
"Hei, apa ini?" Kallen meletakkan moncong senapan di bawah dagu seorang lelaki muda yang terikat kuat di kursi. "Anak bungsu presiden. Sepupu Cleo, ikut pelelangan manusia juga."
Kallen menikmati gerakan brutal Sadam kesekian kali, mencoba melepaskan diri. Jika berhasil, Kallen yakin Sadam akan menerjangnya lebih dahulu tanpa ampun.
"Kenapa día mangap-mangap kaya ikan terdampar, bukannya cairan itu cuma buat bisu setengah jam terus ini udah lewat." Iyan berdiri
di sisi Kallen bertanya heran.
Iyan selesai meretas CCTV pelabuhan paling penting memutuskan sambungan internet maka tidak ada satu orang pun mengadu bahwa kapal persiar berlayar dipaksa berhenti di tengah laut berakhir terjadi peristiwa mengerikan.
Tidak mau tertinggal sendirian di pelabuhan, Iyan setengah terpaksa ikut serta berlagak layaknya perompak seperti tujuh orang lainnya.
"Gue tambahin dosisnya, lima menit lagi dia udah bisa ngomong. Siap-siap telinga lo." Kallen mengangkat dagu Sadam sementara sebelah kaki Kallen di paha Sadam sengaja menekannya.
Garis wajah pria berumur dua puluh tiga tahun itu memerah karena kesakitan, tapi sorot mata menatap bengis Kallen, Iyan, dan terakhir sosok remaja tanggung tengah berjalan menghampiri dalam keadaan basah kuyup, air menetes dari
tubuh bercampur ceceran darah yang di lantai.
"Sempat-sempatnya lo renang. Sial, gue iri!" Kallen dengan kurang ajar memukul pelan kepala Cleo tiba di samping kirinya.
Cleo tersenyum tipis, meraih senapan di tangan Kallen. "Jangan bikin Kak Sada takut," ucap Cleo kalem. "Gue kecewa lo juga dalang dibalik bisnis ini, emang lo enggak kasian, Kak. Perempuan di sana harus jadi budak ************..."
Iyan berdecak, pengap mendengar basa-basiCleo sesekali di selip kata-kata manis. "Langsung tembak!" Iyan melangkah maju."Dia cuma anak presiden, itu pun nggak guna. Sembunyi di bawah ketek Tuan Arza apa yang harus di bangga, kan?" Iyan menyebut nama Papanya Cleo.
Cleo terdiam, pandangan mengarah pada sekumpulan perempuan di pojok kabin saat Cleo baru menginjakkan kaki di kapal, penampilan mereka amat mengganggu, namunsekarang sedikit berkurang.
"Mau menikmatinya, Rageswara?" Kallen berbisik sambil mengerling jahil, di balas oleh raut wajah datar Cleo yang segera membuang muka kemudian atau Kallen bersama segala pemikiran gilanya itu makin menjadi.
"DASAR BOCAH KEPARAT! BERHENTI BERMAIN-MAINNYA!" Seruan itu berhasil mengagetkan orang-orang di kabin.
Iyan paling dekat sontak termundur, mengusap kedua telinganya bergantian dibuat berdengung
hebat.
"Kamu!" Mendesis geram, telunjuk Sadam tertuju murka terhadap Cleo. "Kamu tahu, kan, Leo. Apa akibatnya berurusan sama saya." Tiga kata terakhir Sadam melanjutkan penuh peringatan.
Cleo berkedip bingung. "Belum tahu, kalau Kak sada baik hati... tolong beritahu sepupu kecilmu ini." Berbicara sopan, Cleo menundukkan kepala menyisakan dua jengkal jarak.
Bukannya tenang Sadam justru merasa jawaban Cleo adalah provokasi, hasrat Sadam untuk menampar pipi putih tersebut hingga hancur tidak mampu tercapai karena tangannya terikat kencang.
"Ka-"
Suara Sadam tertelan berganti tembakan yang lagi-lagi memekikkan telinga, kursi terjatuh secara bersamaan darah menggenang lebih banyak di lantai kabin.
"Berisik." Kallen memasukkan kembali pistolnya ke saku celana usai melubangi leher Sadam.
Cleo tercengang, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Melengos pergi menuju pojok, di mana perempuan berjumlah lima belas orang kompak meringkuk tambah gemetaran menyadari
kedatangan Cleo.
Sementara lyan sudah mengumpat kasar, menabok keras bahu Kallen berhasil mengantarkan Kallen meringis ngilu.
"Brengsek, seharusnya dia mati perlahan. Lo lupa pesan Luka." Iyan melirik Sadam yang agak mengenaskan, sebentar lagi kemungkinan tidak akan terbentuk sempurna. Sadam merenggang nyawa dengan kondisi mata terbuka lebar.
*******
Telapak tangan kecil Acasha basah berkeringat dingin, bibir Acasha memucat. Dia cemas setengah mati. Ini sudah dua hari berlalu semenjak kejadian itu.
Pertama kalinya mendapati Luka kesakitan yang membuat Acasha sulit melupakan adalah Luka tampak sangat kesulitan bernapas.
"Itu sudah menjadi hal biasa, Nona. Ketika Mas Luka melihat busur panah atau istal, Mas Luka akan terserang panic attack." Melly menjelaskan sabar.
Acasha sudah mendengar puluhan kali, tapi tetap saja dia tidak mampu tenang.
Kelopak mata Luka terpejam rapat bahkan untuk bernapas saja melalui ventilator. Apa memang se-parah itu? Sayangnya Acasha tak bisa bertanya banyak, tubuh ini ... sekedar sosok balita polos, tanpa mereka ketahui jiwa menempati memahami banyak hal.
"Kapan Ayah bangun?" Acasha bertanya serak, tidak puas hanya duduk Acasha memutuskan berdiri dari kursi sebelah brankar Luka, sedangkan Melly di belakang Acasha berjaga-jaga. "Aca minta maaf, mainan itu punya Aca. Sekarang mainannya udah rusak...."
Hening.
Air mata Acasha mengalir sembari meremas jemari pucat Luka, bahu Acasha bergetar. Acasha ingin Luka bangun.
"Narasea~"
Acasha tersentak, kala perasaan bersalah terasa mencekik satu suara teramat lirih sampai ke indra pendengar. Acasha melirik Melly yang bersiap menekan tombol, sebelum Melly menyentuhnya Acasha buru-buru menahan Melly dengan memeluk lengan Melly.
"Jangan." Acasha memandangi Luka yang bergerak gelisah dan terus menyebut Narasea. "Siapa Narasea dipanggil Ayah, Melly?"
"Tidak ada yang tahu siapa itu, Nona. Semua orang tidak mengenalnya bahkan Mas Luka sendiri yang selalu memanggil nama itu saja selalu kebingungan ketika minta di jelaskan," sahut Melly.
Acasha punya firasat jika bertanya serupa kepada orang-orang yang sangat mengenal Luka maka akan menjawab persis seperti pengasuhnya tersebut.