
Acasha tertawa. "Kenapa aku harus takut? Lima Ayah aku bahkan lebih parah sekaligus mengerikan daripada kamu, Yasa." Nada suara tertangkap geli sambil melirik tangan kanannya semakin di pegang erat oleh Yasa.
"Lanjutkan." Acasha bertopang dagu. Tersenyum tipis mempersilahkan Yasa kembali bicara.
"Selama empat hari, aku memakan apapun yang lewat di sekitarku untuk bertahan hidup." Tatapan Yasa lurus pada gadis di seberang.
Acasha menahan napas sejenak. "Nggak usah berbelit karena itu bukan kamu banget." Benak Acasha mulai menyimpulkan satu hal.
"Kamu pasti paham." Giliran Yasa yang tersenyum.
Acasha mengerjap. "Kamu bilang sebelumnya kamu di kurung mereka di gudang, kan? Berarti kamu maka..."
"Aku makan tikus dan kecoak." Yasa menyelansecara bersamaan Acasha melotot terkejut.
"Aku sangat kelaparan. Di hari ketiga terkurung, hujan beberapa jam yang bisa aku lakukan cuma mengeluarkan dua jari di lubang dinding, sudut gudang waktu itu." Yasa menggerakkan jari tengah dan jari manisnya. "Juga haus, tenggorokan rasanya kering beneran nggak nyaman."
"Ka... kamu serius?" Acasha bertanya tergagap di susul punggung mengigil, menilik kebohongan dalam iris jelaga tersebut pun sia-sia sebab terdapat kesungguhan di sana.
Bagaimana bisa Yasa terkesan tidak menunjukkan tanda bahwa mentalnya sakit. padahal Acasha sendiri termasuk orang yang peka apalagi didikan lima orang itu.
Bertahun-tahun lamanya, Acasha merasa tertipu.
"Iya. Kalau aku mati, kemungkinan kita udah nggak ketemu, satu kelas dulu. Untungnya aku bertahan." Ekspresi Yasa tidak terbebani mengutarakan.
Acasha bungkam, tak bergeser kala Yasa sudah beranjak lalu berpindah duduk di sebelah bangku betonnya.
Sama sekali tidak Acasha duga, Yasa tiba-tiba menyadarkan kepala di pundaknya. Tindakan Yasa teramat nekat tersebut, berdampak Acasha agak cemas kemudian.
"Kamu pengen di keroyok berjemaah?" Acasha berusaha mendorong kepala Yasa menjauh darinya.
Namun, Yasa justru menolak. Membisikkan kata sebentar membuat Acasha mau tak mau patuh. Semoga saja kebersamaan mereka yang terlalu dekat detik ini, tidak sampai ke telinga orang yang salah.
"Aku nggak punya siapa-siapa lagi." Yasa berbisik dengan jemari tetap saling merekat, mengangkat tepat ke depan wajah. "Tadinya aku mikir begitu, tapi setelah ingat kamu ternyata aku masih punya satu orang."
Sejujurnya Acasha payah dalam menghibur lewat kata-kata, jadi bibirnya hanya terkantup rapat.
"Acasha." Yasa memanggil seraya mengarahkan telunjuk ke arah pipi gadis berambut kepang itu, mengira jika Acasha tengah melamun.
Acasha terperangah. "Aku nggak mau kamu mati muda, makanya sekarang jauh-jauh dari aku." Biarkan Acasha yang bergerak kalau Yasa kukuh di posisinya.
Sepasang mata bundar Acasha mengitari sekitar. Taman belakang JHS lumayan sepi, hingga Acasha perlu menghela napas lega. Seiring itu Acasha berdiri berakhir Yasa menegakkan tubuh jangkungnya.
Berikutnya, Acasha sibuk membereskan meja nyaris penuh oleh bungkusan makanannya sendiri, Yasa, dan tiga temannya yang lain. Entah di mana keberadaan mereka, beberapa menit lalu kompak pergi ke kantin dengan alasan belum kenyang.
"Kenapa kamu ngotot sekolah? Padahal kaki kamu belum sembuh." Yasa mengamati kaki yang tidak lagi di balut perban, menyisakan luka kering samar berbentuk lingkaran yang telah di rawat.
"Bosan. Di rumah sepi." Acasha menyahut seadanya. Bungkusan makanan terakhir hendak Acasha masukkan ke plastik besar terhenti saat lengannya tahu-tahu di genggam.
"Acasha...." Yasa kembali memanggil. Intonasi suaranya lebih lembut, Acasha hampir mengira sebuah gumaman makanya dia sedikit menunduk kemudian. "Aku suka kamu, dimulai dua tahun lalu, dan ini bukan candaan," ujarnya.
Eh?!
Acasha sontak berkedip linglung.
Aku suka kamu.
Di mulai dua tahun lalu.
Dan ini bukan candaan.
Senyap.
Acasha yakin telinganya bahkan dapat menangkap dedaunan kering yang berjatuhan ke tanah. Menelan saliva, Acasha cepat-cepat membuang muka.
Mengigit sudut bibir, Acasha langsung dilanda gugup terlebih menemukan Yasa layaknya sedang menanti jawaban.
Segalanya terselamatkan sementara, ketika ponsel Acasha di sisi saku blazer berdering nyaring, dengan spontan Acasha melangkah mundur.
"Ayah bongsor nelpon, aku angkat dulu!" Gadis berpostur ramping itu tergelak kaku.
*******
"Jangan sampai wartawan, paparazi, siapapun manusia yang berani bicara sensitif di pernikahan saya nanti." Kallen mengangkat dagu, memandangi satu-satu sebagian bawahannya yang mengelilingi meja.
Mereka serempak mengangguk.
"Kalau itu terjadi seret keluar terus injak kepalanya." Kallen berujar datar, buku jari terkepal kuat yang kini tengah memeluk sang calon istri.
Kalana duduk di pangkuan Kallen sudah berlangsung hampir tiga puluh menit itu menepuk punggung tangan Kallen, mencoba menenangkan.
"Cukup seret keluar." Kalana berbisik halus. Baginya di hari pemberkatan pernikahan baik sebelum atau sesudah, Kalana harap tidak akan ada darah yang harus tumpah.
Pada akhirnya Kallen bergumam mengiyakan, kedua tangan Kallen semakin melingkar posesif di perut Kalana yang sedikit membuncit.
"Jujur sama aku, Kala. Kamu udah kasih aku mantra apa sampai-sampai aku bisa manut begini?" Jika Kallen tampak acuh tak acuh kelakuannya sebagai tontonan, lain halnya Kalana yang salah tingkah seketika.
Indra penglihat Kalana memang cacat, namun telinganya berfungsi sangat baik. Bunyi ketukan sepatu meski pelan sekaligus embusan napas orang-orang di ruangan ikut mengusik Kalana.
"Rapatnya udah selesai, kan? Aku lapar." Kalana berkata lirih, tatapan perempuan itu terkesan kosong dengan raut wajah memelas.
Di masa remaja bersama Kallen hingga beranjak dewasa, Kalana selalu dipanggil hewan peliharaan dulu, teramat minim menunjukkan air muka untuk mengetahui emosinya. Kalau pun ada, sekedar ketakutan.
Sekarang berbeda, perempuan manis itu di setiap saat menyempatkan memperlihatkan suasana hati berujung Kallen terhibur senang.
Terkekeh geli, Kallen membantu Kalana berdiri di sampingnya. "Sesuai keinginan kamu, Nyonya Tamara." Bibir ranum Kallen mencuri kesempatan mengecup leher Kalana.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕