
Acasha gagal menutupi senyum bahagia saat Luka sadar, mata itu tidak lagi terpejam bedanya kali ini tampak sayu. "Ayah...." Acasha duduk di atas brankar dekat kaki Luka.
Sebelumnya Acasha meminta naik dan Luka tak protes Acasha anggap persetujuan di bantu Melly kemauan Acasha terwujud.
"Ayah, Gak boleh tidur lagi. Aca takut, mainan itu punya Aca. Maaf." Acasha berbicara lirih makin bersalah mendapati Luka cuma bungkam.
Luka memang pendiam, namun Luka terbiasa bergerak mengulurkan tangan memainkan rambut Acasha atau setidaknya mengangguk saja setiap mendengar ocehan Acasha.
Dokter pergi bersama perawat sekitar lima belas menit lalu, memberitahu hati-hati tidak ada yang perlu di cemaskan lagi. Acasha dapat menemukan jelas bagaimana mereka gemetaran karena di tatap oleh orang-orang Natapraja tengah berjaga di luar ambang pintu.
"Ayah, memaafkanku, kan?" Acasha beringsut mendekat menggesekkan kepalanya ke lengan
atas Luka.
Luka menunduk, jemari pucat Luka mengusap pipi tembam Acasha membuat kegiatan Acasha terhenti.
"Untuk apa minta maaf? Lo enggak salah.
jangan meminta maaf semudah itu," sahut Luka datar.
"Ayah, kembali!" Acasha memeluk Luka dari samping berusaha menahan air mata. Acasha tidak akan melupakan raut wajah tidak suka Luka mendapati pipinya basah setelah ditampar Grace.
Belum sempat Acasha menjauhkan diri, tahu-tahu pintu kamar Luka di dobrak kasar tanpa di berikan kesempatan menoleh apalagi memahami situasi, badan Acasha mendadak tergencet di tengah-tengah dua orang saling
mendekap.
"Kamu ... bikin Mama... hampir jantungan!" Dia berseru tersedu-sedu, tangan wanita bergaun selutut dengan rambut sebahu sedikit berantakan tersebut, meremas piyama di kenakan sang anak. "Luka, sakit kamu sukses bikin Mama juga enggak tenang sepanjang perjalanan pulang!" lanjutnya.
"Aku baik. Bisa Mama lepas? Ada yang susah napas gara-gara kelakuan Mama ini." Bisikan serius Luka disusul Gemala yang sontak melangkah mundur.
Pandangan Gemala jatuh pada sosok mungil meringkuk di sisi Luka. Gemala tercengang, jadi dikatakan asisten pribadinya sekitar satu bulan lalu itu benar.
"Acasha." Gemala memanggil sambil menyipitkan mata.
Si punya nama menegang, butuh waktu beberapa detik Acasha mantap mendongak.
Siap tidak siap Acasha pasti bertemu orang tua Luka... pemegang nomor dua klan penguasa. Keluarga Natapraja adalah pemegang kuat hak atas penjualan senjata mematikan sekaligus mafia terbesar hingga kini.
"Ya, Nenek?" jawab Acasha lugu.
Jika di lihat lebih teliti usai Acasha berucap ekspresi Luka terkejut meskipun sekilas maka lainnya Gemala membekap mulut dan terbelalak berakhir Acasha yang ngeri.
Sepertinya Acasha sudah melakukan kesalahan. Gemala pasti berteriak murka setelah ini, sebab Acasha kurang ajar menyebut wanita itu dengan nenek padahal Mama Luka nampak masih muda, alih-alih sebagai seseorang mempunyai anak remaja, Gemala lebih pantas berstatus saudara Luka.
"Dia...." Tangan Gemala terulur, meletakkan di puncak kepala Acasha. "Manis." Sudut bibir Gemala terpoles lipstik melengkung tipis.
Segala pemikiran Acasha yang buruk tentang rambutnya di tarik kuat hingga rontok seketika menghilang.
Acasha merona, barusan dirinya di puji oleh wanita hebat. "Nenek juga cantik. Sangat cantik,
mirip dewi!" Acasha balas memuji tulus.
Gemala tergelak. "Nenek ya? Tidak apa-apa, kalau orang lain lancang memanggil saya satu kata itu ... kemungkinan saya akan menggorok lehernya kemudian," ucap Gemala.
Acasha refleks menyentuh lehernya ngeri. Beruntung wajah kekanak-kanakkan Acasha
mampu menipu siapapun jadi tak ada yang
curiga.
menunjukkan kehangatan di sana. Selama apapun Acasha mengamati justru Acasha
merasa rumit.
"Leher lo tetap aman," bisik Luka sembari beralih memangku Acasha. "Papa mana?" Luka melirik samping Gemala berdiri agak aneh menyadari ke-tidak hadiran sosok lain yang biasanya menempeli sang Mama.
"Papamu di sini, Lukara." Kemunculan pria diambang pintu mengantarkan ketiganya menoleh, tiga detik kemudian Luka lebih dulu membuang muka lain halnya Acasha berbinar
takjub. Mengapa rupa orang-orang ini di luar nalar.
*******
"Sebenarnya mereka berjumlah enam belas orang. " Nares mengungkapkan lugas. Anggota hades, paling dekat dengan Kallen selain para inti. Bisa di bilang Nares ialah kaki tangan Kallen. Namun Kallen lebih suka menganggap Nares anjing setianya.
Kallen sedang menikmati pemandangan ombak laut yang tenang sore itu memasang ekspresi terganggu mendengarnya.
"Perempuan itu termuda. Berumur dia belas tahun, mati karena salah satu awak kapal menggunakan narkoba terus overdosis. Dugaan gue gadis itu mati tiga sebelum kita tiba," Sambutan Nares.
"Kasihan, gadis malang itu memang ditakdirkan mati. Kalau pun masih hidup yang ada dia tetap trauma parah lihat didepan matanya sendiri terjadi pembantaian," timpal Kallen.
Nares bergumam setuju lalu menyerahkan satu kaleng bir yang disambut baik Kallen.
"Soal trauma kayaknya pengecualian untuk satu perempuan," Ujar Nares pelan.
Kallen menoleh. "Siapa?!" Kallen tidak bisa mengendalikan intonasi suara secara bersama tatapannya berubah kesal.
Nares mengerjap terkejut tidak menyangka reaksi Kallen sangat berbeda dengan Cleo dan Iyan acuh tak acuh usai Nares menceritakan bahwa salah satu dari lima belas orang itu ada yang cacat.
"Bawa dia ke kamar gue!" titahnya. Kallen mengibaskan tangan lalu melangkah pergi meninggalkan Nares yang mengangguk patuh
*******
"Indah, kan, Ayah?" Dalam gendongan Luka telunjuk mungil Acasha mengarah ke langit biru.
Keduanya sekarang berada di atap rumah sakit, sepuluh menit sebelumnya Acasha melarikan diri dari Silver yang menggiring paksa Acasha ke kamar mayat dan kedatangan Luka berjalan menghampiri menghentikan aksi Silver.
Luka mendudukkan Acasha ke pembatas dinding beton di pojok atap, sekali melompat Luka sudah di sebelah Acasha sementara Acasha syok dibuatnya, mencoba menghentikan debaran jantung yang menggila.
"Ayah, boleh aku tanya sesuatu ke Ayah." Acasha memecah keheningan, sebelah tangan Acasha diam-diam memegangi erat ujung piyama Luka. Jika menit ke depan Acasha jatuh, dipastikan dia tidak akan melihat dunia menakjubkan ini lagi.
Kehidupan kedua Acasha bukan dunia novel melainkan dimensi lain, Acasha menyimpulkannya dunia paralel.
"Iya." Luka merespon singkat.
"Narasea itu siapa? Apa Narasea kekasih Ayah?" tanya Acasha pelan.
"Bukan, gue juga nggak tau dia siapa. Tapi tiap gue kambuh, nama itu pasti selalu gue sebut." Luka memandangi punggung tangan kanannya yang bekas infus.
Acasha tertegun.
Luka tersenyum pahit dengan sorot mata semakin kosong. "Narasea, apa gue punya kesalahan fatal sampai-sampai lo buat gue lari di antara labirin yang sama sekali enggak ada akhirnya."
*******
Tinggal like dan komen. Like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya.😊
Terima Kasih❤❤