
"Bikin dia nangis." Silver berujar tenang, pandangan lurus ke seberang jalan sosok mungil tengah melambai. "Kalau lo berhasil kita pulang sama-sama. Satu mobil." Dua kata terakhir Silver melanjutkan malas.
Terpaksa menuruti Grace asalkan dengan satu syarat, bahkan sebelumnya Silver melalui parkiran begitu saja hanya karena menjauhi Grace, tapi semuanya gagal.
"Itu gampang banget!" Grace tersenyum lebar tanpa membuang waktu berlari menuju target disusul Silver.
PLAK!
"GRACE!"
Silver terbelalak. Bukan itu yang Silver maksud, Silver lupa
bernapas beberapa detik memandangi kosong Grace yang meniup telapak tangan kemudian. "Udah, kan? Bikin anak kecil nangis guebjagonya, sayang." Grace mengerling genit.
"Nona!" Melly sigap berjongkok, perasaan Mellyncampur aduk seketika, jika di lihat lebih jelas badan wanita itu agak gemetar.
Topi Acasha sudah jatuh entah ke mana. Acasha sendiri masih tertegun, seumur hidup baru kalibini Acasha merasakan namanya kekerasan fisik.
Acasha akui.... meskipun lahir dari keluarga broken home di kehidupan pertama, orang tua saling melempar barang sekaligus mencaci satu sama lain, tidak pernah sekali pun Acasha jadi korban.
Anehnya mereka tidak bercerai padahal hubungan jauh tersemat kata sehat. Rumah baru akan tenang jika salah satu telah lelah atau terluka. Tiap Acasha menangkap basah, orang tuanyan kompak menyuruh masuk kamar bisa juga memberikan uang seadanya lalu menunjuk pintu rumah dengan Acasha pahami bahwa dirinya harus jajan. Acasha memukul pelan kepala, mencoba
menghentikan ingatan yang tak pantas untuk di kenang itu.
"Nona!" Melly membantu Acasha berdiri, lidah mendadak kelu berucap menyadari wajah sang balita basah oleh air mata.
Acasha mundur dengan bahu bergetar, sekarang dia tak ingin melihat siapapun. Belum sempat Acasha kembali masuk mobil tangan kanannya lebih dulu di cengkeram.
"Ver, anak pungut kam---"
PLAK!
BUGH!
Ucapan Grace tersendat karena Melly menonjok dagu lancip Grace usai mengeplak keras muka Grace.
Acasha melongo sesaat sementara Silver fokus menatap Acasha yang menangis sesenggukan lalu meremas dada kirinya tiba-tiba sesak.
Satu bulan lebih, baru kali ini Silver kembali menemukan balita itu terisak.
"Silver ...."
Silver menoleh ragu. Luka berjalan menghampiri di belakangnya Cleo, Kallen, dan Iyan membuntuti.
"Ka!" Cleo memanggil terkejut.
"Dua puluh." Pada akhirnya Luka meralat, seandainya Cleo tetap bungkam kemungkinan besar Luka menambahkan hukuman. Kallen dan Iyan mengetahui itu memilih diam.
Melly berdiri di sebelah Acasha sedikit menunduk dengan kehadiran Luka. Luka menyamakan posisinya pada Acasha.
"Kita pulang," bisik Luka, mengusap darah di sudut bibir bawah Acasha.
*******
"Ayah." Acasha menepuk dahi Luka, tanpa sadar Luka tertidur setelah berbaring diam di ranjang Acasha mengamati Acasha yang diobati Melly beberapa menit lalu.
Sementara Melly pergi menemui koki Mansion memberitahu Tuan muda itu sudah pulang.
"Tidurnya di kamar Ayah, ini tempat aku." Acasha dengan kurang ajar mendorong badan Luka yang mengusai kasurnya.
Namun, Luka tidak menunjukkan tanda-tanda bergerak sedikit pun justru tangan Luka menggapai tubuh mungil Acasha.
Acasha menyerah membiarkan Luka memeluknya.
"Gara-gara penyihir itu aku gak bisa minum." Acasha bergumam polos.
"Grace." Luka menyingkirkan poni Acasha. Acasha mulai terbiasa di tiap kesempatan Luka akan memainkan rambut poninya. Acasha mana peduli nama gadis itu, mulai detik ini dia memanggil gadis yang beraninmemukulnya penyihir. Lagi pula rupa gadis itu benar-benar mirip penyihir.
"Pedih, ada yang nyut-nyutan pas minum." Acasha menunjuk bekas pipi yang ditampar.
"Nanti bakal gue balas." Luka menatap langit-langit kamar yang tergantung dreamcatcher. "Melly udah pukul penyihirnya jadi gak perlu, Ayah." Jemari kecil Acasha terulur penasaran membelai hidung Luka. Demi apapun mancung sekali.
"Kenapa Kakek dan Nenek belum pulang, mereka di mana?" Bersama Luka maka Acasha harus banyak bicara lama-kelamaan Acasha tak suka keheningan.
Luka mengerutkan kening dan Acasha sedikit gugup semoga saja dirinya tidak salah ngomong. Acasha terlalu lancang kali ini memanggil orang tua Luka dengan sebutan Kakek-Nenek padahal sekali pun belum bertatap muka.
Luka pernah menjanjikan saat itu tiba-tiba batal karena katanya mereka masih sibuk.
"Luar kota," sahutnya lempeng. "Secepatnya. beneran pulang, kalau mereka tetap keras kepala gue seret paksa Papa otomatis Mama juga ikut." Luka terkekeh geli membuat Acasha ngeri membayangkan jika Luka benar-benar melakukannya.
"Ayah, aku bosan di rumah terus." Acasha cemberut, intinya dia membutuhkan liburan.
"Sekolah satu-satunya biar nggak bosan." Luka menyimpulkan hal lain yang sukses mengantarkan Acasha kaget.