The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 71 ~ Kejujuran



Acasha terus-terusan menggedor pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam, sesekali memanggil seseorang di baliknya.


Bertanya-tanya apa yang tengah Silver lakukan, sampai menghabiskan waktu nyaris lima belas menit di sana.


"Ayah!" Acasha berseru dongkol. "Ayah enggak lakuin perbuatan jorok, kan?!" Prasangka Acasha mulai menjerumus liar.


Teriakan balasan terdengar, sama sekali tidak Acasha mengerti lalu pintunya terbuka. Acasha termundur selangkah di susul keningnya tiba-tiba di dorong.


"Pikiran lo emang nggak ada yang beres." Silver berjalan melewati Acasha, mengabaikan gadis itu yang mengomel. "Gue pulang." Meraih kunci mobil di meja, Silver melirik sekilas Acasha.


Tidak membiarkan Silver pergi, Acasha menangkap cepat lengan Silver. Mencengkeramnya agak erat.


"Ayah udah janji nginap di sini. Aku sendirian. Ayah Luka masih di rumah sakit." Acasha berujar penuh penekanan, matanya melotot memperingati bahwa Silver tidak bisa berkilah nantinya.


"Ada lyan." Telunjuk Silver mengarah ke ranjang di mana seorang pria mengenakan kaos oblong menggeliat sambil menendang guling.


"Nggak mau, jangan pulang." Acasha merengek beralih memeluk lengan Silver. "Ngomong-ngomong rambut Ayah kok basah?"


Silver bungkam.


"Bikinin Aca telur ceplok." Tidak menyerah, Acasha berdiri menghadap Silver seraya merentangkan tangan.


"Nanti aku kasih hadiah." Nada suara Acasha kali terdengar serius, membuat Silver awalnya menatap dinding kamar kembali melirik Acasha tertarik.


Hadiah ya?


Silver berdehem.


"Hadiah?" Silver mengangkat dagu."Gue nggak pernah megang alat-alat dapur, hidup gue dari lahir selalu di layani. Lo nggak mau, kan, dapur Luka jadi super berantakan karena gue."


Giliran Acasha yang terdiam.


"Tapi, liat muka lo persis kaya gembel kelaparan dengan terpaksa gue mau. Kalau ada Iyan, kemungkinan dapur Luka bakal baik-baik aja."


Acasha menghentakkan kaki agak sebal. Kurang ajar! Belum sempat Acasha mengeplak mulut Silver supaya berhenti mengatainya, pria itu cepat menghindar.


"Ke dapur duluan sana, suruh pelayan jangan gangguin acara masak kita nanti." Silver memerintah, mengibaskan tangan.


*******


Sekali lagi Iyan menguap, matanya berusaha kuat tidak terpejam mengingat seseorang berdiri di sampingnya sekarang, tidak berpengalaman tentang memasak alhasil dia harus turun tangan.


"Boleh minta semangatnya nggak nih?" Iyan mengerling pada Acasha yang bertopang dagu di meja pantry.


"Kalian berdua mau buat telur ceplok, bukan pergi mencari tujuh telur naga suci." Acasha menyahut malas mengantarkan Iyan sontak cemberut mendengarnya.


Iyan tetap ngotot minta di semangati maka Silver sudah meletakkan teflon di atas kompor yang menyala sesuai arahan Iyan sebelumnya.


Awalnya baik-baik saja, hingga Acasha mendadak menunjuk panik Silver yang sedang menuangkan minyak ke teflon.


"Kebanyakan, Ayah!" Dari tempatnya pun, Acasha mengetahui jika itu sangat berlebihan.


"Buset, itu minyak bukan air. Kita cuma bikin telur ceplok bukan mie." Iyan merampas botol minyak goreng Silver pegang.


Silver tidak terima tentu memaki dan Iyan tersenyum kecut kemudian.


"Biar gue. Lo mah Tuan Muda lebih baik duduk ongkang-ongkang," lyan mendorong tubuh kekar Silver.


"Enggak bisa! Gue sama dugong udah sepakat, dugong bakal kasih gue hadiah." Silver balas mendorong pria berkacamata tersebut.


"Gampang, tinggal ganti teflon baru. Jangan kaya orang susah."


"Aca bisa kena ayan kalau lo yang masak, Silver Jenggala."


Acasha menyaksikan datar keduanya beradu mulut. Seperti biasa, pada akhirnya Iyan mengalah berakhir suasana dapur kembali tenang.


Sesekali Acasha tersenyum geli mendapati tangan Silver gemetaran. Ya, Silver ucapkan tidak bohong, bahwasanya pria itu belum pernah memegang alat-alat dapur dengan di dukung oleh telur ceplok Silver sodorkan luarbbiasa gosong setelahnya.


"Hadiahnya batal."


" Nggak bisa."


Acasha mendelik.


"Aku maunya telur ceplok yang kuningnya setengah matang terus pinggiran telur putihnya warna coklat, pas di kunyah kriuk-kriuk."


"Makan yang ada. Gue udah susah payah buatin."


"Bisa-bisa aku semaput makan telur goreng mirip pantat panci gini."


Iyan tertawa ngakak.


"Sini, Ver. Jangan nyerah."


Cangkang telur mengotori lantai marmer dapur Luka. Acasha inginkan baru terpenuhi setelah menghabiskan enam telur.


"Jangan lupa hadiahnya." Silver meletakkan piring di depan Acasha, telur ceplok yang ketujuh layak masuk ke perut.


"Nanti bakal gue kasih tau hadiah apa yang gue mau." Silver menyeringai licik membuat Acasha bersedekap kesal.


*******


"kenapa para guru itu kurung kamu?"


"Aku lebih suka menyebut mereka iblis."


"Yasa."


"Dulu, mereka enggak Terima salah satu rekannya menyisihkan gaji buat aku sekolah di TK jingga."


"Soal itu, aku tau... namanya Bu Cahya, kan? yang tiap masuk kelas selalu nyanyi."


"Kamu punya ingatan yang bagus."


Achasa memandangi lurus Yasa seakan menerawang jauh, mengingat kembali. Achasa yakini masa kelam meski di seberangnya Yasa kini tampak tak keberatan bercerita.


"Kejadian tiga bulan sebelum kamu masuk TK." Cowok dengan iris legam itu menyunggingkan senyum samar.


"Aku di kurung selama empat hari di gudang. Yang aku tau, setelah aku keluar dari sana, aku masih sempat liat Aja dan mama kurang tidur. Tubuh mereka kurus sampai Bu Cahya nangis berlutut di depan aku saat di rumah sakit."


Achasa meremas rok abu-abunya. Siapapun Achasa harap mendapat karma paling buruk.


"Udah lazim, kan, bayar denda atau pakai latar belakang bukan orang sembarangan yang ujung-ujungnya batal masuk penjara."


Achasa tertegun.


"Itu terjadi sama aku, Aca. aku menahan semuanya bertahun-tahun untuk bersikap normal mereka beneran iblis. Aku baru bertindak tiga tahun belakangan."


"Selama ini kenapa kamu nggak jujur? "


"Maaf."


Achasa tidak mengatakan apapun. Yasa meraih buku di tangan Achasa lalu meletakkan ke meja, sebagian mejanya terdapat bungkusan makanan instan yang telah habis. Yasa mengenggam tangan kanan Achasa erat.


"Mental aku terganggu karena peristiwa itu. Aku harap, kamu nggak pernah takut sama aku," ucapnya pelan


*******


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕