikan adegan bergelut, tetapi terselip hal janggal di hati Acasha kemudian.
Sebentar.
Menyadari ada yang kurang. Teramat biasa orang itu lebih dahulu datang, tanpa Acasha suruh.
Acasha selalu meminta izin kedatangan teman-temannya, setelah memperoleh persetujuan, Acasha menghubungi mereka melalui ponsel.
Yasa berbeda. Kedatangan Yasa identik sekenanya, membuat kelima orang itu yang kini masih berada di balkon, menyimpan kejengkelan. Bahkan Cleo paling dekat dengan Yasa kalanya ikut kesal.
"Yasa mana?" Pertanyaan Acasha berhasil mengantarkan Sashi berhenti menarik kerah jaket Sakti.
Ketiganya serempak menoleh ke arah Acasha
"Oh, Yasa..." Sashi tergagap-gagap spontan Acasha memicing. "Jadi, Yasa sekarang lagi berduka." Gadis bertubuh mungil tersebut meremas jemarinya di atas paha, tatapan tertuju sebentar pada Janu dan Sakti yang menunjukkan gelagat mempersilakan.
Air muka Sashi benar-benar tertekan. Mengapa dia harus kebagian menjelaskan? Mengalihkan pembicaraan pun sekedar sia-sia.
Acasha terperangah.
"Pas kami kumpul bahas tentang hilangnya lo di rumah Yasa, tiba-tiba Bibinya Yasa datang nangis kejer, terus bilang kalau orang tua Yasa kecelakaan, korban tabrak lari. Awalnya gue sama yang lain enggak percaya. Soalnya sebelum mereka pamit, mereka sangat baik-baik aja." Suara Sashi terdengar hati-hati.
"Tante Zahira bahkan sempat muji model rambut blunt bob gue." Mata Sashi memanas lantas mengenangnya.
Situasi berubah hening. Selera makan Acasha hilang digantikan tenggorokannya seperti ada yang menyumbat. Sendok plastik Acasha genggam jatuh mengotori karpet.
*******
"Ayah, bercanda, kan?"
"Kematian mana pantas jadi lelucon."
Cleo membelai surai Acasha, bibir merah muda pria berjas putih itu melukiskan senyum tipis yang berdampak Acasha semakin resah.
"Nggak bisa keluar dari kamar ini walaupun satu langkah," sambung Cleo serius.
Acasha menyikut pelan perut Cleo. "Tapi aku bosan." Acasha berdecak jengkel. Bersedekap. "Ayah ngapain pagi-pagi ke sini? Padahal si paling punya jam terbang." Sorot mata Acasha terkesan dingin menatap lurus ke belakang Cleo.
Kallen memegang dadanya. "Jangan marah lagi." Bertutur lembut, Kallen melangkah mendekati Acasha. "Gue minta maaf, oke?"
Acasha membuang muka. "Aku bakal maafin dengan senang hati, kalau Ayah bantuin aku keluar dari gedung ini. Nggak boleh tanya tujuan aku ke mana," ujarnya.
"Tujuan lo jelas Yasa." Kallen mengusap wajah frustasi. Semalaman Kallen tidak bisa tidur hanya karena terus-terusan mengingat Acasha yang marah padanya, belum lagi rintihan kesakitan Acasha membawa dia tersiksa. "Biarin itu bocah di rumah abu berhari-hari. Semoga jadi fosil..."
Jawaban Kallen bikin Acasha bertambah dongkol. Sepertinya Acasha perlu menangis dulu agar mereka semua luluh.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕